Persiapan Menghadapi Tes Potensi Akademik (TPA)

Tes Potensi Akademik atau biasa disingkat TPA merupakan tes psikologi yang digunakan untuk mengukur kegesitan mental seseorang ketika berurusan dengan obyek kata (verbal), angka (numeris) dan gambar (figural). Secara psikologi dipercaya bahwa terdapat batas minimal tingkat kegesitan mental yang harus dimiliki seseorang sehingga ia berpeluang-besar berhasil menangani masalah yang bersifat intelektual (Source: Wikipedia). Oleh karena itulah TPA kerap kali jadi syarat wajib dalam berbagai proses seleksi penerimaan mahasiswa baru, baik program Sarjana (S1) maupun Pascasarjana (S2 / S3), pegawai BUMN, Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan bahkan untuk promosi suatu jabatan di Indonesia. Sebutan kata TPA bisa jadi berbeda-beda dalam setiap proses seleksi, misalkan dalam seleksi program Sarjana kita lebih mengenalnya sebagai SNMPTN dan dalam seleksi CPNS kita mengenalnya sebagai tes psikotes, tapi sesungguhnya konsep yang diusung tetaplah TPA. TPA merupakan versi Indonesia dari tes GRE atau Graduate Record Examination. Model, materi, dan bidang yang diuji dalam TPA sebagian besar merujuk kepada GRE.

Penyelenggara tes TPA ada beberapa instansi yaitu:

  1. Program Pascasarjana Universitas tertentu secara independen.
  2. Unit Pelayanan Penyelenggaraan Tes Potensi Akademik (UPP-TPA) Bappenas bekerjasama dengan Program Pascasarjana Universitas tertentu (sebagai penanda kerjasama penyelenggaraan tes TPA ini, maka TPA-nya sering disebut sebagai TPA OTO Bappenas).
  3. Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dalam koordinasi Pusat Layanan Test Indonesia (TPA-nya dikenal sebagai TKDA, yakni singkatan dari Test Kemampuan Dasar Akademik).

Dari ketiganya, TPA OTO Bappenas adalah yang paling sering dipakai untuk proses seleksi. Dalam tulisan ini kita hanya akan membahas tentang TPA untuk proses seleksi penerimaan mahasiswa Pascasarjana.

Kalau saya secara pribadi ditanya, soal TPA itu susah atau tidak? Saya bilang sih tidak. Soal-soal TPA itu sebenarnya mirip dengan bahan pelajaran saat sekolah dulu, SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas). Contohnya: Lawan kata dan persamaan kata. Untuk segi hitung-hitungan matematika-nya pun juga merupakan perhitungan matematika dasar, misal KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) atau FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) atau pecahan. Tantangannya disini adalah pengerjaan soal yang dibatasi oleh waktu. Jadi diharapkan kita bisa menyelesaikan soal sebanyak dan setepat mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Soal-soal dasar TPA ini saya rasa tidak akan terlalu jadi masalah bagi anak SMA / SMU yang langsung mengikuti proses seleksi mahasiswa Sarjana setelah kelulusannya atau seorang mahasiswa Sarjana yang langsung mengikuti proses seleksi mahasiswa Pascasarjana setelah kelulusannya. Hal itu dikarenakan otak mereka dijamin masih “panas” dan pasti masih ingat dengan pengetahuan dasar seperti itu.

Permasalahan timbul apabila kalian sudah lulus lama dan kemudian bekerja di suatu perusahaan yang tentunya sudah tidak lagi membahas pengetahuan dasar berhitung dan berbahasa. Hal itu terjadi pada suami saya. Dalam pekerjaannya sebagai seorang chemical engineer selama hampir 10 tahun dan mostly menggunakan bahasa Inggris baik lisan dan tulisan, TPA menjadi suatu tantangan tersendiri. Kalau dalam pekerjaannya pak suami terbiasa menggunakan software yang bisa membantu proses perhitungan, misal Microsoft Excel, maka untuk menghadapi TPA ini tentu dia harus mulai berlatih menghitung secara manual, kembali mendalami konsep matematika dasar juga. Untuk kemampuan bahasa pun demikian. Banyak kosakata serapan dalam bahasa Indonesia yang jarang didengar dalam keseharian dan harus dipelajari lebih lanjut padanan dan lawan katanya. Effort yang harus dikeluarkan oleh orang-orang seperti suami saya harus lebih besar supaya bisa melalui TPA dengan baik. Ingat bahwa supaya bisa lulus TPA maka kita harus bisa mencapai score minimal-nya (Rentang nilai TPA minimum untuk lolos saringan seleksi S2 adalah 450-500 dan untuk lolos saringan seleksi S3 adalah 550-600). Belum pula untuk mengikuti TPA kita juga harus membayar biaya tes (berkisar antara Rp. 250.000 hingga Rp.1.200.000 tergantung lokasi). Jadi supaya tidak rugi, kita tentu harus mempersiapkan diri dengan baik supaya lulus dengan nilai yang memuaskan.

Langkah pertama untuk mempersiapkan TPA adalah membeli buku persiapan TPA yang berisi banyak latihan soal simulasi. Kebetulan saya sendiri yang memilihkan buku ini untuk pak suami. Beraneka buku persiapan TPA tersedia di toko buku. Setiap pengarang buku persiapan TPA seakan-akan berlomba untuk menyajikan judul dan tampilan yang menarik. Awalnya saya pun sempat bingung untuk memilih salah satunya karena sebelumnya saya tidak melakukan penelusuran di internet tentang buku persiapan TPA yang direkomendasikan. Akhirnya saya mensortir buku persiapan TPA yang ada berdasarkan:

  • Mencantumkan tulisan OTO Bappenas karena memang pak suami akan menghadapi TPA versi OTO Bappenas
  • Tidak mencantumkan tulisan untuk seleksi CPNS. Saya rasa hal ini sudah jelas karena pak suami bertujuan untuk mengikuti proses seleksi penerimaan mahasiswa Pascasarjana.
  • Ada tulisan ‘best seller”-nya. Tapi kadang hal ini tidak bisa jadi patokan juga sih karena bisa saja tulisan tersebut adalah hasil klaim sendiri, hehe.
  • Lumayan tebal dengan banyak-nya soal-soal latihan TPA.
  • Pembahasan soal latihan dengan penjelasan yang mudah dimengerti.
  • Ulasan / testimonial yang positif dari orang-orang yang telah mencoba buku tersebut. Biasa ada di halaman awal atau akhir buku.

Berikut ini adalah buku persiapan TPA yang saya beli untuk pak suami. Soal harga saya agak lupa karena sudah hilang struk belanja-nya, sepertinya kisaran 150-250 ribu Rupiah deh.

IMG_20170428_122025
Buku Latihan Soal TPA yang saya beli untuk pak suami.

Jadwal tes TPA batch 1 untuk program MBA SBM-ITB adalah tgl 18 maret 2017. Pak Suami mulai belajar dan berlatih soal-soal yang ada di buku tersebut 3 minggu sebelum jadwal tes. Untungnya saat itu load kerjaan di kantor tidak terlalu banyak sehingga suami bisa belajar saat istirahat makan siang di kantor dan malam hari di rumah setelah selesai makan malam. Pokoknya saat ada waktu luang, suami selalu menyempatkan diri untuk baca buku dan latihan soal. Practice makes perfect, right?

Selama persiapan tes TPA saya sebagai istri jadi lebih rajin menyiapkan bekal makan siang untuk suami supaya waktu istirahat makan siang di kantor bisa lebih efektif untuk belajar persiapan TPA. Saya juga tidak banyak menuntut untuk ditemanin jalan-jalan saat weekend karena saya sadar waktu pak suami untuk belajar sangat terbatas. Tidak lupa juga untuk menyediakan asupan yang bergizi dan menyehatkan supaya pak suami tidak gampang sakit.

Setelah banyak berlatih soal (dan berdoa tentunya), hari yang dinantikan pun tiba, yaitu tes TPA tgl 18 Maret 2017. Tes TPA berlokasi di kampus SBM-ITB Jakarta daerah Kuningan. Tes berlangsung selama 3 jam. Selesai tes suami langsung pulang ke rumah. Menurut suami sih tes-nya berlangsung baik dan lancar. Istri pun ikut bernafas lega, hehe.

Tanggal 23 Maret 2017 adalah hari pengumuman tes TPA oleh SBM-ITB. Hasil tes diumumkan via e-mail. Untuk program studi pilihan suami di SBM-ITB Jakarta yaitu BLEMBA (Business Leadership Executive MBA), mensyaratkan score TPA minimum 475. Hasil tes TPA pak suami benar-benar beyond expectation dengan score 678,33 dan termasuk top 3 score di tes TPA batch 1 tgl 18 Maret 2017 kemarin. Saya sebagai istri sangat bangga dengan pencapaian suami ini mengingat singkatnya waktu yang ada untuk belajar TPA. Selain usaha dan doa, saya rasa buku latihan soal TPA yang saya sebutkan diatas tersebut sangat membantu juga lho. Recommended buat calon peserta TPA deh.

Sekedar update, saat ini pak suami sudah resmi jadi mahasiswa BLEMBA SBM-ITB dan mengikuti perkuliahan sejak Agustus 2017. Masih 1,5 tahun lamanya menuju wisuda kelulusan. Semoga dilancarkan dan selalu dimudahkan jalannya dalam segala urusan perkuliahan dan pekerjaan. Amiinn!!

4 pemikiran pada “Persiapan Menghadapi Tes Potensi Akademik (TPA)

  1. Assalamualaikum
    Salam kenal Bun, saya juga kebetulan sedang mencari buku TPA. Terima kasih atas ulasannya, sangat bermanfaat dan membantu. Kalau boleh sedikit minta tolong untuk diintipkan bukunya atau ditanya kan sama suaminya adakah di buku tersebut dibahas tentang soal bentuk 3 dimensi yang biasanya model soalnya diputar-putar bangunan nya? Terima kasih bun sebelumnya atas bantuannya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wb

    Suka

  2. Hai..
    Terima kasih ya untuk sharingnya. Saya mau tanya apakah wawancara? Trs apa yang ditanyakan saat wawancara?
    Terima kasih ya…

    Suka

    • Halo Gia.
      Maaf baru sempat reply. Wawancara ini maksudnya untuk apa? Cari kerja? Beasiswa? Atau lanjut S2 seperti cerita suami saya? Biasanya sih proses wawancara akan selalu ada sebagai salah satu tahapan proses seleksi. Pertanyaan dalam tahap wawancara biasanya standar saja untuk melihat profil kita sesuai atau tidak dengan kebutuhan mereka. Siapkan mental dan juga pengetahuan yang cukup supaya tidak asal jawab, hehe.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s