Short Getaway Singapore: ArtScience Museum, VivoCity and Rainforest Lumina

Dikarenakan sudah sering ke Singapore, saya pun lupa kali ini sudah kunjungan ke berapa. Hahaha. Sepertinya saya sudah ke Singapore sekitar 5 kali dengan teman travel yang berbeda-beda: pak suami, adik perempuan saya, dan orang tua saya. Hampir semua wahana permainan (yang harganya reasonable buat kantong saya) dan tempat wisata di Singapore sudah dikunjungi. Pada saat pak suami mendadak mengajak liburan ke Singapore karena dia lagi penat dengan kerjaan dan kuliah, saya bilang ke dia kalau saya tidak mau pergi ke tempat-tempat yang sudah dikunjungi. Saya merasa rugi harus bayar mahal untuk mengulangi pengalaman yang sama. Hahaha. Oleh karena itu, keberangkatan kali ini kami mau mencoba sesuatu yang berbeda di Singapore.

Perburuan tiket pesawat pun dimulai. Dikarenakan agak mendadak, harga tiket pesawat yang tersedia jatuhnya lebih mahal daripada kalau beli jauh-jauh hari. Pak suami membeli tiket Scoot Jakarta-Singapore untuk 2 orang PP sebesar 3,7 juta Rupiah. Setelah tiket pesawat confirmed, kami pun mengabari kedatangan kami ke dua orang teman kuliah kami dulu yang sekarang berdomisili di Singapore untuk sekedar temu kangen. Hehehe. Teman kami mengundang kami untuk datang berkunjung ke kediaman mereka di Singapore. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk melihat bentuk properti yang ada di Singapore. Maklumlah selama travelling disana, kami tidak pernah menaruh perhatian pada properti orang-orang.

Sabtu, 29 September 2018

Pesawat Scoot kami landing di Changi Airport pk. 12:30 siang. Setelah mengurus imigrasi, kami bergegas ke stasiun MRT Changi yang ada di Terminal 2. Kebetulan kami masih menyimpan kartu Ez-link kami yang lama dan masih memiliki saldo sehingga kami tidak perlu membeli kartu yang baru.

Tujuan pertama kami adalah ke rumah teman kami yang ada di Bedok Court. Kami sampai disana sekitar pk. 13:30 dan langsung dijamu makan siang. Menu saat itu adalah Tian-Tian Hainanese Chicken Rice yang konon terkenal di Singapore. Ternyata memang nasi hainan-nya benaran enak!

Pertama kalinya memasuki rumah teman kami itu, kami agak terkejut dengan luas rumahnya. Ditambah lagi ada teras depan yang cukup luas. Jujur saja, mindset awal kami adalah rumah di Singapore pasti kecil-kecil karena harga properti disana mahal sekali. Eh rupanya hal ini tidak berlaku di rumah teman saya. Jadi menurut penjelasan teman saya itu, rumah hunian tersebut adalah tipe condominium yang dulunya milik pemerintah dan kemudian di-take over pihak swasta. Kalau di Indonesia tipe properti ini disebut juga apartemen, walaupun sampai sekarang saya belum pernah melihat apartemen yang punya teras (beda dengan balkon lho ya).

Setelah obrolan selesai, kami pamit pulang karena belum check in ke hotel dan ada rencana mau berkunjung ke rumah teman kami yang lain di sore hari. Hotel kami terletak di daerah Bugis, tepatnya di Albert Street. Nama hotelnya Village Hotel Albert Court. Kalau untuk ukuran harga hotel bintang 4 di Indonesia, hotel ini cukup mahal dengan harga 2,2 juta Rupiah untuk 2 malam. Kemungkinan hal tersebut juga dipengaruhi oleh harga kurs SGD yang semakin melambung dan mencapai 10.900!

PhotoGrid_1539333555541.jpg
Suasana Village Hotel Albert Court saat malam hari

Proses check in di hotel berjalan lancar dan kami langsung bisa masuk ke kamar. Kamar hotelnya bersih, rapi dan nyaman. Setelah istirahat sebentar dan mandi, kami berangkat ke rumah teman kami yang terletak di Hougang dengan menggunakan MRT. Rumah teman kami di Hougang juga lumayan luas walaupun tidak memiliki teras. Interior rumahnya chic dan modern karena dia baru saja merenovasi rumahnya. Menurut teman kami, tipe rumahnya tersebut adalah rumah susun dari HDB (Housing & Development Board) Singapore. Tidak ada fasilitas semacam kolam renang atau lapangan olahraga seperti condominium. Teman saya juga bercerita tentang mahalnya rumah susun HDB Singapore. Kisaran harganya mulai dari SGD 400 ribu – 1 juta, tergantung lokasi daerahnya. Jadi kalau ada orang yang punya landed house di Singapore bisa dipastikan kalau dia adalah orang yang super kaya! (Langsung teringat novel dan film “Crazy Rich Asian”).

Lagi-lagi di rumah teman kami ini, kami dijamu makan malam. Kali ini kami dijamu dengan menu local Singapore ala hawker. Ada berbagai menu yang disajikan saat itu: BBQ Sting Ray, Hokkien Mee, Char Kway Teow, Lady Finger a.ka Ocra, Rojak Singapore, dan Oyster Omelette. Semua makanannya menurut saya enak-enak lho! Hahaha. Setelah acara makan dan ngobrol selesai, kami pamit pulang ke hotel sekitar jam 9 malam.

Minggu, 30 September 2018

PhotoGrid_1539333574584.jpg
Pemandangan pagi hari Singapore saat pak suami jogging

Pak suami bangun pagi untuk jogging di seputaran Marina Bay Sands dan Gardens By The Bay. Total jarak yang ditempuh sekitar 5 km. Saya tidak ikut karena masih mau tidur lagi. Hahaha. Setelah pak suami kembali ke hotel dan mandi, kami bersiap-siap untuk pergi makan siang.

Kami makan siang di food court Marina Bay Sands. Setelah makan, kami berjalan ke ArtScience Museum yang masih berada di area Marina Bay Sands. Tujuan kami adalah mengunjungi pameran “Marvel Studios: Ten Years Of Heroes” dan “Future World”. Kami membeli tiket terusan di loket untuk 2 pameran sekaligus dengan harga yang lebih murah, yaitu SGD 32 per orang.

Marvel Studios: Ten Years Of Heroes

Saat kami datang kesana, 30 September 2018, adalah hari terakhir pameran Marvel Studios. Sebenarnya untuk masuk ke pameran ini ada entry time-nya, sesuai yang tertera di tiket. Tujuannya supaya pengunjung yang ada di dalam ruang pameran bisa dibatasi sehingga tetap nyaman menikmati karya yang ada. Tapi, karena saat kami datang kesana, sekitar pk 13:00, pengunjungnya masih sepi sehingga kami bebas masuk tanpa mempersoalkan entry time.

PhotoGrid_1539333290789.jpg

Kalau dibilang penggemar Marvel atau tidak, sebetulnya saya dan suami biasa-biasa saja. Tapi, kami menyukai dan selalu menantikan karya film superheroes Marvel. Pameran ini menampilkan karya film superheroes Marvel selama kurun 10 tahun terakhir, dari Iron man 2008 sampai dengan Avengers: Infinity Wars 2018. Pada kesempatan ini kita bisa berfoto bersama figure superheroes Marvel yang ditampilkan secara spektakuler.

PhotoGrid_1539333474745.jpg
Pak suami dan Iron Man
PhotoGrid_1539333445109.jpg
Thor dan Hulk
PhotoGrid_1539333305249.jpg
Black Panther

Begitu keluar dari ruang pameran kita akan memasuki toko merchandise Marvel. Di area toko ini ada tempat kita bisa berfoto dengan poster jajaran kru film Marvel. Setelah selesai melihat seluruh pameran Marvel, kami melanjutkan ke pameran berikutnya: Future World.

Future World

Saat masuk ke ruang pameran Future World, saya dan suami berdecak kagum dengan apa yang kami lihat. Baru kali ini rasanya kami melihat digital arts yang memadukan cahaya, gambar, sinar dari projector dengan sensor tubuh. Jadi misalnya di lantai ada ilusi gambar arus sungai yang ditembakkan oleh projector dan saat kita menginjakkan kaki di suatu titik, maka arus sungai akan terbelah melewati kaki kita. Keren! Ada juga area mewarnai kertas gambar untuk di-scan supaya masuk ke layar interaktif. Terakhir ada ruangan yang dipenuhi lampu LED yang memainkan berbagai macam warna dan pola sehingga membuat ilusi kita berada di dalam ruangan penuh kristal kaca.

PhotoGrid_1539333636954.jpg

PhotoGrid_1539333653937.jpg

Sekitar pk. 15:00 kami keluar dari ArtScience Museum dan melanjutkan perjalanan ke VivoCity.

Info:
https://id.marinabaysands.com/museum/future-world.html
VivoCity

Tujuan utama kami mampir ke tempat perbelanjaan ini adalah pameran lampion Disney Tsum Tsum yang diadakan di Skypark lantai 3. Pameran lampion ini gratis dan terbuka bagi semua pengunjung mall. Saat kami kesana, lampu lampion belum menyala karena masih sore dan terang. Tetapi hal itu tidak mengurangi antusiasme para pengunjung untuk berfoto disana. Semua lampionnya lucu dan menggemaskan! Sayangnya pameran ini hanya berlangsung sampai tanggal 30 September 2018 saja.

PhotoGrid_1539333172964.jpg
Kebetulan lagi terik sekali pas ke tempat ini
PhotoGrid_1539333235689.jpg
Tunnel Disney Tsum Tsum ini selalu ramai pengunjung
PhotoGrid_1539333153653.jpg
Pohon Sakura Disney Tsum Tsum

Kami menyempatkan diri untuk jajan dan dinner dulu di food court VivoCity yang bernama Food Republic sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Kami dapat rekomendasi dari teman kami untuk mencoba rojak disini dan ternyata memang enak! Pantas saja cukup antri di counter-nya.

PhotoGrid_1539333614828.jpg
Rojak Singapore di Food Republic VivoCity

Rainforest Lumina

Tempat tujuan terakhir kami hari ini adalah Rainforest Lumina. Lokasi Rainforest Lumina ini ada di Singapore Zoo dan hanya buka malam hari pk. 19:30-24:00. Wahana ini baru dibuka bukan Juli 2018 sehingga masih terhitung baru di Singapore. Rainforest Lumina memberikan kita a multimedia night walk experience dengan efek audio-visual.

PhotoGrid_1539333046573.jpg

Kami pergi ke Singapore Zoo dengan menggunakan bus 138 dari stasiun Ang Mo Kio. Sesampainya di Zoo kami langsung ke loket untuk membeli tiket masuk Rainforest Lumina. Tidak terlihat antrian yang panjang saat itu. Harga tiket masuk adalah SGD 22 per orang. Dikarenakan kondisi yang gelap sepanjang area Rainforest Lumina, agak susah untuk mengambil foto yang bagus di tempat ini jadi kita lebih disarankan untuk feel the experience.

PhotoGrid_1539333110035.jpg

Menurut pendapat saya, Rainforest Lumina cukup bagus dan kreatif. Kebun binatang bisa disulap menjadi tempat penuh lampu, projector dan speaker untuk memberikan tampilan yang berbeda. Akan tetapi, kalau saya disuruh memilih antara Zoo dan Rainforest Lumina ini, saya lebih memilih Zoo. Lebih banyak yang bisa dilihat di Zoo daripada di Rainforest Lumina. Walking track-nya juga terlalu singkat. Hanya butuh sekitar 1,5 jam untuk kita sampai di pintu keluar. Oh ya, karena areanya bersebelahan dengan Zoo, jangan heran kalau di beberapa tempat kita akan mencium bau kotoran hewan. Hehehe.

Akhirnya, saya merekomendasikan Rainforest Lumina ini untuk orang-orang yang telah berkunjung sebelumnya ke Singapore Zoo, Night Safari dan River Safari yang merasa butuh mencoba experience baru di Zoo. Tempat ini juga tidak disarankan untuk membawa anak kecil karena jam operasionalnya hanya di malam hari dan lokasinya gelap. Takutnya anak kecil akan rewel karena mengantuk dan takut gelap. Disarankan juga untuk memakai mosquito repellent karena area-nya outdoor dan memungkinkan gigitan nyamuk.

Kami kembali ke hotel menggunakan rute yang sama dengan saat kami pergi ke Zoo, yaitu naik bus ke stasiun Ang Mo Kio kemudian disambung MRT menuju hotel. Tidak perlu khawatir pulang malam hari dari Zoo karena bus dari Zoo tersedia sampai pk. 23:45.

Info:
https://rainforestlumina.wrs.com.sg/

Overall, saya cukup puas dengan jalan-jalan singkat ini karena saya berkesempatan mencoba hal-hal yang baru selama di Singapore. Pak suami juga tampak lebih fresh dan happy. Senin, 1 Oktober 2018 pagi, kami pulang kembali ke Jakarta. Pak suami langsung masuk ke kantor begitu landing di bandara Soekarno-Hatta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s