Pregnancy # 2: Trimester 1 (1 – 13 weeks)

Tulisan ini adalah late post ya. Saat ini usia kandungan saya sudah memasuki 5 bulan (Trimester 2). Rencananya kisah tiap trimester akan saya buat tulisan tersendiri. Tujuan saya menulis tentang kehamilan ini adalah untuk kenang-kenangan dan juga berbagi informasi bagi yang membutuhkan.

4 weeks 3 days

Saat itulah saya mengetahui saya hamil setelah melihat 2 garis merah yang ada di test pack (uji strips kehamilan). Walaupun sudah confirmed by test pack, saya tidak mau gegabah menyebarkan kabar ini kepada orang lain (bahkan orang tua saya sekalipun). Satu-satunya orang yang saya beri tahu hanya pak suami. Kenapa saya tidak mau berbagi kabar dulu pada saat ini? Berikut adalah alasannya:
– Belum confirmed by USG di dokter kandungan
– Tanda positif pada test pack juga belum berarti hamil benaran. Bisa jadi hamil yang dialami berupa kelainan kehamilan: kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan), hamil anggur / mola (kelainan pembelahan sel embryo sehingga berbentuk seperti anggur), atau bahkan sekedar hamil kosong / blighted ovum (hanya ada kantung hamil dan tidak ada embryo-nya)

Saya sendiri tidak mengalami gejala hamil spesifik. Gejala hamil yang saya miliki adalah sedikit mual (tapi tidak pernah sampai muntah), selera makan berubah (agak mual dengan makanan yang berbau tajam), badan serasa meriang (tapi kalau diukur pakai termometer belum termasuk kategori demam), jerawatan sekitar mulut dan dagu, payudara nyeri, sering haus dan ngantuk. Oh ya, satu lagi, perasaan saya jadi lebih sensitif dan gampang nangis karena terharu atau sedih. Padahal aslinya saya orang yang lempeng-lempeng saja. Nonton film drama yang sedih-sedih saja tetap datar kok biasanya. Hahaha.

Saya memilih menunggu beberapa minggu ke depan untuk cek ke dokter kandungan karena saya tahu pada saat ini di USG hanya akan terlihat kantung hamil saja. Embryo baru akan terlihat setelah 6 weeks.

Selama masa menunggu ke dokter kandungan, saya contact ke salah satu suster di FFC (Family Fertility Center) yang tahu tentang riwayat saya karena 2 kali IVF dan terakhir kuret hamil disana. Saya tanya, sebaiknya saya minum vitamin apa saja sebelum ke dokter. Beliau menyebutkan untuk pasien IVF yang positif hamil di FFC, biasanya akan diberi vitamin berikut:
– Ascardia 80 mg (pengencer darah) 1 x 1 hari
– Vitamin D 1.000 IU 2 x 1 hari
– Asam Folat 1.000 mcg 1 x 1 hari
– Duphaston 10 mg (penguat kandungan yang isinya progesteron sintetik) 2 x 1 hari
– tambahan suntik penguat kandungan dan obat yang dimasukkan via vagina
Tapi, dikarenakan saya hamil secara alami, bukan IVF, jadi vitamin yang saya minum setelah tahu saya hamil adalah:
– Ascardia 80 mg 1 x 1 hari
– Vitamin D3 1.000 IU 1 x 1 hari
– Asam Folat 400 mcg 1 x 1 hari
– Duphaston 10 mg 1 x 1 hari
Kenapa dosisnya saya kurangi sendiri? Untuk asam folat dan vitamin D3 sebenarnya sudah saya minum secara rutin dari 6 bulan yang lalu sebelum hamil yang sekarang ini, sewaktu saya masih rajin ikut program hamil IVF. Jadi saya yakin jumlahnya pasti sudah terakumulasi dalam tubuh saya dan mencukupi untuk pertumbuhan janin, sehingga saya minum dosis tersebut untuk maintain saja. Lagipula dosis asam folat yang direkomendasikan untuk ibu hamil konon hanya 400 – 600 mcg setiap harinya. Untuk Duphaston saya masih ragu minum sesuai dosis yang dianjurkan karena ada efek samping bikin tambah mual dan gatal-gatal kulit. Jadi amannya saya cuma minum 1 x 1 hari saja. Hehehe.

Selain vitamin tersebut, saya juga ada minum susu hamil Prenagen Mommy 1 gelas 1 hari. Tapi, entah kenapa bawaan minum susu ini jadi agak eneg kalau di saya. Saya tetap minum susu hamil ini sampai usia kandungan 8 weeks. Setelah itu, saya ganti versi Prenagen Mommy UHT yang rasana menurut saya lebih enak dan praktis. Hahaha.

Selama hamil muda yang masih rentan keguguran, saya menghindari pekerjaan rumah dulu. Saya tidak masak dan ikut catering saja. Urusan sikat dan bersihkan kamar mandi diserahkan ke pak suami. Saya masih kadang-kadang sapu dan pel rumah dan nyuci baju. Pokoknya benar-benar jaga diri dan tahu batas kemampuan sendiri. Saya juga tidak melakukan olahraga apapun sampai dokter memperbolehkannya.

6 weeks

Kunjungan pertama saya ke dokter kandungan yang ada di Batam. Saat itu saya memilih dokter Herman yang praktek di Klinik Kimia Farma (Kampung Utama – Nagoya). Berat badan saya diukur saat itu 65,5 kg. Dari hasil USG dengan Beliau, saya dinyatakan hamil: Ada perlekatan di dinding rahim, kantung hamil terlihat dengan adanya embryo dan yolk sac di dalamnya. Saat itu masih terlalu dini untuk memeriksa denyut jantung janin jadi saya disuruh kembali lagi dalam 2 minggu. Saya menceritakan kepada dokter Herman tentang riwayat kehamilan saya yang pertama dengan janin tidak berkembang, menurut Beliau biasanya obat yang diberikan untuk pasien dengan riwayat janin tidak berkembang adalah pengencer darah seperti Ascardia. Untung saja saya sudah minum Ascardia sedari awal ketika tahu hamil. Ascardia menurut dokter Herman harus terus diminum sampai dengan usia kehamilan 7 bulan.

Oleh dokter Herman, saya diresepkan: Asam folat 400 mcg, Ascardia 80 mg 1 x 1 hari, dan Duphaston 10 mg 1 x 1 hari. Obat-obatan ini sama persis dengan yang sudah saya minum dari awal hamil. Saya bertanya tentang konsumsi vitamin D3 dan Beliau mengizinkan saya untuk terus mengkonsumsinya.

8 weeks

Kembali lagi ke dokter Herman untuk cek USG janin. Saat ditimbang, berat badan saya sudah naik jadi 66 kg. Karena saya hamilnya tidak ada muntah-muntah, selera makan saya masih terjaga sehingga tidak susah untuk naik berat badannya. Saya sangat bersyukur hamil ini tidak menyusahkan, sepertinya anak ini tahu kalau mommy-nya ada di tanah rantau dan tidak ada keluarga yang bisa diandalkan. Pada saat ini, jerawat saya di mulut dan dagu sudah mereda padahal saya tidak melakukan treatment apa-apa. Memang sepertinya jerawatan waktu itu adalah karena hormon.

Saat USG dengan dokter sebetulnya saya deg-deg-an sekali, takut kasus kehamilan pertama saya terulang lagi (tidak ada denyut jantung janin). Tapi, hasil USG menyatakan detak jantung anak saya ada dan normal. Bunyi detak jantung itu membuat saya lega sekali dan saya jadi menangis terharu karenanya (blame it to pregnancy hormones sehingga jadi agak lebay begini).

Dokter Herman meminta saya untuk melakukan pemeriksaan Tiroid karena beliau melihat leher saya agak bengkak. Sebenarnya saya sih merasa leher saya jadi agak membesar karena pengaruh kenaikan berat badan, tapi tidak ada salahnya juga untuk menuruti apa kata dokter demi perkembangan anak. Dari hasil artikel yang saya baca, hormon tiroid dalam kehamilan sangat dibutuhkan untuk perkembangan janin karena sebelum usia 12 weeks, janin masih mengandalkan hormon Tiroid Ibunya dan belum bisa memproduksinya sendiri. Dokter memberikan saya surat pengantar laboratorium untuk pemeriksaan beberapa parameter Tiroid: FT4, TSHs, T3 (Total) dan T4 (Total).

Sepulangnya dari dokter, saya dan suami baru memberitakan tentang kehamilan ini kepada keluarga kami. Itupun hanya keluarga inti saja (orang tua dan saudara kandung). Tujuan kami sharing ke keluarga adalah supaya semakin banyak orang yang akan mendoakan anak kami supaya dia selalu sehat sampai lahiran nanti.

Keesokan harinya, saya pergi ke laboratorium klinik Prodia Batam untuk melakukan pemeriksaan Tiroid. Tidak perlu puasa makan atau minum dulu sebelumnya. Sampel darah saya diambil dan dikirim ke laboratorium di Jakarta karena di Prodia Batam tidak ada alat test-nya. Total harga yang harus saya bayar untuk pemeriksaan 4 parameter Tiroid adalah sekitar Rp. 1,3 Juta. Hasilnya akan diinfokan 3 hari kemudian. Untungnya hasil pemeriksaan semua parameter tersebut menunjukkan level Tiroid saya dalam batas normal.

10 weeks

Karena level ketakutan saya akan kegagalan kehamilan sebelumnya, saya dan suami memutuskan akan rajin kontrol ke dokter kandungan 2 minggu sekali. Sebelumnya saya sudah baca-baca banyak artikel, bahwa USG tidak menimbulkan efek negatif terhadap janin, jadi mau dilakukan sering-sering juga tidak masalah. Hanya saja memang bikin kantong jadi kempes kalau keseringan. Hahaha. Untungnya, harga USG 2D di Batam tidak semahal di Jakarta. Sekedar perbandingan, di Batam saya USG 2D harganya sekitar 200 Ribu Rupiah, sedangkan USG 2D di Jakarta bisa berkisar 500 – 900 Ribu Rupiah tergantung dokter mana yang didatangi. Jadi dengan harga USG 2D di Batam yang lebih terjangkau, harusnya saya sanggup untuk melakukan USG 2D sebanyak 2 kali sebulan. Hehehe. Pokoknya semua dilakukan demi memastikan anak sehat.

Hasil USG di dokter menunjukkan pertumbuhan janin yang sehat dan semestinya, detak jantung juga bagus. Dokter menanyakan apakah saya ada keluhan selama hamil? Apakah ada keluar flek? Saya bilang tidak ada keluhan. Saya benar-benar menikmati kehamilan ini. Menjadi hamil adalah keinginan saya sejak lama, jadi saya tidak mau mengeluh sama sekali saat menjalaninya. Saya sangat berterima kasih atas berkat yang saya terima dengan kehadiran anak ini.

Pada usia 10 weeks, saya mulai minum sarang burung walet yang saya bersihkan dan tim sendiri dengan gula batu selama 30 menit. Diminum tiap pagi sebelum sarapan. Konon sarang burung walet ini mengandung protein yang tinggi dan bagus untuk perkembangan janin. Tapi, harganya yang mahal membuat saya harus berhemat-hemat menggunakannya. Hahaha. Saya menjatahkan 2 keping sarang burung walet untuk tiap trimester kehamilan. Dua keping sarang burung walet itu bisa untuk konsumsi sekitar 4-5 hari kalau di saya dengan tiap kali penyajian hanya sekitar 100 ml (1 x 1 hari).

Saya mulai mengalami permasalahan kulit lainnya di leher pada saat hamil 10 weeks. Leher saya memiliki ruam kemerahan dan gatal. Hasil dari konsultasi dengan dokter online (karena saya malas ke rumah sakit di saat pandemi ini), saya didiagnosa dermatitis / eksim. Dokter meresepkan saya obat minum dan salep yang mengandung kortikosteroid, tapi pada akhirnya tidak saya tebus karena obat tersebut kategori C yang bisa beresiko pada janin. Tidak apa-apa lah saya menderita sedikit demi janin yang sehat. Hehehe.

1595931217936_1.jpg
12 weeks

12 weeks

Saat ini gejala nyeri payudara sudah lebih berkurang dan areola menggelap. Tapi, saya sudah mulai sering capek kalau jalan jauh, sakit punggung. Entah karena faktor usia (sudah 37 tahun) atau karena berat badan yang terus bertambah selama hamil? Hahaha. Pada saat ini, saya sering tidak bisa mengontrol keluarnya urin saat bersin sehingga jadi lebih sering mengganti celana dalam dalam sehari. Kalau keluar rumah, saya sering pakai pembalut / pantyliner untuk berjaga-jaga dari keluarnya urin yang tidak terkontrol. Penampakan perut saya masih berupa buncit seperti orang kebanyakan makan, belum terlalu kelihatan seperti ibu hamil pada umumnya. Baju-baju masih muat, hanya saja untuk celana sudah mulai sedikit sesak.

Saat kontrol ke dokter Herman, berat badan saya ditimbang sudah 68 kg. Hasil USG terlihat baik, terlihat tangan dan kaki janin yang masih kecil. Janin juga bisa gerak-gerak sedikit. Resep obat yang diberikan dokter ada perubahan karena saya sudah menjelang masuk ke trimester 2:
– Duphaston 10 mg sudah waktunya distop (habiskan stok yang ada di rumah saja) karena fungsinya sudah digantikan oleh plasenta
– Inbion 1 x 1 hari (tambahan multivitamin zat besi yang sudah mengandung asam folat juga). Karena sudah ada kandungan asam folatnya, saya stop minum asam folat 400 mcg yang biasa saya minum
– Inlacta DHA 1 x 1 hari (suplemen fish oil yang mengandung EPA dan DHA)
– Ascardia 80 mg tetap lanjut 1 x 1 hari
– Vitamin D3 1.000 IU 1 x 1 hari boleh tetap lanjut.

Dokter memperbolehkan saya untuk mulai olahraga ringan seperti halnya berjalan kaki. Tapi, dokter Herman tidak menetapkan angka yang jelas seperti durasi harus 30 menit atau harus sekian meter saja. Menurut dokter, saya harus tahu batas kemampuan diri sendiri. Berhentilah saat sudah merasa capek. Jangan memaksakan diri.

Pada usia 12 weeks ini saya lagi rajin-rajinnya membuat rebusan kacang hijau yang konon baik untuk pertumbuhan janin. Tapi, karena dasarnya saya orang yang suka bosan, kebiasaan ini hanya bertahan sekitar 2 minggu saja. Hahaha.

Permasalahan kulit yang terlihat di usia kehamilan 12 weeks adalah lipatan leher dan ketiak yang menghitam. Masalah ini wajar dialami oleh ibu hamil karena bawaan hormon. Katanya akan menghilang sendiri setelah lahiran. Jadi saya tidak melakukan treatment apa-apa dan pasrah saja sampai lahiran nanti.

To Be Continued…

Kisah kehamilan di trimester 2 akan saya tulis setelah saya lulus melewati trimester 2. Mohon doa dari teman-teman sekalian ya supaya kehamilan saya bisa sehat dan lancar sampai persalinan kelak.

4 pemikiran pada “Pregnancy # 2: Trimester 1 (1 – 13 weeks)

  1. Waaah congrats ya mbaa..thanks buat sharingnya,moga sehat2 dan lancar sampai lahiran. Oh ya Mba saya mau tanya,alasan dokter memberikan ascardia apa ya?karena jujur saya juga d resepkan ascardia,cm masih takut untuk minumnya. Fyi,saya sedang 8 week kehamilan.thank you

    Suka

    • Ascardia adalah obat pengencer darah (golongan aspirin). Konon ibu hamil rentan mengalami pengentalan darah. Kekentalan darah ini akan menghambat jalur nutrisi dan oksigen ke janin sehingga bisa membuat janin tidak berkembang atau tumbuh kerdil. Rata2 orang yg diresepkan ascardia adalah pasien ivf atau ibu hamil dengan kasus keguguran berulang dan janin tidak berkembang.
      Kalau mba memang diresepkan oleh dokter, harusnya aman2 aja mba karena kan dalam pengawasan dokter.
      Sehat2 selalu ya utk mba dan baby..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s