Pregnancy # 2: Trimester 2 (14 – 27 Weeks)

Setelah membahas topik-topik yang lain, saatnya sekarang kita kembali ke cerita kehamilan. Hehehe. Saat ini usia kehamilan saya sudah memasuki usia 29 weeks alias masuk ke Trimester 3. Jadi saatnya saya sharing cerita tentang Trimester 2.

Banyak yang bilang Trimester 2 adalah saat yang paling menyenangkan selama kehamilan. Mual dan muntah (morning sickness) sudah hampir hilang saat ini. Kemudian kondisi perut Ibu belum terlalu besar sehingga ibu hamil punya lebih banyak energi untuk beraktivitas. Hal tersebut bisa jadi benar bagi sebagian besar ibu hamil yang selama kehamilannya lancar tidak ada masalah. Bagi saya yang pernah punya pengalaman hamil dengan janin tidak berkembang (sampai week ke-7) dan tidak ada detak jantung, tetap saja di Trimester 2 ini saya masih parno, hehehe. Ketakutan terbesar saya adalah detak jantung janin tiba-tiba berhenti. Duh, amit-amit ya.

Ketakutan saya baru sedikit reda ketika saya sudah bisa merasakan gerakan janin di dalam perut. Setiap janin gerak saya jadi lega mengetahui bahwa dia baik-baik saja. Tapi, jangan salah, ada juga masa-masa dimana gerakan janin jadi sedikit berkurang karena dia tidur atau posisinya membelakangi perut ibunya. Saat-saat demikian tidak jarang bikin ketakutan saya muncul lagi dan bisa bikin saya nangis. Untungnya pak suami selalu ada untuk saya (karena dia masih WFH / Work From Home) dan bisa menenangkan saya.

Untuk jadwal kontrol dokter di Trimester 2 sebenarnya bisa dilakukan 1 bulan sekali karena resiko keguguran sudah kecil sekali. Tetapi bagi saya yang cenderung parno, jadwal ke dokter saya set 2-3 minggu sekali. Pada saat ini saya sudah menentukan pilihan dokter dan rumah sakit untuk lahiran nantinya. Jadi saya fokus kontrol dengan satu dokter saja, bukan 3 dokter lagi seperti halnya waktu di Trimester 1.

Walaupun selama Trimester 2 saya merasa punya energi lebih banyak, saya tetap membatasi kegiatan saya supaya tidak terlalu capek. Pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyapu dan mengepel masih sesekali saya lakukan. Tapi untuk urusan mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi dan angkat-angkat benda berat saya serahkan ke pak suami. Olahraga hanya kalau rajin saja, itupun hanya jalan kaki seminggu sekali seputaran kompleks rumah. Hahaha.

Ada momen paling melelahkan yang terjadi ketika Trimester 2 ini, yaitu saya harus pindahan dari apartemen ke rumah kontrakan yang baru. Urusan packing dan unpacking bikin saya kehilangan berat badan 1 kg. Saya sempat khawatir dengan kondisi janin saat itu, apakah dia bisa bertambah berat badannya sesuai grafik normal kalau saya sendiri turun berat badannya? Untung saja, hasil USG dokter menunjukkan hasil yang baik. Janin dalam kondisi sehat dan bertumbuh normal.

Trimester 2 juga saya manfaatkan untuk pulang ke Tangerang bersama pak suami. Kami harus mengurus beberapa urusan administrasi yang tidak bisa diwakilkan serta harus mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan untuk membuat akte lahir anak bayi kelak di Batam. Saat itu adalah pertamanya saya naik pesawat dalam keadaan hamil. Ceritanya sudah saya tulis sebelumnya di blog ini. Untungnya janin bisa bekerja sama dengan baik dan aktif bergerak sehingga saya tidak terlalu khawatir saat di perjalanan.

Untuk vitamin prenatal masih sama seperti sebelumnya, yaitu:
– Ascardia 80 mg 1 x 1 hari
– Inbion (untuk suplementasi zat besi) 1 x 1 hari
– Vitamin D3 1.000 IU 1 x 1 hari
– Inlacta DHA (suplemen Omega 3) 1 x 1 hari
– Hi-Bone / Ossovit (suplemen kalsium) 1 x 1 hari
Untuk suplemen kalsium, saya sering kelupaan atau malas minum (jangan ditiru), tapi sebagai gantinya saya rajin minum susu 1-2 gelas tiap hari.

Saat memasuki Trimester 2, saya menyadari bahwa rambut saya jadi tambah tebal dan jarang rontok. Kuku pun jadi lebih cepat panjang. Thanks to pregnancy hormones! Tapi, sebagian kulit saya mengalami pigmentasi jadi kehitaman di area leher, ketiak, selangkangan dan areola. Untuk masalah pigmentasi kulit, saya tidak berani penggunakan krim aneh-aneh dengan embel-embel pencerah atau pemutih. Takut akan berefek ke perkembangan janin. Jadi saya terima dengan lapang dada saja. Urusan memutihkan kulitnya nanti saja setelah anak bayi lahir. Hehehe.

15 Weeks

Saya kontrol ke dokter Dezarino sekalian USG 4D dan detail screening. Pada usia kehamilan begini, USG 4D tidak bertujuan untuk melihat foto muka janin karena dia masih terlalu kecil, bahkan mukanya juga masih tirus, belum ada baby fat, hehe. USG 4D disini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih detail tentang organ-organ dan pertumbuhan janin. Dari hasil pemeriksaan janin, tidak ditemukan tanda-tanda kelainan dan pertumbuhannya dalam grafik normal.

USG 4D saat 15 Weeks

18 Weeks

Kali ini saya kontrol ke dokter Herman untuk USG 2D. Hasil USG semua dalam kondisi baik dan sehat. Pada usia kehamilan sekitar 18-19 weeks, untuk pertama kalinya saya merasakan gerakan janin. Rasanya seperti ada gas lewat di perut bawah, padahal tidak sedang berasa kembung perutnya saat itu. Tapi gerakan ini masih tidak konsisten terjadi setiap hari. Mostly baru akan terasa kalau saya tiduran terlentang. Itu juga masih sesekali saja munculnya.

20 Weeks

Mulai dari usia kehamilan 20 weeks, saya dan suami memutuskan untuk kontrol ke satu dokter saja, yaitu dokter Dezarino. Alasannya beliau kalau USG lebih detail dan mau meladeni pertanyaan pasien dengan sabar. Hasil USG menunjukkan semua dalam keadaan baik. Berat janin saat ini 381 gram.

USG 4D saat 20 Weeks

Pada tahap ini, saya mulai belajar untuk tidur dominan miring ke kiri. Dari yang saya baca-baca, posisi tidur ibu hamil yang direkomendasikan adalah miring ke kiri. Ibu hamil tidak disarankan untuk tidur terlentang karena akan mengganggu peredaran darah ke janin. Menurut dokter Dezarino, hal ini sebetulnya belum perlu kecuali janin sudah besar (berat diatas 1 kg). Tapi, sebagai orang yang tidur suka terlentang dan miring kanan, saya merasa perlu latihan dari sekarang supaya kelak saat dibutuhkan hal ini sudah jadi habit. Ternyata tidak gampang lho tidur dominan miring kiri. Saya jadi pegal-pegal dan tidurnya tidak nyenyak. Baru mendingan setelah saya selingi dengan sesekali miring ke kanan. Yang penting tidurnya tidak terlentang saja.

Beberapa blog atau website menyarankan menggunakan maternity pillow untuk membantu postur tidur ibu hamil yang lebih baik sehingga meminimalkan pegal-pegal. Tapi, saya tidak menggunakan maternity pillow dengan alasan sayang duit. Hahaha. Penggunaannya singkat, hanya sampai sebelum lahiran (berarti penggunaan kurang dari 6 bulan). Ditambah bentuknya yang lumayan bulky sehingga menghabiskan space di ranjang. Jadi saya pakai bantal guling biasa saja untuk miring kiri dan kanan. Atur sendiri posisi yang nyaman bagaimana. Lama-lama jadi terbiasa sendiri kok.

22 Weeks

Saya dan suami sibuk pindahan dari apartemen ke rumah kontrakan yang baru.

23 Weeks

Saatnya kontrol dokter lagi. Kali ini kami melakukan USG 4D dan detail screening, sekalian untuk minta surat keterangan dokter supaya bisa naik pesawat terbang ke Jakarta. Saya harus memastikan bahwa janin dan kondisi kehamilan saya dalam kondisi sehat sebelum terbang. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan kondisi kehamilan saya sehat dan tidak ada komplikasi sehingga layak untuk terbang. Berat janin saat ini sudah 692 gram. Karena kehamilan saya baik-baik saja, dokter pun tidak meresepkan obat apa-apa untuk bekal terbang nanti.

Saya disuruh dokter untuk melakukan pemeriksaan darah guna mengecek beberapa parameter. Hasilnya harus dibawa saat kontrol berikutnya ke dokter Dezarino. Untuk pemeriksaan darah, tidak perlu melakukan puasa sebelumnya.

Gerakan janin sudah lebih konsisten sekarang. Sudah mulai banyak tendangan dan gerakan berputar. Rasanya di perut bawah seperti dikelitik-kelitik. Masih santai dan belum terasa sakit gerakannya karena janin belum terlalu besar.

24 Weeks

Saya dan suami naik pesawat dari Batam ke Tangerang untuk mengurus beberapa hal penting. Cerita detail tentang ini sudah pernah saya tulis di blog sebelumnya.

25 Weeks

Saya dan suami berkunjung ke RS Omni Alam Sutera untuk kontrol ke dokter Handojo. Kami harus mengecek keadaan janin dan kehamilan sebelum terbang kembali ke Batam. Tidak lupa juga sekalian meminta surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa saya layak terbang. Hasil pemeriksaan USG bagus dan sehat. Berat janin sudah 808 gram. Posisi janin dalam keadaan sungsang (breech) dan lehernya terlilit tali pusar 1 kali. Tapi, dokter Handojo meyakinkan saya bahwa kondisi ini adalah wajar. Janin masih akan sering berputar sampai nanti mendekati 36 weeks. Lilitan tali pusar juga tidak perlu dikhawatirkan karena dari hasil cek USG, aliran darah dan nutrisi di tali pusar masih lancar. Hanya saja, dokter berpesan kalau nanti mendekati lahiran ada lilitan tali pusar 2 kali di leher janin, jangan pernah ambil resiko untuk lahiran normal. Lebih disarankan untuk caesar saja.

26 Weeks

Kembali kontrol ke dokter Dezarino dengan membawa hasil laboratorium pemeriksaan darah. Untuk test anti HIV (deteksi penyakit AIDS), HbsAg (deteksi penyakit Hepatitis B), VDRL/RPR dan TPHA (deteksi penyakit menular seksual seperti Syphillis) hasilnya semua non reaktif. Pemeriksaan gula darah sewaktu (deteksi gestational diabetes) juga masih dalam kisaran normal. Permasalahannya ada pada hasil pemeriksaan Hematologi Rutin, dimana beberapa parameternya cukup tinggi:
– Hemoglobin: 16,6 g/dL (Nilai rujukan: 11,7 – 15,5 g/dL)
– Hematokrit: 50,7 % (Nilai rujukan: 35 – 47 %)
– Eritrosit: 6,12 x 10^6/uL (Nilai rujukan: 3,8 – 5,2 x 10^6/uL)
– RDW-CV: 15,3 % (Nilai rujukan: 11,5 – 14,5 %)

Kesimpulan dokter Dezarino tentang hasil pemeriksaan darah tersebut adalah darah saya kental. Padahal saya sudah minum pengencer darah dengan rutin setiap hari. Tapi, konon semakin besar usia kehamilan biasanya darah Ibu akan semakin kental. Dokter Dezarino mengatakan bahwa saya belum perlu menaikkan dosis pengencer darah yang saya minum. Nanti hasil darah ini akan diulang kembali bulan depan atau jelang persalinan. Beliau menyarankan setelah lahiran saya harus konsul ke dokter Hematolog atau Spesialis Penyakit Dalam. Hiks. Mudahan saja semua ini karena bawaan hamil, bukan karena ada apa-apa. Saya juga harus menjaga tubuh saya supaya tetap terhidrasi dengan baik dengan banyak minum air putih.

Hasil USG menyatakan bahwa kondisi janin dalam keadaan sehat dan baik. Beratnya sudah mencapai 1.236 gram (1,2 kg). Lilitan tali pusar sudah tidak terdeteksi lagi di lehernya. So happy to hear that.

Pada akhir Trimester 2, saya masih belum melakukan persiapan apa-apa terkait belanja keperluan bayi saat dia lahir nanti (karena kata orang tua masih pamali). Rencananya saya baru akan belanja-belanja saat usia kehamilan diatas 30 weeks. Semoga saja kehamilan ini dilancarkan dan anak saya bisa lahir selamat cukup bulan.

5 pemikiran pada “Pregnancy # 2: Trimester 2 (14 – 27 Weeks)

  1. Haloo ce, haha sy tertawa baca cerita ce yg suka parno. Bukan tawain ce, tp sy ingat sy sendiri parno parah waktu hamil.
    Selama hamil dari awal sampe lahirin, sy gk mual muntah sama sekali. Sy jd takut. Karna sy pernah baca klo mual muntah justru bagus katany hormon hcg tinggi. Sy tanya ke dok, dok blg gpp donk malah bagus kamu gk mual, bisa makan banyak. Sy tetap aja kuatir. Malah sy tanya juga di acara metro tv, pas ada acara seputar kehamilan. Kata dok yg jd narasumber waktu itu katany 12 weeks pasti mual. Itu puncak. Sy tunggu ampe 12 weeks gk mual juga.
    Tentang tidur telentang, malah selama hamil sy tidur terlentang terus. Gk bisa tidur miring, perut jd tertarik.
    Sy pikir literatur perlu disesuaikan dgn kondisi masing2.
    Ntar dalam proses asuh anak juga bakal banyak nemuin klo gk selalu sesuai dgn literatur.
    Selamat ce uda masuk trimester 3. Sehat selalu.

    Suka

    • Saya juga pas TM1 ga mual muntah.. tapi ga parno masalah itu karena rajin usg ke dokter dan kehamilannya baik2 aja. Hehe. Paling parno tuh tentang masalah detak jantung janin sih. Hahaha. Ga kebayang hamil 9 bulanan isinya parno mulu..
      Tentang posisi terlentang saya jg masih kadang2.. tapi biasanya bentar2 aja. Mostly miring kiri sih dan diselingi miring kanan. Ini anaknya klo mamanya baring terlentang hebohnya bukan main, tapi begitu miring kiri dia agak sepi, jd mamanya lbh tenang utk tidur krn kurang terasa tendangan bayinya, hahaha.

      Suka

      • Iyaa ce. 9 bulan was2 trs. Maklum, kita dapatnya gak mudah. Waktu itu malah ada yg blg sy hamil kok lebay. Sy diam aja, karna dia gak rasain gimana setelah bertahun2 merid br hamil. Dia gak ngerti air mata saat berdoa, dan bahagia nya saat akhirnya bisa hamil.
        Yg penting kita tau apa yg baik buat kehamilan kita, karna kita adalah seorang mama. ^^

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s