Pregnancy Story

Hai teman-teman semua! Maaf baru update blog lagi setelah berbulan-bulan. Terima kasih juga untuk para follower baru di blog ini. Semoga kontennya berfaedah, hehe.

Saya menghilang dari peredaran karena beberapa bulan yang lalu saya mengetahui kalau diri saya sedang hamil. Seperti yang kalian semua ketahui, saya dan suami sudah cukup lama berjuang untuk mendapatkan buah hati. Segala cara yang berhubungan dengan medis sudah kami lakukan. Kami telah melakukan 3 kali IVF (bayi tabung) dan 2 kali IUI (inseminasi buatan) yang semuanya berujung dengan kegagalan. Sesungguhnya saya pun sudah putus asa dan berniat untuk melakukan adopsi saja.

Setelah gagal IVF ke-3 di Family Fertility Center (FFC) – RSIA Family Pluit, saya sudah tidak berniat melanjutkan kembali program IVF. Selain karena alasan keterbatasan dana, saya juga merasa pesimis terhadap persentase keberhasilannya. Saat itu umur saya sudah 36 tahun, ditambah pula hormon AMH saya yang rendah (nilai 0.57) membuat jumlah telur saya yang dipanen tidak banyak dan kualitasnya kurang oke. Akibatnya embryo yang saya dapatkan selama IVF juga tidak banyak (maksimum hanya dapat 3 embryo yang bertahan setelah pembelahan hari ke-3) dan grade-nya tidak cukup bagus (good to low quality). Pada akhirnya embryo tersebut tidak ada satupun yang bisa menempel di rahim dan tidak terjadi kehamilan sama sekali.

Saya merasa sudah pasrah tentang urusan anak ini. Pada kesempatan terakhir di FFC saya meminta dibuatkan surat pengantar adopsi yang ditandatangani oleh dokter. Surat ini diperlukan kalau kelak mau adopsi anak lewat jalur resmi di panti asuhan. Walaupun surat adopsi sudah di tangan, tapi saya masih galau dan bingung harus memulai darimana. Akankah saya bisa mendapatkan anak adopsi yang sesuai mengingat prosedurnya yang berbelit-belit.

Dalam periode kebingungan itu juga, ada info dari teman kantor suami tentang anak bayi yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Saya dan suami ditanya, apakah mau adopsi anak tersebut? Akan tetapi, karena kami lambat memberi jawaban, anak tersebut sudah dibawa oleh pasangan lainnya ke luar kota. Jadi kami tidak jodoh dengan anak tersebut.

Ditengah keputusasaan dan kegalauan saya tentang urusan anak ini, saya berdoa setiap malam untuk minta diberikan petunjuk. Kalaupun harus adopsi, saya juga rela. Saya minta diberi arahan harus memulai dari mana untuk proses adopsi ini. Bulan berganti bulan, tidak terasa sudah 3 bulan pasca IVF ke-3 dan tidak ada petunjuk sama sekali. Saya pun menjalani hari seperti biasa saja. Saya tidak lagi memikirkan masalah anak karena ada kejadian yang mengalihkan pikiran saya, yaitu mama saya masuk ke rumah sakit karena serangan jantung! Mama dirawat di RS Siloam Karawaci yang tidak terlalu jauh dari rumah saya. Saya sibuk bolak balik urusan RS dan jenguk mama.

Saya menyadari bahwa saat itu saya sudah 16 hari telat haid. Biasanya haid saya selalu teratur jadwalnya di siklus 28-35 hari. Pernah telat juga biasanya cuma sampai seminggu, tidak pernah selama ini. Sempat saya berpikir, jangan-jangan saya sudah mengalami apa yang dinamakan menopause dini ya? Karena wanita yang memiliki hormon AMH rendah cenderung akan mengalami menopause dini. Apalagi sel telur saya sudah banyak dipanen saat proses IVF jadi mungkin saya tidak haid lagi karena sel telurnya sudah habis. Hahaha.

Disaat telat haid itu, saya tidak merasakan tanda-tanda hamil seperti mual dan muntah. Saya hanya merasa payudara kencang, agak bengkak dan cenderung nyeri. Badan agak hangat seperti meriang. Selain itu, saya cepat merasa lapar dan kalau telat makan sedikit saja, bawaannya langsung perih di ulu hati seperti sakit maag. Perut juga kembung, sering sendawa dan kentut-kentut. Saat itu saya berpikir saya sakit maag karena selama jaga mama di rumah sakit, saya agak tidak beraturan jadwal makannya. Saya juga sempat minum obat maag, Polysilane, sebanyak 2 tablet untuk meredakan gejala perih di perut itu.

P_20190906_063637_vHDR_Auto-01.jpeg
Testpack 2 garis

Pak suami menyuruh saya untuk melakukan testpack, tapi waktu itu di rumah tidak ada testpack sama sekali. Sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak pernah stock alat testpack di rumah karena saya trauma melihat garis satu terus-terusan. Akhirnya pak suami beli dulu alat testpack merk “Sensitif” dan saya  melakukan test urin di keesokkan paginya. Alangkah terkejutnya saya saat itu karena alat testpack menunjukkan garis dua yang terang. Saya hamil! Saya pun segera membangunkan pak suami dan mengabarkan tentang hasil testpack tadi. Kami pun berpelukan bahagia.

Hari itu juga, setelah testpack positif, saya berinisiatif melakukan pemeriksaan darah di RS Siloam Karawaci sekalian menjenguk mama saya. Saya melakukan pemeriksaan “Beta-HCG” untuk mendeteksi kehamilan. Saya takut testpack-nya salah dan memberi harapan palsu. Biaya pemeriksaan darah ini memang agak mahal, yaitu RP. 630.000, tapi saya perlu lebih yakin tentang kehamilan ini.

Hasil darah keluar 3 jam kemudian. Dari hasil tersebut, Beta-HCG saya cukup tinggi, yaitu 30.128 mIU/ml, sesuai dengan range angka di kehamilan 6 weeks. Saat itu saya sudah cukup yakin dengan kehamilan ini. Tapi entah kenapa saya masih ragu dan butuh diyakinkan dengan USG, sehingga saya membuat janji untuk konsul dokter di keesokkan harinya. Saya memilih konsul ke obgyn di RS Siloam Karawaci saja karena sekalian mengurus mama saya.

Setelah tahu kalau saya hamil, barulah badan ini ikut menyesuaikan. Dulu sebelum tahu kalau hamil, saya tidak masalah jalan jauh dan cepat, hilir mudik di rumah sakit urusan mama waktu itu. Tapi, setelah tahu hamil, badan saya kok jadi lemah ya? Jalan harus pelan-pelan dan tidak bisa jauh karena muncul flek cokelat. Dikit sih paling hanya 1-2 tetes dan sesekali saja, tapi saya sudah takut kenapa-kenapa. Untungnya hal ini cuma sebentar saja saat week 6-7. Setelah itu tidak ada flek apapun yang keluar.

Singkat cerita, dokter obgyn di RS Siloam Karawaci lewat USG menyatakan saya hamil. Saat itu kondisi saya dan janin sehat. Dari USG terlihat bahwa ada kantong hamil, kantong makan janin dan juga embrio (janin). Dokter juga menyatakan janin ada denyut jantungnya. Hanya saja saat itu dokter obgyn RS Siloam Karawaci hanya melakukan USG perut saja, jadi secara gambaran mata awam seperti saya, agak kurang jelas. Oleh karena itu, saya dan suami memutuskan minggu depannya mau konsul ke dokter obgyn lain.

Pada tulisan ini, saya tidak akan menyebutkan nama dan penjelasan detail dokter obgyn yang saya kunjungi karena akan kepanjangan ceritanya. Review dokter obgyn yang saya kunjungi sehubungan dengan kontrol kehamilan akan saya tulis di post terpisah saja ya.

Pada saat konsul ke dokter ke-2 yang juga berpraktek di wilayang Tangerang, saya diperiksa dengan USG Transvaginal. Tampilannya jauh lebih jelas di monitor dibanding hanya dari USG perut. Dari hasil kunjungan ini, dokter menyatakan janin saya ada indikasi tidak berkembang dan tidak ada denyut jantungnya. Pada monitor USG juga didapati tidak ada aktivitas cardiovaskular / aliran darah di jantung janin. Saya dan suami jadi shock. Tapi saat itu dokter menyuruh kami untuk melihat keadaan sampai 11 hari ke depan. Kalau tidak ada perubahan, kehamilannya harus diterminasi.

P_20191011_125706_vHDR_Auto-01.jpeg
Kumpulan USG dari beberapa dokter obgyn yang dikunjungi

Saya dan suami saat itu belum menyerah dan berusaha mencari opini dari dokter yang berbeda. Total ada 5 dokter yang kami datangi dan semua dokter menyatakan janin saya tidak berkembang dan stop growing di umur 6 week 5 days. Semua dokter menyuruh saya untuk melakukan kuret karena kata mereka kalau saya gugur alami, saya akan mengalami pendarahan hebat.

Selama urusan ke obgyn yang berbeda-beda, saya tidak ada tanda-tanda keguguran. Padahal saya tidak bed rest total, masih hilir mudik di rumah, naik turun tangga, sesekali jalan-jalan di mall. Bahkan pernah karena kepepet juga saya ganti galon sendiri di rumah, untungnya sih di rumah pakai dispenser galon bawah. Dengan aktivitas tersebut, saya tidak ada tanda-tanda flek / pendarahan, perut tidak kram, payudara juga masih terasa nyeri, mual ringan sesekali. Seakan-akan tubuh saya tidak mengenali ketidaknormalan janin saya dan menganggap saya tetap hamil. Terbukti dari beberapa kali USG, kantong kehamilan saya terus berkembang tapi janin saya tidak bertambah besar. Kalau istilah kerennya, saya mengalami a missed miscarriage. Silakan browsing sendiri tentang artinya. Ternyata dari forum-forum luar, banyak juga yang senasib dengan saya. Ini masalah common dalam kehamilan.

Menurut dokter, mostly kasus janin tidak berkembang terjadi karena ada kelainan genetik kromosom saat pembelahan. Oleh karena itu, seleksi alam terjadi di dalam rahim. Janin yang tidak sempurna akan digugurkan sendiri. Kelainan genetik tersebut tidak selalu turunan dari kedua orang tuanya, bisa jadi dari kualitas sel telur atau sperma yang kurang bagus sehingga membawa faktor genetis yang tidak bagus saat pembelahan embryo. Janin tidak berkembang ini tidak sama dengan BO (Blighted Ovum) ya. Kalau kasus BO hanya terdapat kantong hamil saja tanpa janin di dalamnya. Kasus seperti ini tidak ada hubungannya dengan kecapekan atau nutrisi makanan. Jadi saya pun tidak terlalu menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini.

Kalau kebanyakan kasus janin tidak berkembang biasanya akan gugur alami sendiri setelah 1-2 minggu dari vonis dokter, tidak demikian halnya dengan saya. Dari week 7 saat divonis janin tidak berkembang, sampai dengan week 11 tidak ada tanda-tanda akan gugur sendiri. Oleh karena itu dokter menyarankan saya untuk segera kuret karena kalau dibiarkan terus akan mengancam kesehatan ibunya.

Sesaat sebelum kuret pada tanggal 8 Oktober 2019, dokter melakukan USG kembali pada saya. Dari hasil USG, ukuran janin sudah lebih mengecil (biasa hal ini terjadi pada kasus janin tidak berkembang) dan janin-nya sudah membuka jalan ke mulut rahim sedikit walaupun posisinya masih agak jauh dari jalan lahirnya. Saat itu, saya jadi lebih yakin untuk melakukan kuret karena memang kehamilan ini tidak bisa dipertahankan.

Proses kuret berlangsung dengan lancar. Saya juga tidak merasakan sakit sama sekali karena dalam keadaan bius total. Cerita tentang kuret hamil ini juga akan saya bahas detail di post terpisah.

Selain sedih, saya juga merasa cukup trauma dengan kehamilan ini. Saya takut kejadian ini bisa berulang kembali di kehamilan kedua. Pasti di kehamilan kedua saya akan jadi lebih paranoid karena pernah punya pengalaman buruk begini. Hiks. Mudahan kehamilan kedua bisa lebih baik nasibnya dibanding yang pertama.

Saya bersyukur, Tuhan masih mendengarkan doa saya. Saya diberi kesempatan untuk merasakan hamil, bahkan bisa hamil secara alami tanpa bantuan medis. Sungguh luar biasa rasanya. Walaupun singkat, saya belajar berbagi kehidupan dengan anak dalam kandungan. Saya jadi tahu bagaimana rasanya cinta (unconditional love) seorang ibu terhadap anaknya.

Dengan kejadian ini, lagi-lagi saya belajar bahwa manusia boleh jadi perencana ulung dan juga penuh usaha, tapi hasil akhirnya bukanlah di tangan manusia melainkan Tuhan. Sebagai manusia kita mungkin bisa membuat anak karena kita memiliki sel telur dan sel sperma, tapi nafas kehidupan anak itu hanya Tuhan yang punya kuasa. Bahkan dokter paling hebat sekalipun tidak bisa memberikan nafas kehidupan itu. Hal ini juga jadi pengingat buat saya bahwa sebagai manusia jangan pernah sombong dan merasa berkuasa. Segala sesuatu yang kita miliki ini tidaklah kekal.

Semoga Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk bisa hamil lagi dan mudah-mudahan pada kehamilan berikutnya saya bisa dipercaya lebih lama untuk merawat anak tersebut.

 

 

8 pemikiran pada “Pregnancy Story

  1. Salut bgt sama cici ini! Daya juangnya luar biasa sekali dan selalu bisa mengambil makna positifnya. Semoga diberi kehamilan lagi yang berhasil ya ci! I believe miracle is real and it can come to you in so many form! Will pray for you 🙂 Stay strong!

    Suka

  2. Pas awal baca aku ikut seneng&terharu kalo mbak berhasil hamil alami. Pas baca kebawah-bawah jadi ikutan sedih. Perjuangan aku baru mau insem aja sih, makasih tulisannya mbak, bener-bener bikin aku semangat dan pantang menyerah buat dapet baby.

    Suka

  3. Hi mbak, walau gak kenal langsung aku suka ikutin ceritamu di blog ini. Malah jadi salah satu referensiku buat dulu mulai program IVF

    Happy and sad to hear the story. Gak gampang pastinya melewati ini semua ya mbak. I hope the universe grants you the bright side soon after the storm

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s