IVF # 2 : After Embryo Transfer (The Result)

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya mengenai prosedur IVF ke-2 yang saya jalani per bulan Januari 2019 di Family Fertility Center (FFC) – RSIA Family Pluit.

Minggu, 27 Januari 2019

Setelah prosedur Embryo Transfer, saya dan suami memutuskan untuk rawat inap sehari di RSIA Family Pluit. Hal itu kami lakukan dengan maksud memaksimalkan perkembangan embryo di dalam rahim. Jarak rumah kami dengan RSIA Family Pluit cukup jauh sehingga ada baiknya beristirahat dulu di rumah sakit dan menghindari guncangan di perjalanan nanti.

Dikarenakan pak suami mau ikutan menginap di rumah sakit untuk menemani saya, akhirnya kami mengambil kamar kelas utama seharga 790 ribu Rupiah per malam. Saat itu keadaan di rumah sakit cukup hectic dan kamar kelas utama hanya tinggal sedikit yang ready. Kami dapat kamar di lantai 1. Sebetulnya kalau dilihat dari desainnya, kamar tersebut adalah kamar anak-anak. Desain wallpaper-nya saja bertemakan karakter Disney. Hahaha. Tapi hal tersebut tidak jadi masalah buat kami karena kami hanya akan menginap semalam saja.

Dari ruang pemulihan Embryo Transfer (ET) saya dijemput oleh suster dari lantai 1. Saya diantar dengan menggunakan kursi roda untuk menuju ke kamar kami di lantai 1. Setelah itu saya mostly hanya berbaring di ranjang dan sesekali ke toilet untuk buang air kecil. Saya menghindari mandi dulu di hari ini karena saya mau fokus lebih banyak berbaring saja. Hal yang saya rasakan setelah ET dan disuntik Ovidrel serta menggunakan Crinone Vaginal Gel adalah perut saya kembung dan banyak kentut. Badan juga berasa hangat tapi telapak kaki suka berasa dingin.

Senin, 28 Januari 2019

Saya check out dari RSIA Family Pluit sekitar jam 10 pagi dengan dibantu oleh pak suami. Kami langsung pulang ke Tangerang dengan menggunakan mobil sendiri. Saya minta ke pak suami supaya menyetir dengan pelan-pelan dan menghindari banyak guncangan. Perjalanan dari RSIA Family Pluit ke Tangerang ditempuh sekitar 1,5 jam.

Mulai hari ini saya ikut langganan catering supaya tidak perlu repot memasak dan lebih terjamin kebersihannya. Sehubungan dengan layanan catering harian di daerah Tangerang Kota cukup terbatas, saya akhirnya langganan catering diet “Hadi Kitchen” cabang Tangerang yang terletak di daerah Gading Serpong.

Catering “Hadi Kitchen” ini hanya melayani di hari kerja, Senin – Jumat saja. Jadi saat weekend saya harus memesan makanan dari Go Food / Grab Food. Menu yang ditawarkan oleh Hadi Kitchen cukup variatif, mostly bentuknya adalah makanan Indonesia. Walaupun harganya cukup mahal (paket Lunch & Dinner 5 hari adalah 650 ribu Rupiah, belum termasuk ongkos kirim area Tangerang Rp. 10.000 per pengiriman), tapi kualitasnya sesuai karena porsi proteinnya banyak sekali. Akan tetapi, dikarenakan saya sedang butuh kalori lebih, saya berpesan ke Hadi Kitchen bahwa saya mau menu karbohidrat saya hanya dalam bentuk nasi. Saya tidak mau berupa kentang, ubi dll karena takutnya tidak kenyang. Selain itu, saya juga minta untuk sayurannya tidak boleh mentah. So far, permintaan saya dipenuhi dengan baik oleh Hadi Kitchen. Pokoknya selama 2 minggu di rumah, saya selalu langganan catering di Hadi kitchen.

Selama di rumah, saya tidak sepenuhnya berbaring di ranjang sepanjang hari. Saya ke toilet untuk mandi dan buang air besar / kecil, nonton TV / Netflix di ruang tamu, sesekali bikin sarapan untuk saya dan suami (walaupun yang gampang saja) tapi lebih sering sih beli saja, keluar masuk rumah untuk mengambil kiriman makanan Go Food / Grab Food, sesekali jemur baju dari mesin cuci dan cuci piring. Saya juga sibuk urusan kirim paket imlek ke keluarga di Tangerang via Go Send. Tapi selama 2 minggu saya berkomitmen tidak keluar rumah, tidak naik turun tangga dan tidak olahraga dulu. Dokter juga tidak mengharuskan saya untuk bed rest. Malahan saya disuruh bergerak supaya peredaran darah ke rahim lancar. Tapi tetap tidak boleh sampai kecapekan.

Seminggu pertama saya mengalami gejala perut kembung, banyak kentut, badan cenderung hangat dan beberapa kali merasakan nyeri perut walaupun durasinya singkat. Payudara juga berasa kencang dan sakit. Berbeda dengan IVF ke-1 dulu, kali ini kulit saya bebas masalah, tidak jerawatan sama sekali. Mungkin efek pengaruh hormonnya berbeda-beda. Bawaannya sering ngantuk juga.

Sesuai saran dari FFC, beberapa kali dalam sehari saya mengajak “ngobrolembryo yang ada di rahim dengan memberikan afirmasi positif. Menghindari semua pikiran yang membuat stress. Pak suami juga disuruh ikutan “ngobrol” dengan embryo.

Senin, 4 Februari 2019

Saya datang ke FFC jam 8 pagi dengan ditemani suami. Hari ini ada agenda untuk ambil sample darah dalam rangka mengecek kadar hormon progesteron dan estradiol dalam tubuh saya. Tapi menurut suster, hasil test ini tidak menjamin keberhasilan program juga. Hasil tes darah ini hanya menunjukkan apakah ada penempelan embrio atau tidak di rahim.

Setelah mengambil sample darah, suster menyuntikkan Ovidrel ke perut bawah saya. Hari ini adalah jadwal suntik Ovidrel terakhir. Setelah itu saya sudah boleh pulang kembali ke rumah sambil menunggu jadwal tes urine (test pack).

Selasa, 5 Februari 2019

Hari ini imlek tapi saya tidak bisa melakukan ritual seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada kumpul keluarga karena suami tidak mau saya kecapekan. Saya dan suami hanya keluar makan siang ke mall sebentar karena hari ini catering saya libur dan agak susah mencari makanan di sekitar rumah karena banyak yang tutup.

Kamis, 7 Februari 2019

Saya tidak lagi merasakan gejala seperti yang saya sebutkan diatas. Entah kenapa. Saya masih berpikiran positif bahwa mungkin gejala yang saya rasakan kemarin itu hanya karena pengaruh suntikan Ovidrel saja dan sekarang Ovidrel sudah tidak dipakai lagi.

Hari ini juga saya terjangkit flu dari pak suami. Walaupun tidak sampai parah tapi saya jadi sering bersin-bersin. Tiap kali bersin saya berusaha supaya tidak terlalu mengguncang perut walaupun pada kenyataannya susah sekali.

Minggu, 10 Februari 2019

Hari ini jadwal test urine dan kondisi saya masih belum pulih benar dari flu. Disarankan untuk menggunakan urine pertama kali setelah bangun tidur pagi. Saya menggunakan test pack yang diberikan oleh FFC. Ternyata hasilnya NEGATIF!

IMG-20190210-WA0000.jpg
Test Urine: Negatif!

Saya dan suami jadi shock dan sedih. Rasanya kita berdua sudah melakukan yang terbaik tapi kenapa nasib kami masih saja begini. Kesedihan ini berlangsung selama 3 hari. Apalagi ditambah saya sedang mengalami lonjakan hormon karena PMS.

Saya mengabari ke suster FFC bahwa hasil test pack-nya negatif. Menurut suster, selama belum mens harus tetap positive thinking karena ada beberapa pasien yang memang hasil tes urinenya “lambat” positif. Saya diminta tetap minum suplemen seperti biasa. Suster juga mengatakan bahwa hasil test darah terakhir saya hormon progesteron dan estradiol-nya tinggi, jadi seharusnya embryo tersebut sudah ada penempelan di rahim. Kalau embryo-nya lemah, menurut suster biasanya sebelum jadwal test urine juga sudah datang mens-nya.

Tanggal 13 Februari 2019

Akhirnya hari mens pun datang. Tidak usah ditanya lagi bagaimana sedihnya perasaan saya karena saya gagal lagi. Saking sedihnya, saya bertanya lagi kepada suami saya (untuk kedua kalinya), apakah dia masih mau tetap bersama saya yang tidak sempurna ini? Daripada terus-terusan berusaha memperbaiki “barang” rusak ini, lebih baik langsung beli “barang” yang baru saja. Saya merelakan suami saya kalau memang dia mau pisah dan memilih wanita lain untuk dijadikan istri. Tapi suami saya tidak bergeming. Sambil memeluk saya, dia bilang bahwa dia hanya sayang saya dan mau menghabiskan sisa umurnya bersama saya. Tidak peduli betapa tidak sempurnanya saya.

Mendengar kata-kata pak suami tersebut, saya tambah berurai air mata. Walaupun saya belum beruntung dalam urusan anak, tapi saya diberikan berkat oleh Tuhan berupa suami yang luar biasa. Suami saya adalah tipe orang yang kurang ekspresif. Jarang sekali dia bisa ngomong manis alias gombal ke saya. Tapi apa yang telah dia lakukan untuk saya menyatakan bahwa dia benar-benar mencintai saya apa adanya. Terima kasih Tuhan.. Saya sungguh istri yang beruntung!

So, What’s next? Sepertinya kami berencana untuk melanjutkan IVF ke-3 di FFC tahun ini juga karena mengingat umur saya di tahun 2019 ini sudah 36 tahun. Tapi ini adalah usaha terakhir kami. Saya dan suami sepakat bahwa kalau IVF ke-3 ini masih gagal juga, kami harus move on dan switch tujuan hidup kami tanpa ada anak di dalam rencana tersebut. Kami masih belum memutuskan apakah kami nantinya akan adopsi anak ataukah hidup tanpa anak (child free). Jadi, para followers dan pembaca jangan bosan ya kalau nanti saya masih posting cerita tentang IVF.

7 pemikiran pada “IVF # 2 : After Embryo Transfer (The Result)

  1. Semangat cici!! Aku dah lama ngikutin blognya cici. Sekarang puji Tuhan aku udah hamil 17 weeks, hasil IVF di BIC dengan dr Arie Polim. Kalau aku kasusnya kista endometriosis (udah op 2x) dan suami morfologi spermnya kurang bagus. Umur kami sekarang 30 tahun.

    Sekedar sharing, temenku ada yang kasusnya mirip, low AMH juga (0.14). Dia konsul ke dr Andon Hestiantoro (di YPK ato RSCM Kencana) lalu di-refer ke dr Paul Tay Yee Siang di KL https://www.princecourt.com/doctors/dr-paul-tay-yee-siang/. Lalu dia IVF di KL waktu umur 29 tahun. Yang pertama gagal, yang kedua dari frozen embryo, masuk 3 jadi 1. Sekarang anaknya udah lahir, cewe cute banget. Dulu dia juga sempet divonis sama dokter no chance, disuruh adopsi, bahkan ada yg suruh tanem telur di Jepang. God’s miracle is real!

    Jadi mungkin cici mau consider ke dr Andon… kabarnya dia spesialis low AMH cases juga. Aku setuju sih kalau sekali lagi gagal IVF, mungkin perlu move on.

    Sekedar sharing lagi, ada buku yg bagus judulnya ‘Empty Womb, Aching Heart: Hope and Help for Those Struggling With Infertility’, tentang making peace with infertility and accepting childlessness. Aku selalu baca waktu setiap bulan datang mens dan aku sedih karena gagal lagi dan lagi. Bagus banget bukunya, so calming, dan every chapter yang diceritakan adalah real story dari berbagai couples yang finally accept their childlessness but still they are very happy in life.

    Sekian sharingnya, hope it’s useful!! Mungkin perjalanan aku ga sejauh perjalanan cici. But trust me, I can relate to how you feel. *hugs*

    All the best of luck!! Keep praying!

    Suka

    • Congrats for your pregnancy ya! I’m feel happy for you.
      Thanks juga buat sharing dan perhatiannya.. jd terharu aku. Hehehe.
      Btw, buku itu beli dimana Pris? Kemaren aku nanya ke Periplus tapi ga ada.. Apa ga masuk ke Indo bukunya?

      Suka

      • Aku belinya di kindle store ci jadi baca di kindle gitu. Di toko buku emang ga liat sih. Harus order from overseas kyknya klo mau yang hard copy nya. It’s a really good book!

        Suka

  2. Aku terharu banget bacanya, aku jg pejuang dua garis, udah bbrp kali promil pindah dokter, dan baru ketauan bulan kmrn klo ternyata aku bermasalah sama auto imun. Auto imunku cukup tinggi jd dy bisa nyerang sperma krn dianggap benda asing/virus. Skrg lg minum obat penurun imun, soalnya percuma insem atau IVF krn tubuhku nolak sperma. Msh ada harapan hamil sih krn kondisi rahim&sel telur aku baik2 aja. Sama2 berjuang ya mbak, beruntung banget kita punya suami yg sabar.

    Suka

    • Ternyata masih ada teman senasib dan seperjuangan walaupun case kita beda ya Mba.. Memang perjuangan TTC tiap orang berbeda-beda tapi tujuannya tetaplah “dua garis”. Semoga secepatnya kita bisa diberi rejeki oleh Tuhan biar bisa “naik kelas” dari ujian hidup ini ya. Hehe. Selama proses berjuang ke arah sana, kita harus terus mensyukuri berkat yang sudah diberikan ke kita, salah satunya adalah suami yang baik, sabar dan sayang sama kita. Pria yang keberadaannya mungkin sudah langka di dunia ini.
      Tetap semangat untuk berjuang ya!

      Suka

  3. Halo cici salam kenal. Kita sama2 ivf survivor. Aku skrg lg 2ww. Fyi, ini tanam embrio aku yg ke 4 (et, fet, et, fet). Udh prnh cek kekentalan darah blm? Soalnya aku ada kekentalan darah yg menyebabkan embrio ga menempel.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s