6th Anniversary

Tepat tanggal 20 Mei kemarin saya dan pak suami memasuki usia pernikahan ke-6. Enam tahun bukan usia yang singkat tapi juga belum termasuk lama untuk sebuah pernikahan. Tapi usia ini adalah suatu pencapaian yang perlu dibanggakan bahwa kami sudah bisa bertahan sampai di titik ini, melalui semua suka duka bersama. Percayalah bahwa mempertahankan pernikahan itu lebih susah daripada memulainya. Ketika memulai pernikahan mungkin kita masih didominasi perasaan cinta menggebu-gebu. Akan tetapi sejalan dengan lama-nya pernikahan mungkin cinta itu bisa berubah. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan cinta di dalam keluarga kita sampai seterusnya. Saya dan suami pun masih terus belajar untuk ke arah sana.

Semakin lama bersama, saya semakin memahami sifat dan karakter suami saya. Dengan pemahaman yang semakin tinggi, semakin jarang juga terjadi pertengkaran. Ibarat kata, hanya dengan melihat muka dan nada bicara pasangan saja kita sudah bisa saling tahu apa yang terjadi dan bagaimana harus bersikap. Kadar keegoisan pun semakin berkurang. Mungkin karena faktor pertambahan usia juga yang membuat kita menjadi pribadi yang makin dewasa.

Di tahun ke-6 ini, saya merasa cukup sedih belum bisa memberikan keturunan kepada suami saya, seorang anak yang merupakan perpaduan genetik kami berdua dan mewarisi sifat kebaikan dari kami (kalau sifat jeleknya sih tidak usah diwariskan ke anak ya). Saya bahkan sempat bertanya kepada pak suami, apakah dia mau menikah lagi dengan wanita lain demi mendapatkan anak darinya. Dengan tegas dia mengatakan tidak mau dan dia menyayangi saya apa adanya, dengan atau tanpa anak. Saya masih menjadi satu-satunya wanita yang dicintainya. Dan hal itu bukan hanya sekedar ucapan manis dari pak suami. Saya sendiri menyaksikan betapa suami saya adalah orang yang setia dan memegang teguh arti pernikahan. Tidak jarang dia selalu membela saya dari orang-orang yang menyindir saya karena saya belum memiliki anak diusia 35 tahun ini. Bahkan dia juga pernah membela saya dari keluarganya sendiri. It means a lot for me.

Pak suami juga selalu menyemangati saya dalam setiap program hamil yang saya ikuti. Dia selalu berusaha ada untuk saya ketika saya harus berhadapan dengan banyaknya jarum suntik dan obat-obatan hormon selama beberapa kali mengikuti program hamil. Walaupun dia sendiri juga tutup mata kalau melihat saya disuntik karena dia takut, hehe. Dia merupakan sumber kekuatan saya saat saya sedih menghadapi kegagalan demi kegagalan dalam program hamil. Dia tidak pernah protes atau menghina saya ketika saya menjadi bertambah gemuk atau jerawatan karena efek obat-obatan hormon. Dia juga tidak minder mengenalkan saya pada teman atau keluarganya saat berpapasan di jalan. Mungkin itulah yang disebut mencintai pasangan kita apa adanya.. bukan karena ada apanya.

Sebagai kepala keluarga, single income, karena saya hanya ibu rumah tangga, tidak membuat pak suami mengeluh. Selama hidup bersama, saya tidak pernah sekalipun mendengar dia mengeluh lelah mencari nafkah untuk keluarga. Tidak pernah perhitungan tentang uang kepada istri. Dia adalah kepala keluarga yang rajin, pekerja keras dan bertanggung jawab. Saya sungguh istri yang beruntung. Semoga pak suami selalu diberi kesehatan dan dimudahkan rejekinya.

Love is about take and give. Saya sebagai istri juga harus mengimbangi segala kebaikan dan cinta suami. Pastinya dengan cara saya sendiri. Paling tidak saya harus bisa membuat rumah menjadi senyaman mungkin untuk tempat suami saya pulang sehingga tidak perlu mampir kemana-mana (a.k.a selingkuh). Agak miris mendengar berita-berita yang beredar mengenai pelakor (perebut laki orang) di luar sana. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memilih jalan pintas menjadi mapan dengan modal kecantikan belaka. Mudahan suami saya dijauhkan dari godaan-godaan seperti itu.

Harapan saya ke depan tentang pernikahan ini adalah tetap penuh cinta dan perhatian. Semoga bisa langgeng sampai di akhir penghidupan ini. Semoga ada keajaiban terjadi tentang kehadiran anak. Kalaupun memang tidak bisa dari rahim saya sendiri, semoga bisa dapat anak adopsi yang baik dan sehat. The greatest gift in my life adalah bisa berjodoh dengan suami saya di kehidupan ini. Kalau saya dikasih kesempatan untuk kembali ke masa lalu untuk memilih pasangan hidup, saya akan tetap memilih suami saya saat ini, hanya saja menikahnya lebih awal selagi masih muda. Tujuannya sih supaya bisa memperbesar chance untuk hamil, hehe.

Pada anniversary tahun ini, tidak ada hal yang fancy. Kami memperlakukannya seperti weekend biasa saja karena bertepatan dengan jadwal kuliah pak suami juga. Hal yang agak spesial adalah kami pergi spa bareng di Martha Tilaar Salon Day Spa Gading Serpong selama 2 jam. Setelah itu kami dinner di restoran Padang Pagi Sore di Alam Sutera. Sesaat sebelum tidur, kami bicara heart to heart tentang apa yang kami rasakan selama menjalani pernikahan. Hal apa yang perlu diperbaiki dan dipertahankan.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk pak suami yang memang suka kepo menengok blog istrinya. You know how much I love You!

8 pemikiran pada “6th Anniversary

  1. Halo ce, salam kenal.
    Sy Dessy asal Pontianak, umur 31. Usia pernikahan kita sama, 6 tahun, dan sy juga belum dikaruniai momongan.
    Promil yg pernah sy lakukan hanya sampai minum profetil, namun hasilnya malah sel telur sy mengecil dan next month malah haid telat 2-3mggu. Hasil yg sama sy alami 2x dan sejak saat itu sy stop promil dgn obat penyubur. Obat herbal dari sinshe sy juga uda pernah minum (sekitar puluhan bungkus) tp blm hamil.
    Sy ada rencana ke Penang bulan juli ini, tp msh bingung mau ke dok devindran atau dok ng peng wah. Berbagai pertimbangan juga membuat hati ini bimbang utk ke penang. Mulai dari sy sebenarnya sangat enggan utk suntik penyubur dalam proses insem. Sy sangat takut efeknya dan rasa sakitnya. Faktor biaya juga jadi kendala, krn jujur saja, pendapatan suami bukanlah di angka puluhan juta setiap bulan. Sy tipe orang melankolis, belum mulai sy uda pikir ntar klo gagal uang yg uda dikeluarin sgt sia-sia. Tp sy berusaha menepis pikiran negatif ini.
    Moga ce gak bosan yaa baca curhatan sy. Perjuangan sy belum apa2 dibanding perjuangan ce. Semoga Tuhan mengasihi kita dan segera menjadikan kita seorang ibu. Amin.
    Oya, sy dari 2 tahun sebelumnya memang mau adopsi. Cuma belum ketemu. Sy ada baca2 di gugel ttg panti asuhan yg bs adopsi anak asuhnya. Tp sy belum pernah menghbungi panti tsb.
    Sekian ce, moga kita selalu kuat dan sabar dalam menanti.

    Suka

    • Halo Dessy..
      Thanks for sharing ya..

      Tentang insem, jangan berpikir bagian sakit2nya dulu.. sakit disuntiknya msh bisa ditoleransi koq. Dengan disuntik justru obatnya lbh tepat sasaran ke ovarium dan rahim jd lebih cepat khasiatnya. Umur kamu juga masih muda jd chance keberhasilannya juga pasti lebih besar daripada saya. Semoga sukses ya di penang!

      Soal duit menurut saya cari2an.. nanti pasti ada aja gantinya dari Tuhan.. entah berupa baby atau rejeki lainnya.

      Tidak ada usaha yg sia-sia.. bahkan yg gagal sekalipun. Kegagalan demi kegagalan yg dialami pasti makin mendekatkan kita dg kesuksesan. Kalau kita berusaha, kemungkinan kita gagal dan berhasil 50:50.. tapi kalau kita tidak berusaha sama sekali maka kita akan gagal 100%.
      Tetap semangat ya!

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s