IVF # 2 Story

Hai semua..

Maaf baru aktif kembali menulis blog setelah program IVF (bayi tabung) yang ke-2. Saya lebih suka menulis saat prosesnya sudah selesai semua dan ketahuan hasilnya bagaimana jadi bisa sharing dengan lengkap. Saya mengikuti program IVF ke-2 ini di Family Fertility Center (FFC) – RSIA Family Pluit setelah mengikuti berbagai prosedur pendahuluan (bisa dibaca di tulisan sebelumnya). Walaupun katanya di FFC IVF-nya ditangani oleh tim dokter, tapi saya lebih banyak berinteraksi dengan dr. Malvin Emeraldi.

ivf
Source: Google

Alasan kenapa saya mengikuti IVF ke-2 ini adalah:

  • Faktor usia
    Saat mengikuti program IVF ke-2 ini umur saya sudah 35 tahun dan suami 37 tahun
  • Permasalahan reproduksi
    Saya memiliki masalah hormon AMH rendah, yaitu 0,57 (cadangan sel telur sedikit dan poor responder terhadap obat stimulasi) serta bentuk leher rahim yang tidak normal (entah kenapa) sehingga sperma susah masuk. Sementara itu, suami juga kualitas spermanya kurang bagus (terakhir periksa hasilnya gerakan sperma kurang gesit dan bentuknya banyak yang abnormal).
  • Gagal IVF ke-1
    Sebenarnya waktu gagal IVF ke-1, saya dan suami cukup down, rasanya sudah malas mengulang IVF lagi. Makanya jarak dari IVF ke-1 dan ke-2 adalah 3 tahun lamanya. Tapi saya penasaran karena dulu saat IVF ke-1 dokter memberikan protokol Mini Stimulation (karena AMH saya waktu itu rendah, hanya 0,3) dan menurut saya kurang optimal karena cuma menghasilkan 1 embrio saja dan itu pun failed menempel di rahim. Jadi saya mau coba IVF dengan protokol berbeda.
  • Dana ready
    Seperti yang saya sebutkan diatas, ada jarak 3 tahun lamanya dari IVF ke-1 dan ke-2. Waktu tersebut saya gunakan juga untuk mengumpulkan dana demi mengikuti next IVF. Jujur saja, biaya IVF ini memang mahal sekali untuk saya dan suami jadi butuh menabung dulu.

Ovaries Stimulation

Sabtu, 12 Januari 2019

Saya datang ke FFC – RSIA Family di hari mens ke-2. Agenda hari ini adalah konsultasi ke dokter dan USG Transvaginal untuk memulai program IVF. Saat itu yang praktek adalah dr. Malvin. Hasil USG Transvaginal menyatakan jumlah follicles saya ada 5 (Kiri 3 dan kanan 2). Oleh karena itu, dokter menyarankan saya untuk mengikuti standard protocol dengan full dosage stimulation. Kata dokter, kalau misalkan pasien jumlah follicle-nya hanya 3, biasa akan dianjurkan protokol Mini Stimulation seperti yang pernah saya ikuti di IVF ke-1 (silakan baca ceritanya di tulisan terpisah). Jadi sebenarnya ini adalah suatu kemajuan buat saya. Kemungkinan besar pengaruh dari kenaikan hormon AMH saya juga, dari 0,3 ke 0,57.

Saya diresepkan 2 jenis obat suntik stimulasi hormon, yaitu: Pergoveris dan Gonal F. Penentuan jenis dan dosis obat oleh dokter ditentukan dari hasil tes hormon FSH dan LH yang saya lakukan bulan sebelumnya, lebih tepatnya adalah tanggal 15 Desember 2018, dengan hasil: FSH 8,7 mIU/ml dan LH 3,2 mIU/ml.

Besaran biaya IVF di FFC – RSIA Family Pluit adalah 40 – 70 juta Rupiah per siklus. Jumlah itu masih bisa lebih besar lagi angkanya tergantung banyaknya jumlah obat stimulasi, jenis obat stimulasi dan tindakan medis lanjutan. Untuk saya, karena saya akan menggunakan Pergoveris dan Gonal F, maka harga paket saya adalah 68 Juta Rupiah. Biaya tersebut bisa dicicil beberapa kali pembayaran dan harus lunas sebelum jadwal Ovum Pick Up (OPU). Harga paket tersebut sudah termasuk:

  • Gonal F = 1.200 IU
  • Pergoveris = 8 Ampoule
  • Cetrotide = 4 Ampoule
  • Ovidrel = 1 Pen (250 mcg)
  • Konsultasi dokter dan USG Transvaginal selama program IVF berlangsung
  • Tindakan Ovum Pick Up (OPU) dengan anastesi bius total
  • Prosedur ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection)
  • Biaya laboratorium dan inkubator embrio
  • Tindakan Embrio Transfer (ET)
  • Obat antibiotik dan pengencer darah setelah prosedur ET
  • Obat-obatan penguat kandungan selama masa 2 weeks wait
  • Test laboratorium hormon (cek Estradiol dan Progesteron) selama program IVF berlangsung
  • Testpack = 1 unit

Kalau dulu waktu program IVF ke-1 di BIC (Bunda International Clinic / Morula IVF) untuk masalah suntik menyuntik harus repot bolak balik ke klinik karena harus minta tolong suster untuk suntik, berbeda dengan di FFC dimana kita diajarkan untuk mandiri suntik sendiri di rumah. Mengurangi beban juga untuk bolak balik ke klinik. Apalagi untuk orang yang jauh seperti saya yang tinggal di Tangerang. Hehehe. Untuk obat suntik yang berbentuk ampoule seperti Pergoveris dan Cetrotide yang dimana terpisah antara cairan dan bubuk obatnya, suster FFC akan meraciknya buat kita dan dipindah ke dalam jarum suntik steril. Intinya semua obat suntik yang kita terima sudah siap suntik tanpa harus repot campur-campur lagi.

subcutaneous
Subcutaneous Injection (Source: Google)

Jadwal suntik saya dimulai besok saat mens hari ke-3. Semua obat suntik harus disuntikkan ke bawah kulit perut bagian bawah (subcutaneous). Dokter pesan kepada saya untuk memakan banyak seafood tiap hari karena dibutuhkan kolesterol untuk memproduksi sel telur. Selain itu juga disuruh makan putih telur ayam rebus 3 butir per hari. Kalau saya, pada prakteknya, makan seafood hanya 1 x per hari (karena mahal). Telur ayam rebus saya makan 2 butir telur utuh (putih dan kuningnya juga untuk booster kolesterol) dan 1 butir putih telurnya saja.

Untuk suplemen masih diresepkan sama seperti sebelumnya, hanya saja DHEA sudah distop penggunaannya:

  • Saya: Asam folat 1.000 mcg / hari, Vitamin D3 2.000 IU / hari, Seloxy Tablet 1 pcs / hari.
  • Suami: Vitan 2 tablet / hari, Surbex Z 1 tablet / hari

Minggu, 13 Januari 2019

Suntik: Gonal F 150 IU dan Pergoveris 1 Ampoule (pagi).

Senin, 14 Januari 2019

Suntik: Gonal F 150 IU dan Pergoveris 1 Ampoule (pagi).

Selasa, 15 Januari 2019

Suntik: Gonal F 150 IU dan Pergoveris 1 Ampoule (pagi).

Rabu, 16 Januari 2019

Suntik: Gonal F 150 IU dan Pergoveris 1 Ampoule (pagi).

Kamis, 17 Januari 2019

Suntik: Gonal F 150 IU dan Pergoveris 1 Ampoule (pagi).

Jumat, 18 Januari 2019

Datang konsultasi ke dokter dan USG Transvaginal. Follicles hari ini ada 7 buah tapi ukurannya masih kecil (dibawah standar). Jadi masih lanjut suntik dengan dosis obat yang diperbesar. Disuntik oleh suster setelah konsultasi ke dokter: Gonal F 225 IU dan Pergoveris 1 Ampoule.

Sabtu, 19 Januari 2019

Datang konsultasi ke dokter dan USG Transvaginal. Follicles hari ini ada 7 buah. Ada yang ukurannya sudah cukup dan ada yang ukurannya masih kecil (dibawah standar). Disuntik oleh suster setelah konsultasi ke dokter: Gonal F 225 IU, Pergoveris 1 Ampoule dan Cetrotide 1 Ampoule. Sekalian juga hari ini diambil sample darahnya untuk cek hormon Estradiol.

Minggu, 20 Januari 2019

Suntik: Gonal F 300 IU, Pergoveris 1 Ampoule dan Cetrotide 1 Ampoule (pagi). Kondisi perut jadi makin melendung dan beberapa spot ada bekas biru-biru karena suntikan hormon.

Senin, 21 Januari 2019

Datang konsultasi ke dokter dan USG Transvaginal. Follicles hari ini ada 7 buah dan ada 4 yang sudah besar-besar tapi sisanya masih belum sesuai standar. Standar diameter follicle yang diinginkan adalah 1,8 cm – 2 cm. Jadi masih lanjut suntik sesuai dosis kemarin. Disuntik oleh suster setelah konsultasi ke dokter: Gonal F 300 IU, Pergoveris 1 Ampoule dan Cetrotide 1 Ampoule. Sekalian juga hari ini diambil sample darahnya untuk cek hormon Estradiol. Suster pesan kalau hari ini adalah jadwal senggama terakhir sebelum nantinya pengambilan sample sperma.

Selasa, 22 Januari 2019

Sama seperti kemarin. Hari ini datang konsultasi ke dokter dan USG Transvaginal. Follicles hari ini ada 7 buah dan ada 5 yang sudah besar-besar tapi sisanya masih belum sesuai standar. Jadi masih lanjut suntik sesuai dosis kemarin. Disuntik oleh suster setelah konsultasi ke dokter: Gonal F 300 IU, Pergoveris 1 Ampoule dan Cetrotide 1 Ampoule. Sekalian juga hari ini diambil sample darahnya untuk cek hormon Estradiol.  Saya diinfokan hasil tes hormon Estradiol terakhir adalah 1095 dan dinyatakan siap untuk lanjut OPU. Dari hasi test tersebut, diperkirakan saya memiliki 6 sel telur yang matang dan bisa diambil.

IMG-20190122-WA0000.jpg
Ovidrel Injection

Tepat pk. 19:30 WIB disuruh suntik Ovidrel 250 mcg (pemecah telur) karena OPU akan dijadwalkan tanggal 24 Januari 2019 pagi. Sebelum pulang dibekali 1 tablet Dulcolax Suppo sebagai persiapan OPU.

Rabu, 23 Januari 2019

Pk. 20:00 WIB disuruh memasukkan Dulcolax Suppo ke anus / dubur dengan harapan membersihkan kotoran di usus besar sebelum tindakan anastesi besok. Disuruh puasa makan dan minum (bahkan air putih sekalipun) mulai dari pk. 22:00 WIB.

Ovum Pick Up (OPU)

Kamis, 24 Januari 2019

Disuruh datang ke FFC pk. 06:30 WIB tapi saya dan suami datang agak telat sekitar pk. 07:00 WIB. Kemudian dipasangi jarum infus oleh suster. Sebelum OPU saya diberi infus Intralipid sesuai rekomendasi dokter. Intralipid dibutuhkan untuk pasien yang telah mengalami kegagalan IVF berulang dan dicurigai memiliki natural killer cells. Dari hasil penelitian, intralipid bisa meningkatkan chance embrio untuk survive dan menempel di rahim. Cairan infus intralipid terdiri dari campuran: soy oil, egg yolk, glycerin and water. Intralipid ini tidak termasuk di dalam paket IVF jadi dikenakan extra charge sebesar 1 Juta Rupiah.

Sehubungan dengan dosis obat yang saya gunakan melebihi paket IVF yang disepakati, maka saya harus membayar kelebihannya tersebut sebesar 11 Juta Rupiah. Pembayaran harus dilunasi sebelum prosedur OPU. Jadi total biaya yang dihabiskan untuk program IVF ke-2 ini adalah 80 Juta Rupiah.

Setelah infus intralipid selesai, saya menunggu sekitar 30 menit sampai dokter sudah datang. Dokter yang menangani OPU saya kali ini adalah dr. Diah. Saya disuruh mengenakan pakaian khusus dan masuk ke ruangan OPU. Di ruangan tersebut sudah ada suster yang menunggu dan melakukan persiapan tindakan OPU. Vagina akan dibersihkan terlebih dahulu dan dimasukkan spekulum. Dokter anastesi datang 15 menit kemudian dan mulailah saya dibius. Saat saya sudah tidak sadarkan diri, tindakan OPU dimulai. Sembari saya OPU, pak suami disuruh mengeluarkan sperma untuk disetorkan ke bagian laboratorium.

Ketika sadar, saya masih terbaring di ruang OPU. Kemudian dengan dibantu suster, saya berjalan ke ruang pemulihan. Disitu sudah ada pak suami dan makanan dan teh hangat yang disediakan oleh FFC untuk saya. Saat itu juga saya dikabari kalau jumlah telur yang diambil saat OPU ada 9! Wow! Sungguh diluar ekspektasi. Saya disuruh datang kembali 3 hari kemudian untuk penjelasan Embryo Transfer. Sebelum pulang saya dibekali obat Crinone Vaginal Gel 3 pcs yang berisikan hormon progesteron sintetis untuk dipakai di rumah 1 x 1 pagi hari sebagai persiapan rahim untuk Embryo Transfer.

Embryo Transfer (ET)

Minggu, 27 Januari 2019

Disuruh datang pk. 07:30 WIB untuk ketemu Embryologist dan persiapan Embryo Transfer. Saya dan suami baru bisa ketemu Embryologist sekitar pk. 08:00 WIB. Embryologist yang menemui kami adalah dr. Dianing (Istrinya dr. Malvin). Pada penjelasannya dokter mengatakan, dari 9 sel telur yang diambil, hanya ada 6 yang matang dan memiliki inti sel (sesuai dengan hasil cek hormon estradiol kemarin). Dari 6 sel telur matang itu, setelah dipertemukan dengan sperma suami, yang jadi embryo ada 5. Dari total 5 embryo yang ada, hanya 3 yang layak transfer. Sementara 2 embryo lagi slow growth dan akan dilihat perkembangannya 2 hari lagi, kalau memang tidak berkembang terpaksa harus dibuang. Huhuhu.

Dokter menyarankan untuk mentransfer sekaligus 3 embryo yang ada ke rahim saya. Jadi ada kemungkinan 5-6% akan terjadi kehamilan triplet. Tadinya saya kepikiran untuk transfer 1 embryo saja, dan 2 sisanya disimpan. Tapi ternyata untuk disimpan itu harus sampai blastocyst dulu (pembelahan embryo sampai hari ke-5) dan belum tentu embryo saya bisa survive, selain itu minimum yang disimpan harus ada 2 embryo. Kalau cuma 1 embryo tidak bisa disimpan.

Setelah gundah gulana, akhirnya disepakati 3 embryo langsung ditransfer hari ini juga ke rahim saya. Menurut dokter, rahim ibu adalah inkubator terbaik untuk embryo berkembang dibandingkan laboratorium. So here we are, another IVF tanpa cadangan embryo untuk next program.

Kalau menurut standar yang ada, seharus embryo yang berumur 3 hari ini jumlah sel minimumnya adalah 6 sel. Sementara itu, dari 3 embryo yang ada, hanya 1 yang masuk kategori tersebut (berisi 8 sel), 2 sisanya dibawah standar karena agak lambat pertumbuhannya (hanya berisi 4 dan 5 sel) walaupun masih layak transfer.

Prosedur Embryo Transfer dilakukan saat kantung kemih penuh (makanya disuruh banyak minum sebelumnya) dengan menggunakan USG perut dan tanpa tindakan anastesi. Tapi dengan kondisi leher rahim saya yang bentuknya tidak normal, tindakan Embryo Transfer ini jadi susah. Kalau biasanya pasien normal hanya butuh 10 menit, saya baru bisa ketemu jalan ke rahimnya dalam 30 menit! Tentunya sakit ya saudara-saudara! Diobok sana sini. Gonta-ganti kateter. Bahkan dalam ruangan itu butuh 5 orang supaya bisa menemukan jalan ke rahim saya. Oh My God! Menurut dokter saya tegang sekali sehingga jalan ke rahimnya jadi susah. Gimana tidak tegang sih ya kalau semua tindakannya itu tidak nyaman dan cenderung sakit? Huhuhu. Setelah semua drama yang ada, akhirnya 3 embryo mendarat dengan selamat di dalam rahim. Setelah itu, saya disuruh tetap berbaring di ruangan tersebut dengan posisi panggul lebih tinggi selama 1 jam. Sehubungan dengan suami tidak boleh masuk ke ruangan, jadi saya menghabiskan waktu 1 jam dengan berdoa dan main handphone saja.

Setelah 1 jam saya dipindah ke ruang pemulihan. Kesempatan itu saya pergunakan untuk buang air kecil di toilet karena sudah tidak tertahankan lagi. Setelah itu saya berbaring di ruang pemulihan. Suster datang dan memberikan penjelasan tentang rangkaian obat yang harus saya konsumsi setelah ET selama 2 minggu di rumah. Ada 1 jenis obat yang harus dibeli sendiri karena diluar paket. Obat tersebut adalah Ovidrel Injection Pen 250 mcg seharga Rp. 857.300. Berikut adalah obat-obatan yang diresepkan untuk saya setelah ET:

  • Interdoxin 100 mg caps 2 x 1 hari untuk 5 hari (antibiotik)
  • Ascardia 80 mg tablet 1 x 1 hari untuk 15 hari (pengencer darah)
  • Lameson 4 mg tablet 2 x 2 hari untuk 3 hari (anti radang)
  • Crinone vaginal gel 1 x 1 hari untuk 14 hari (hormon progesteron)
  • Ovidrel injection disuntik subcutaneous (bawah kulit perut bawah) sesuai jadwal yang diberikan: Sesaat setelah ET, hari ke-4 setelah ET, dan hari ke-8 setelah ET

Suplemen yang harus tetap dikonsumsi:

  • Vitamin D3 sebanyak 2.000 IU per hari
  • Asam Folat sebanyak 1.000 mcg / hari
  • Tambahan dari saya: Seloxy tablet 1 x 1 hari (hanya sekedar menghabiskan stok yang ada saja, tidak diwajibkan oleh dokter).

Untuk cerita tentang 2 weeks waiting dan juga hasilnya akan saya tuliskan di post berikutnya.

To Be Continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s