Perjalanan AMH Saya

Teman-teman pengikut lama blog ini pasti tahu tentang cerita perjuangan TTC (Try To Conceive) saya. Salah satu penyebab kenapa saya belum hamil sampai sekarang adalah karena saya memiliki kadar hormon AMH yang rendah.

AMH adalah singkatan dari Anti Mulerrian Hormone. Kadar AMH dalam darah seorang wanita erat kaitannya dengan jumlah cadangan sel telur di ovarium. Semakin rendah nilai AMH menunjukkan cadangan sel telurnya semakin sedikit. Selain itu, nilai AMH juga digunakan untuk menilai seseorang termasuk kategori poor responder atau high responder terhadap ovarian stimulation (yang biasa digunakan dalam IUI / IVF). Berikut adalah standarisasi level AMH dalam tubuh wanita:

  • Berdasarkan usia:
    – Usia Produktif ( > 18 tahun) = 0,16 – 12,6 ng/mL atau 1,14 – 89,96 pmol/L
    – Usia Post Menopause = < 0,16 ng/mL atau < 1,14 pmol/L
  • Berdasarkan response:
    Hyper Responder = > 4,6 ng/mL atau > 32,84 pmol/L
    Normal Responder = 1,2 – 4,6 ng/mL atau 8,56 – 32,84 pmol/L
    Poor Responder = < 1,2 ng/mL atau < 8,56 pmol/L
  • PCOS Suspected = > 7,3 ng/mL atau > 52 pmol/L

Selama 6 tahun mengikuti program hamil di berbagai klinik dan dokter, tercatat ada 3 kali saya melakukan pemeriksaan nilai AMH. Berikut rekapannya:

5 November 2015 (Haid hari ke-2)

Sebagai persiapan untuk pelaksanaan IUI (Inseminasi) di BIC (Bunda International Clinic), dokter Taufik Jamaan mewajibkan saya untuk melakukan serangkaian pengecekan hormon reproduksi. Salah satunya adalah hormon AMH. Pemeriksaan saya lakukan di Laboratorium Klinik Prodia di Jakarta.

Hasil pemeriksaan ini cukup membuat shock karena AMH saya rendah sekali untuk wanita usia 32 tahun. Kadar AMH saya hanya 0,3 ng/mL. Saya pun dikatakan mengalami menopase dini (premature ovarian failure).

7 Juni 2016 (Haid hari ke-2)

Saya pergi ke Penang dalam rangka mencari second opinion untuk program hamil. Pilihan dokter saya dan suami jatuh ke dokter Devindran di LSC (Loh Guan Lye Specialist Centre). Dokter Devindran menyuruh saya dan suami melakukan berbagai pemeriksaan darah dan hormon. Salah satunya adalah AMH. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium LSC.

Angka AMH saya disini lebih baik daripada pemeriksaan sebelumnya walaupun masih termasuk kategori rendah juga, yaitu 0,99 ng/mL. Sejujurnya saya agak bingung kenapa bisa berbeda sekali hasilnya. Waktu itu saya sempat bertanya ke dokter di Jakarta dan katanya kemungkinan beda metode pengukurannya di laboratorium.

Dengan AMH rendah, dokter Devindran menyarankan saya mencoba IVF / bayi tabung. Tapi, kalau percobaan IVF-nya ternyata gagal, saya disuruh mempertimbangkan opsi donor sel telur atau adopsi anak. Dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk tidak melakukan IVF di Penang dan lebih memilih Jakarta sebagai tempat pelaksanaan IVF-nya.

15 Desember 2018 (Haid hari ke-2)

Kali ini saya berniat untuk program hamil di FFC (Family Fertility Center) di RSIA Family Pluit. Saat itu saya memulai pemeriksaan dengan dokter Malvin Emeraldi. Beliau mewajibkan saya dan suami mengulang semua pemeriksaan yang telah saya lakukan sehubungan dengan program hamil yang lalu karena datanya dianggap sudah tidak valid lagi. Salah satu yang diperiksa dalam test darah dan hormon adalah parameter hormon AMH. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium RSIA Family Pluit.

Hasil pemeriksaan AMH saya adalah 0,67 ng/mL. Masih kategori rendah tapi kalau mau diperbandingkan dengan sesama hasil laboratorium di Jakarta yang seharusnya metode pengukuran di laboratorium-nya sama, angka ini jauh lebih baik. Padahal sudah 3 tahun berselang dimana seharusnya mungkin AMH saya sudah turun dari angka 0,3 ng/mL.

Cerita detail tentang kisah IUI dan IVF saya bisa dibaca pada post tahun-tahun sebelumnya. Tidak akan saya tulis lagi disini karena kepanjangan. Silakan gunakan tombol search pada halaman muka blog ini.

Dari pengalaman saya diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai AMH bukanlah harga mati. Angka tersebut bisa berubah-ubah tergantung kondisi tubuh kita. Jadi untuk teman-teman yang di-vonis low AMH seperti saya, jangan terlalu sedih. Kita masih bisa mengusahakannya ke angka yang lebih baik. Lagipula, kalaupun kita memiliki kekurangan dari segi kuantitas sel telur, bukan berarti kita tidak bisa memiliki sel telur yang berkualitas bukan? Percayalah bahwa selama kita masih memiliki sel telur (walaupun jumlahnya tidak banyak), masih ada peluang kita bisa hamil. Saya juga masih berjuang untuk bisa ke arah sana. Tetap semangat ya untuk teman-teman senasib!!

Menaikkan nilai AMH

Ada perubahan mendasar dalam hidup saya dari tahun 2015 ke 2018, yaitu saya mulai menganut healthy lifestyle. Pada awalnya saya mulai menjalani healthy lifestyle ini bukan untuk masalah hormon, akan tetapi supaya bisa kurus kembali setelah kegemukan akibat serangkaian program hamil. Tapi tidak disangka-sangka ada pengaruh terhadap hormon juga walaupun hasilnya memang tidak instan dirasakan. Berikut adalah hal-hal yang saya lakukan dan memberikan efek positif ke nilai AMH saya:

  1. Rajin berolahraga
    – Jenis olahraganya boleh apapun yang disukai. Diutamakan olahraga cardio karena salah satu efeknya adalah melancarkan peredaran darah di dalam tubuh.
    – Durasi olahraganya 45 – 60 menit per hari.
    – Disarankan untuk melakukan olahraga 4-5 kali dalam seminggu.
  2. Jaga pola makan
    – Makan seimbang: Karbohidrat, protein, lemak dan serat.
    – Banyak makan buah dan sayuran setiap hari.
    – Kurangi makan junk food dan processed food (makanan instan / kaleng).
    – Konsumsi cukup protein. Diutamakan dari telur, daging ayam (diutamakan ayam kampung) dan ikan. Kurangi konsumsi daging merah.
    – Kurangi gula. Termasuk juga segala bentuk olahan kudapan yang mengandung gula tinggi seperti cake dan aneka dessert.
    – Kurangi tepung-tepungan (termasuk tepung gluten free).
    – Minum susu 1 gelas per hari (kalau saya sukanya susu low fat). Bisa juga disubstitusi dengan yoghurt.
    – Cukup minum air putih.
    – Menghindari makan daging mentah / setengah matang.
  3. Jaga berat badan ideal
    Jangan terlalu kurus atau terlalu gemuk karena bisa mempengaruhi produksi hormon dalam tubuh. Jaga berat badan di berat ideal. Ideal disini maksudnya bukan berarti harus langsing laksana model catwalk ya. Tapi lebih ke bentuk fit dan bugar.
  4. Jauhi stress
    Faktor yang sangat berpengaruh sekali dengan pembentukan hormon di dalam tubuh. Sebagaimana kita ketahui, otak terutama bagian hipothalamus memiliki peranan dalam pengeluaran hormon-hormon termasuk hormon reproduksi. Jadi jangan bebani otak kita dengan hal-hal yang tidak perlu. Sebisa mungkin jauhi yang namanya stress.
  5. Tidur yang cukup
    Untuk tidur malam hari, setidaknya harus tidur minimum 6 jam setiap harinya. Kalau saya, karena hanya ibu rumah tangga, saya punya kesempatan untuk tidur siang juga, walaupun tidak rutin. Durasi tidur siangnya sekitar 1 jam sudah cukup.

Selain itu, kata dokter Malvin, untuk kasus low AMH sebaiknya menghindari operasi-operasi yang berhubungan dengan ovarium kecuali efek manfaatnya lebih besar. Hal ini karena prosedur operasi akan mempengaruhi cadangan sel telur yang ada. Pokoknya jumlah sel telur yang ada harus disayang-sayang biar tidak terbuang percuma.

Untuk kasus low AMH, beberapa dokter juga akan memberikan resep obat DHEA (Dehydroepiandrosterone) dengan dosis 25-75 mg per hari. Saya sendiri sempat beberapa kali minum DHEA sesuai anjuran dokter, tapi hanya dalam durasi singkat. Tujuan pemberian DHEA adalah untuk mengkondisikan sistem imun tubuh supaya bisa merespon pemberian ovarian stimulation dengan lebih baik. Penggunaan DHEA tidak boleh untuk jangka panjang dan harus diawasi oleh dokter karena salah satu efek samping DHEA adalah munculnya kista.

Begitulah pengalaman saya seputar AMH. Apakah diantara teman-teman disini juga pernah mengalami hal demikian? Kira-kira hal apalagi menurut teman-teman yang sekiranya bisa membantu menaikkan nilai AMH? Silakan share di kolom komentar ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s