Road To IVF # 2 : Hysteroscopy

Hai semua..!

Maaf baru sempat update blog lagi. Saya jadi lebih sibuk sejak menjalani proses screening test pre-IVF di FFC (Family Fertility Center) RSIA Family Pluit dan menjelang sidang thesis pak suami. Pada tulisan ini saya akan membahas mengenai Hysteroscopy / Histeroskopi yang merupakan screening test wajib pre-IVF di FFC.

Hysteroscopy adalah suatu prosedur medis yang dilakukan dokter dengan memasukan selang kecil yang memiliki kamera (disebut juga dengan hysteroscope) ke dalam rahim seorang wanita. Tujuan pemeriksaan ini untuk memeriksa kondisi serviks dan dinding rahim. Pemeriksaan ini penting adanya karena dinding rahim adalah tempat menempelnya embrio kelak. Kalau dinding rahimnya tidak kondusif, entah karena ada “pengganggu” atau infeksi, maka embrio tidak akan bisa menempel dengan baik. Jadi, sebelum memulai IVF, ada baiknya untuk melakukan pemeriksaan ini.

Ada 2 jenis Hysteroscopy berdasarkan tindakannya, yaitu Hysteroscopy Office dan Hysteroscopy Operatif. Untuk Hysteroscopy Office, yang dimasukkan ke dalam rahim hanya hysteroscope dengan tujuan pemeriksaan untuk diagnosa. Sementara Hysteroscopy Operatif menggabungkan pemeriksaan hysteroscope tersebut dengan prosedur operasi. Oleh karena itu, Hysteroscopy Operatif biayanya lebih mahal karena ada pembiusan. Dalam tulisan ini, yang akan saya bahas hanya seputar Hysteroscopy Office saja.

Saya dapat jadwal pemeriksaan Hysteroscopy dari dokter Malvin tanggal 28 Desember 2015. Pada awalnya saya takut untuk menjalani pemeriksaan ini karena dari hasil baca-baca di forum online, kebanyakan dari mereka merasa sakit saat melakukan pemeriksaan Hysteroscopy. Tapi, karena Hysteroscopy adalah pemeriksaan wajib pre-IVF di FFC, mau tidak mau saya harus menjalaninya.

Persiapan sebelum Hysteroscopy

Sehari sebelum jadwal Hysteroscopy, yaitu tanggal 27 Desember 2018, saya disuruh minum obat Gastrul tablet dengan dosis 2 tablet sekali minum, tepat pk. 20.00 WIB. Tujuannya adalah untuk melunakan leher rahim sehingga alat hysteroscope bisa lebih mudah untuk masuk menuju rahim. Sebelumnya saya memang sudah diinformasikan bahwa efek dari obat Gastrul ini adalah keluar flek darah. Tapi ternyata efeknya sangat dahsyat untuk saya!

Setelah meminum obat Gastrul sesuai anjuran dokter, 15 menit kemudian saya mulai merasa meriang. Tidak lama sesudah itu saya merasakan sakit perut bawah seperti mules mau BAB hanya saja lebih parah. Saya hanya bisa rebahan di ranjang saat itu. Miring kiri, miring kanan, tapi tetap saja rasanya tidak ada posisi berbaring yang bisa meredakan sakit ini. Setelah itu, lanjut saya jadi gemetaran. Gigi gemerutuk seperti orang kedinginan. Suami hanya bisa duduk menemani di ranjang sambil mengelus tangan saya dan berusaha menenangkan. Tetapi hal itu tidak memberikan pengaruh apa-apa karena saya sedang berjuang melawan sakit yang saya rasakan. Setelah 1,5 jam, saya merasa lebih baik. Sudah tidak gemetar dan kontraksi perut bawah juga berkurang. Tidak lama kemudian flek darah mulai keluar sedikit. Untungnya saya sudah memakai pembalut sesaat sebelum minum obat Gastrul. Walaupun masih berasa tidak nyaman, saya berusaha untuk tidur karena saya tidak mau kurang istirahat untuk menghadapi pemeriksaan Hysteroscopy esok hari.

Dari hasil browsing di internet, Gastrul tablet yang mengandung Misoprostol 200 mcg di tiap tabletnya, juga digunakan sebagai obat aborsi di usia kehamilan muda! Ya Tuhan.. Tidak terbayang oleh saya bagaimana sakitnya proses aborsi tersebut. Saya yang tidak mengeluarkan janin saja sakitnya sedemikian rupa. Bagaimana dengan sakit fisik yang diderita wanita yang harus mengeluarkan janinnya? Please jauhi obat ini kalau memang tidak dianjurkan oleh dokter kalian. Pokoknya HARUS DENGAN RESEP DOKTER!

28 Desember 2018 (Hari ke-15 haid)

Saya bangun pagi karena tidurnya tidak nyenyak semalam akibat efek obat Gastrul. Saat mandi saya melihat flek darah yang keluar lumayan banyak seperti haid hari ke-2. Oleh karena itu, saya masih tetap menggunakan pembalut sampai nanti fleknya berhenti.

Jadwal Hysteroscopy saya hari ini adalah pk. 07.30 WIB di FFC dengan dokter Malvin. Saya tiba pk. 07.15 WIB dan menunggu sebentar sampai dipanggil ke ruangan dokter. Tidak lama kemudian, saya dipanggil masuk. Dokter Malvin menjelaskan tentang hasil tes darah dan hormon saya juga suami. Hasilnya bagus dan lolos screening test pre-IVF. Hehe. Dari tes hormon ini, ada suatu angka yang membuat saya takjub, yaitu kenaikan hormon AMH saya yang cukup signifikan! Khusus topik ini akan saya tulis terpisah saja biar tidak kepanjangan.

Back to the topic, saya disuruh duduk di kursi pemeriksaan dengan posisi mengangkang. Suster memasukkan obat anti nyeri, Ketros Suppo, ke dalam dubur saya. Setelah itu suster mulai membersihkan vagina saya dengan cairan khusus. Tidak lama kemudian dokter masuk dan memulai pemeriksaan Hysteroscopy.

Awalnya, cairan akan dimasukkan ke vagina sampai memenuhi rongga rahim. Kurang lebih sama seperti prosedur HSG (Hysterosalpingogram). Hanya saja setelah itu dokter memasukkan selang kamera hysteroscope. Rasanya mules sekali di bagian perut bawah seperti mau BAB! Agak sakit juga ketika alat hysteroscope itu masuk ke rahim. Setelah mengitari berbagai lokasi rahim dan mengambil beberapa foto, dokter menyatakan rahim saya ada polyps dan ketebalannya tidak normal. Saya diharuskan untuk menjalani prosedur kuretase untuk membersihkan rahim saya dari faktor pengganggu sebelum memulai IVF nanti.

Berikut saya sertakan link yang membahas tentang polyps / polip rahim: https://www.alodokter.com/polip-rahim. Dari semua gejala yang dituliskan disana, tidak ada satupun yang saya rasakan selama ini. Siklus haid hampir selalu lancar, 28 – 32 hari. Tidak ada terasa nyeri perut juga saat haid. Oleh karena itu, saya cukup terkejut dengan penemuan polyps ini. Rupanya tidak ada gejala bukan berarti jaminan sehat dan tidak ada masalah. Terbukti dengan hasil Hysteroscopy ini.

Saya dijadwalkan untuk tindakan kuretase seminggu dari sekarang, yaitu tanggal 5 Januari 2019. Dikarenakan saya ingin biaya kuretase-nya bisa di-cover asuransi, maka saya mengajukan untuk rawat inap saja di RSIA Family. Suster FFC kemudian berkordinasi dengan suster di kamar bersalin RSIA Family lantai 2 dan menginformasikan kedatangan saya kelak di H-1 sebelum jadwal kuretase.

Oh iya, bagi kalian yang hasil Hysteroscopy-nya bagus dan tidak ada masalah di rahim, kalian tidak perlu menjalani kuretase. Prosedur yang akan dilakukan untuk kalian hanya Scratching, yaitu melukai sedikit dinding rahim supaya embrio lebih gampang menempel. Ibarat kata, seperti tanah yang digemburkan supaya bisa subur.

Selesai urusan Hysteroscopy, saya menemani pak suami untuk test sperma. Sebelumnya memang saya dan pak suami sudah diinformasikan untuk terakhir berhubungan di tanggal 24 Desember 2018 sehingga umur sperma yang akan di-test masih dibawah 5 hari. Hasil test sperma akan diinformasikan ketika jadwal kontrol berikutnya.

Kesan terhadap Hysteroscopy

Hysteroscopy adalah pengalaman pertama saya. Dari sekian banyak dokter kandungan yang saya kunjungi untuk program hamil selama 6 tahun ini, tidak ada satupun yang merekomendasikan saya untuk menjalani Hysteroscopy ini selain dokter di FFC. Saya kemudian berasumsi bahwa kegagalan IVF pertama saya di BIC (Bunda International Clinic), selain faktor belum rejeki dari Yang Kuasa, juga karena masalah rahim ini sehingga embrio tidak mau menempel di rahim saya. Padahal embrio tersebut adalah embrio dengan grade excellent yang pembelahan sel-nya sudah bagus sekali. Seandainya hal ini bisa diketahui lebih awal mungkin chance keberhasilan IVF pertama saya bisa lebih tinggi.

So, bagi teman-teman yang sudah pernah mengalami gagal IVF, diluar faktor embrio dan Yang Kuasa tentunya, tidak ada salahnya untuk melakukan pemeriksaan Hysteroscopy ini. Mungkin saja rahim kita kurang sehat sebagai tempat menempelnya embrio. Kalau ketahuan lebih dini, bisa diobati segera sebelum memulai program hamil lagi.

Fun Facts

Sekitar tahun 2015, kalau tidak salah, saya juga pernah didiagnosa ketebalan rahim tidak normal dan dianjurkan untuk kuretase oleh dokter Budianto Tjandra di RS Siloam Karawaci. Hanya saja saat itu diagnosa hanya didasarkan alat USG Transvaginal sehingga saya tidak terlalu percaya. Apalagi, setelah dari sana, saya langsung konsultasi mencari second opinion ke dokter Irham Suheimi di BIC tentang masalah ketebalan rahim ini. Dokter Irham mengatakan bahwa ketebalan rahim saya normal. Rahim saya agak menebal karena masa subur (tengah siklus haid) dan masih di angka normal. Oleh karena itu, saya tidak menuruti anjuran untuk kuretase.

EXPENSES:

  • Biaya Hysteroscopy Office di FFC = Rp. 2.500.000
  • Biaya test sperma suami di FFC = Rp. 800.000
  • Biaya administrasi = Rp. 55.000

Total Biaya = Rp. 3.355.000

3 pemikiran pada “Road To IVF # 2 : Hysteroscopy

  1. Halo mba, terima kasih sharing nya yg sangat bermanfaat untuk saya, kebetulan saya ini juga baru mengalami kegagaln dalam IVF dan mungkin saya mau mencoba histeroskopi. Ohiya boleh kah saya sharing2 pengalaman dengan mba?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s