Pregnancy # 2 Story

Hello teman-teman semua!

Beberapa dari kalian para readers dan followers ada yang contact saya, baik lewat e-mail maupun chat Whatsapp, untuk menanyakan kabar saya, bagaimana kelanjutan program hamil yang saya ikuti setelah 3 kali gagal IVF (Bayi Tabung) dan 2 kali gagal IUI (inseminasi), plus kehamilan 1 saya dengan janin tidak berkembang. I’m here to share a good news: I’m expecting my first child! Sekarang usia kehamilan saya sudah menjelang 20 weeks alias sudah di Trimester 2.

1589887184086.jpg
Foto USG waktu umur 10 weeks

Saya sengaja tidak bikin announcement apa-apa di awal karena kata orang dulu masih “pamali” untuk membicarakan kehamilan di Trimester 1. Orang-orang yang saya beri tahu tentang kehamilan ini hanyalah keluarga inti saya dan suami plus beberapa teman dekat. Pemikiran tentang “pamali” ini sebetulnya menurut saya ada benarnya juga. Kehamilan di Trimester 1 masih lemah dan beresiko tinggi untuk keguguran. Makanya banyak ibu hamil yang menunda mengumumkan kehamilannya sampai dengan Trimester 2.

Saya tidak akan mengumumkan kehamilan saya ini di social media karena saya menjaga perasaan teman-teman yang mungkin sedang berjuang untuk hamil (TTC / Trying To Conceive). Saya pernah berada dalam posisi itu, dimana setiap melihat pregnancy announcement selalu merasa sedih karena saya tidak kunjung hamil juga. Lagipula, kehamilan bagi saya adalah suatu privacy yang tidak perlu diumbar-umbar. Rasanya malu dengan teman-teman diluar sana yang sudah dalam tahap hamil / melahirkan anak ke-3 atau 4. Apalah artinya saya yang baru hamil pertama kali ini dibanding mereka? Hehehe

Saya sangat bersyukur sekali dengan kehamilan ini. Benar-benar suatu berkah yang hadir dalam hidup saya dan suami. Setelah kehamilan 1 yang berujung dengan kuret 8 Oktober 2019, saya agak pesimis karena setelah 3 bulan belum kunjung hamil juga. Saya sempat berpikir mungkin kehamilan 1 saya itu terjadi hanya karena faktor “lucky” saja, bukan karena saya memang secara fisik sehat untuk hamil.

Di pertengahan Februari 2020, terjadi perubahan besar dalam hidup saya dan suami dengan pindah ke Batam karena pak suami dapat kerjaan baru disini. Suasana di kota yang baru membuat saya dan suami lebih fresh. Saat itu, saya sudah diskusi sama suami tentang kemungkinan hari tua kami hanya berdua tanpa anak. Kami memilih bertahan di pernikahan ini, sehidup semati, susah dan senang bersama, pasrah soal urusan keturunan yang tidak kunjung datang mendekati wedding anniversary kami ke-8. Bahkan saya sempat bilang sama teman disini, kalau ada info anak untuk diadopsi tolong kasih tahu saya. Sambil saya berdoa, kalau memang jalannya saya harus adopsi anak, semoga ditemukan dengan anak yang baik.

Kehidupan di Batam tidak sesibuk Jakarta. Kondisi disini juga less polution dan less traffic. Suami bisa pulang ke rumah sekitar jam 5.30 sore dan dinner bareng. Suatu hal yang sangat jarang terjadi sewaktu pak suami kerja di Jakarta. Makanan di Batam juga menurut saya enak-enak. Tidak heran saya dalam waktu singkat saja naik 1,5 kg karena kulineran terus. Hahaha. Berat badan sudah agak overweight di angka 65 kg, padahal tinggi badan saya hanya 162 cm. Tapi, saya tidak terlalu memusingkannya dan tetap happy.

Sekitar sebulan kerja di Batam, kantor pak suami memberlakukan WFH (Work From Home) terkait pandemi COVID-19. Walaupun bosan terkungkung di rumah saja pada awalnya, tapi keadaan ini membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu sama pak suami di rumah. Litteraly 24 jam bersama-sama. Dengan kebersamaan ini, kami jadi lebih punya kesempatan untuk berhubungan selama masa subur. Kalau dulu di Jakarta, timing-nya sering bolong-bolong karena pak suami sibuk kerja dan saya sibuk ke gym atau bikin kue. Keseringannya pas malam ketemu sudah sama-sama capek.

Berdasarkan perhitungan kalender, seharusnya saya haid tanggal 10 April 2020, tapi 2 hari berselang, haid-nya belum muncul juga.Β Pak suami dengan percaya diri meminta saya test pack. Dia sendiri yang belikan test pack-nya karena saya tidak punya stok di rumah. Sudah lama saya tidak pernah mau beli test pack karena malas lihat hasilnya yang selalu negatif. Hahaha.

Tanggal 13 April 2020 pagi, seminggu sebelum saya ulang tahun ke-37, saya melakukan test pack sendiri di kamar mandi. Pak suami waktu itu masih tidur. Hasilnya: Garis 2 yang terang! Wow, Saya hamil!! Benar-benar kado ulang tahun terindah dalam hidup saya. Setelah memanjatkan doa syukur, saya membangunkan pak suami dan memberitahukan hasil test pack tadi. Pak suami tentu saja turut bahagia!

Cerita tentang kehamilan Trimester 1 dan seterusnya akan saya tulis di post terpisah supaya tidak kepanjangan. Dari perjalanan kehamilan ini, saya jadi sadar bahwa kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebisa kita, tapi kehidupan itu bukan kuasa manusia. Walaupun kita berusaha sehebat apapun, tapi kalau memang belum waktunya rejekinya kita datang, semua upaya yang kita lakukan akan berujung pada kegagalan. Seperti kasus program hamil saya yang sudah kesana-kemari, menghabiskan banyak biaya dan berujung dengan kegagalan. Itu artinya belum saatnya rejeki saya datang. Di saat saya sudah tidak mau ikut program hamil apapun dan less expectation, saya bisa hamil alami bahkan sudah 2 kali hamil pula.

Buat teman-teman yang masih berjuang TTC, saya doakan semoga kalian bisa segera positif 2 garis. Tapi, kalau belum berhasil, jangan terlalu bersedih karena tiap orang punya rejeki dan waktunya masing-masing. Setiap manusia dilahirkan unik dan jalan hidupnya beda-beda. Mohon doa-nya untuk kehamilan saya ini ya teman-teman! Semoga selalu sehat-sehat dan lancar sampai saatnya lahiran nanti.

10 pemikiran pada “Pregnancy # 2 Story

  1. Congrats cici, aku ikt seneng betul! Stay safe, stay healthy sampe delivery. Bener2 berkat Tuhan ya πŸ™πŸ». Can’t wait nanti blog postnya tulis ttg baby yah, tips and trick and developmentnya!!

    Suka

  2. Woowww ikut seneng ya ci
    Sy mau program anak kedua. Krn anak pertama sy usia sudah 7 th. Sy sempat KB spiral 4 th. Klo gak hamil2 sy rencana mau inseminasi di klinik teratai RSIA gading Pluit. Pernah denger gak ci RS ini?

    Suka

    • Haloo, Agatha..
      Thank you yaa. RSIA Gading Pluit itu yg di Kelapa Gading bukan ya? Kebetulan saya belum pernah kesana krn kejauhan. Wkwk.
      Saya pernah inseminasi 2x di BIC (Morula IVF) dan di RS Omni Alam Sutera aja.
      Good luck ya buat program hamilnya.

      Suka

  3. Haloo ce, moga msh ingat sy.
    Selamat yaa ce atas kehamilan nya.
    Sy jd terharu, ingat pengalaman sy sendiri yg 7 thn merid br lahirin anak pertama.
    Sehat selalu yaa ce.

    Suka

  4. Malam Ci..salam kenal 😊
    Bru pertama ini sy baca blog Cici, pas cari2 info soal yleo ppp, trs lanjut baca yg lain deh. Byk banget ilmunya dan merasa ketemu temen seperjuangan πŸ˜€
    Puji Tuhan selamat ya Ci semoga lancar sehat2 smp persalinan nanti 😊
    Doain ya Ci semoga perjuangan 2 garis kami berhasil seperti Cici πŸ€—
    Gbu

    Suka

    • Halo Brigitta.. Salam kenal ya. Senang kalau blog ini bisa bermanfaat 😁
      Semoga kamu bisa cepat nyusul juga ya. Selain berusaha maksimal, bawa dalam doa jg. Pasrah pada rencana-Nya akan kehidupan kita. Good luck!

      Suka

  5. Pagi ci, salam kenal 😊 congrats ya ci utk pregnancy nyaa.. awalnya dtg kesini baca artikel cc mngenai YL PPP dan baru aja selesai baca artikel cc yg ini, terharu dnn terinspirasi bgt krn inget pengalaman sy juga mirip sm cc, walaupun baru 3 th pernikahan (msh jauh dibanding cc sbnrnya πŸ˜„) tp sy juga sdh coba macam2 usaha dari kuret, laparotomi, 2 x inseminasi (yg skrg sdg menunggu hasil doakan semoga berhasil ya ci).
    Kalau boleh tahu tipe olahraga yg cc jalani slama masa promil apa ya? Siapa tahu bs jadi inspirasi juga buat sy. Thankyou ci 😊

    Suka

    • Halo Jess,

      Semoga sukses ya inseminasinya.. pokoknya jangan stress, capek2 dan terlalu fokus sama hasil (ini part tersulitnya, hehe).
      Olahraga selama promil sebenarnya ga ada yg baku harus gimana2. Pilih olahraga yg disuka aja jd bisa dirutinin. Kalau saya sukanya olahraga tipe indoor, group fitness seperti kelas zumba, body combat, dll. Frekuensi olahraga jgn terlalu dipaksa dan bikin kecapekan. Trus pas masuk masa subur harus dikurangi intensitas olahraga-nya jd yang slow dan santai2. Pas nunggu hasil (menjelang jadwal mens) saya stop olahraga, banyak santai2 aja di rumah. Hahaha.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s