IVF # 3 : The End

Hai semua. Maaf karena saya sudah jarang update blog. Selain karena sibuk bikin kue dan olahraga, saya juga butuh waktu untuk menenangkan pikiran dan mengembalikan kondisi mental seperti sedia kala. Saya tidak mau menulis blog dalam kondisi gundah gulana yang pada akhirnya membuat tulisan ini jadi curhat tak berujung.

Menyambung dari tulisan sebelumnya tentang IVF ke-3, saya berjanji untuk menuliskan hasilnya disini. Tanpa perlu berbasa-basi, tentu saja hasilnya as predicted adalah negatif alias gagal (lagi). Saya sangat yakin bahwa faktor kegagalan ini disebabkan karena faktor embryo yang poor quality. Tapi, don’t get me wrong, poor embryo quality tidak selalu berakhir dengan kegagalan seperti kasus saya. Ada juga poor quality embryo yang berhasil menempel di rahim dan berujung dengan kehamilan walaupun presentase-nya tidak banyak. Kasus seperti itu bisa dibilang suatu keajaiban dimana semua terjadi atas kehendak-Nya.

Walaupun sedih, tapi entah kenapa saya juga merasa lega. Saya pikir walaupun ada keajaiban bahwa poor quality embryo itu bisa menempel di rahim saya dan get me pregnant, tapi bisa jadi kehamilan tersebut berujung dengan resiko kesehatan seperti janin yang cacat ataupun keguguran. Mungkin Yang Kuasa masih melindungi saya dari hal-hal yang lebih menyakitkan di kemudian hari. I don’t know what exactly His plan to my life. 

Sesuai komitmen saya dan suami bahwa IVF ke-3 ini akan menjadi program hamil terakhir kami, maka ini adalah sharing saya terakhir tentang IVF dan juga program hamil di blog ini. Dengan tulisan ini juga saya ingin sedikit mengedukasi para pembaca tentang IVF yang disebutkan sebagai senjata pamungkas untuk masalah infertilitas. Sebagai orang yang berjuang dengan masalah infertilitas, sering kali kita disuguhkan tentang success story tentang IVF yang membuat kita juga ingin mencobanya. Tapi perlu kita ingat juga bahwa menjalani IVF tidak ada jaminan keberhasilannya. Ada juga kasus-kasus kegagalan seperti saya, hanya saja orang-orang tersebut cenderung memilih untuk menutup diri dan tidak mau ter-expose dengan kasus kegagalannya. Tentu saja alasannya adalah malu dan memang tidak semua orang akan memahami situasi yang mereka jalani. Jadi dengan tulisan ini saya berharap dengan semua yang sedang atau akan menjalani IVF untuk tetap menjadi realistis. Anything can be happened, prepare yourself for the worst case. 

Untuk teman-teman diluar sana yang mengalami nasib serupa, I feel you. Betapa frustasinya saat kita dihadapkan pada kegagalan berulang kali. Apalagi kegagalan ini terjadi pada aspek paling mendasar dalam kehidupan makhluk hidup, yaitu berkembang biak. Jujur saja, awalnya saya pun down dan merasa “cacat”. Apalagi kadang saya membaca komentar di social media yang menyudutkan bahwa seseorang baru bisa disebut sebagai wanita apabila dia bisa melahirkan dan menyusui anak. Kalau demikian adanya, lalu apakah saya ini yang tidak bisa hamil, melahirkan dan menyusui? Seorang pria kah? atau waria (wanita pria alias banci)? Sungguh konyol sekali menurut saya pernyataan demikian. Seakan-akan nilai seorang wanita hanya diukur dari melahirkan dan menyusui saja. Berarti kucing betina pun bisa disebut sebagai wanita kalau dengan definisi demikian. Hahaha.

Sekarang ini, saya tidak lagi melihat diri saya sebagai wanita yang “cacat” tapi saya adalah salah satu orang terpilih untuk menjalani kehidupan yang “special” ini. Because He knows that I’m strong enough. Seberat apapun hidup yang saya jalani, saya tidak pernah kabur, apalagi niatan bunuh diri. Menurut saya, masih banyak yang bisa saya syukuri dari kehidupan saya ini dibandingkan hanya fokus pada apa yang tidak bisa saya miliki.

Pada kesempatan ini juga saya ingin berterima kasih pada orang-orang yang berjasa dalam hidup saya, terutama saat saya berjuang dengan masalah infertilitas ini:

  1. Pak suami
    Pasangan hidup terbaik dan hadiah terindah dalam hidup saya. Orang yang selalu setia dan selalu ada saat saya membutuhkannya. Mencintai saya apa adanya dan sudah teruji dengan segala up and down dalam pernikahan kami. Terima kasih untuk support-nya secara finansial dan juga mental dalam segala proses program hamil yang telah kita ikuti. Semoga kelak rejeki yang hilang bisa digantikan berkali lipat ya. I love you!
  2. Keluarga (Orang tua dan saudara kandung)
    Tempat saya selalu kembali dalam keadaan terpuruk. Orang-orang yang menerima saya dengan segala kekurangan saya. Tidak menghakimi saya sekalipun tentang masalah infertilitas. Terima kasih untuk segala doa dan support-nya secara mental. Mungkin segala doa dari kalian belumlah terwujud untuk saya, tapi mungkin Dia ada rencana yang lebih baik untuk saya.
  3. My little embryos
    Selama 3 kali IVF, total ada 7 embryos yang ditanamkan didalam rahim saya dengan berbagai grade kualitas. Terima kasih sudah menemani selama 2 minggu. Proses yang sangat singkat tapi patut untuk dikenang. Walaupun kita tidak berjodoh di dunia ini, semoga kalian bisa terlahir di tempat yang lebih baik ya.

Selama 7 tahun pernikahan, saya sangat terfokus dalam mengejar keinginan untuk memiliki anak. Sampai saya tak sadar bahwa banyak hal yang telah saya korbankan untuk itu. Dua diantaranya adalah karir kantoran saya dan bisnis kue Liz kitchen. Saat ini sudah terlambat bagi saya untuk mengejar karir kantoran kembali karena faktor usia dan minimnya pengalaman kerja setelah vakum 7 tahun. Jadi saat ini, saya mau fokus ke hal-hal yang bermanfaat untuk self improvement seperti mulai ikut seminar, training, course dan lain-lain. Selain untuk menambah skill juga bisa untuk menambah teman baru. Selain itu, saya dan suami juga mulai menabung kembali untuk agenda travel kami. Semoga tiap tahun bisa travel to a new place and making memories together.

Soal anak, walaupun sudah tidak menjadi fokus dari saya dan suami, kami tetap menginginkannya. Hanya saja jalan mendapatkannya mungkin bukan dari kehamilan sendiri tapi lewat proses adopsi. Rencananya mulai tahun depan, saya akan mulai cari-cari info adopsi. Sekarang ini saya dan suami lagi memantapkan hati bahwa adopsi adalah hal yang kami inginkan dan terbaik untuk kami sambil menyicil persiapan dokumen yang dibutuhkan. Saya tidak mau adopsi hanya jadi sekedar pelarian dari masalah yang ada. Anak adopsi juga berhak untuk mendapat cinta yang sama dengan anak kandung. Mudahan saja saya bisa berjodoh dengan anak adopsi yang baik kelak.

Sekian sharing terakhir saya soal IVF dan program hamil. Setelah melalui 3 kali inseminasi (IUI) dan 3 kali bayi tabung (IVF) yang gagal, ini saatnya saya move on. Good luck untuk teman-teman IVF warrior dan pejuang dua garis diluar sana!

 

8 pemikiran pada “IVF # 3 : The End

  1. Thank you very much for your enormous courage and bravery in sharing your story. You may not realize it, and we may not know each other, but this means a lot to me. Thank you once again and good luck for your future 😊

    Suka

  2. big hug buat mbanya…
    makasih banget buat sharingnya, aku baca blog TTC nya satu per satu…
    kasusku sama, amh ku rendah, hasil lab 0.8. usiaku 35 tahun. Klo boleh tau, hasil cek FSH mba nya berapa?

    Suka

    • Halo Mba Lia,
      Maaf ya baru sempat reply sekarang. FSH terakhir cek di Desember 2018 nilainya 8,7 mIU/ml dan LH 3,2 mIU/ml. Gimana progress TTC Mba Lia sejauh ini? Kalo aku kayaknya lebih berserah aja sih Mba sama Yang Diatas, udah ga terlalu mau program-program lagi, hehe.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s