Siomay Ikan

sioma

Siomay merupakan jajanan favorit saya dan suami. Saya menyukai siomay sejak kuliah di Bandung dulu. Kayaknya semua siomay yang dijual di Bandung enak deh, dari yang di pinggir jalan sampai yang di restoran 😉 Namanya juga jajanan khas Bandung, hehe.

Sejak tinggal diluar Bandung, saya susah mendapatkan siomay yang enak. Kadang siomay-nya alot, saus kacangnya ga enak, ga kerasa daging ikannya, dll. Niat untuk mencoba bikin siomay sendiri sudah lama terlintas di pikiran saya, resep sudah di-bookmark, bahan sudah disiapkan, tapi rasa malas mengalahkan semua karena merasa bikin siomay itu ribet, belum pula tar bikin bumbu kacangnya.

Akhirnya niat itu kesampaian juga minggu lalu. Saya membuat siomay sendiri. Saya langsung buat 1 resep (sok pede) dengan pemikiran biar sekalian capek tapi hasilnya banyak dan bisa dibekukan di freezer. Resep saya ambil dari blog JTT “Siomay Ala si Abang” yang reviewnya banyak yang bilang enak. Tiada ikan tenggiri, ikan kakap pun jadi, wkwk (maksa!). Jangan sampai karena ketiadaan ikan tenggiri melunturkan niat saya lagi untuk mencoba resep siomay ini. Kebetulan pas di supermarket kemarin beli fillet ikan kakap-nya yang udah ga pakai kulit, jadi ga perlu di-kerok lagi daging ikannya, langsung masukin ke blender aja daging ikannya 😉 Kalau pakai kerok lagi mungkin saya mundur dari uji coba resep kali ini, hehe.

Setelah berkutat di dapur mengikuti step-step di blog JTT, akhirnya adonan siomay jadi dan siap dikukus. Saat dikukus aroma ikan terasa kemana-mana. Setelah 30 menit siomay siap disajikan dan ternyata memang benar lho resep ini hasil jadinya kaya siomay pinggir jalan abang-abang yang kenyal-kenyal gitu.. tapi tetap berasa ikannya lho karena buat sendiri. Setelah dingin pun siomay ini ga keras dan alot lho.

Saus kacangnya gimana? Nah, sebenarnya di resep JTT dicantumin juga resep saus kacangnya tapiii karena saya ga punya kacang tanah pada saat itu dan juga males karena sudah ribet dengan siomay, saya pakai bumbu pecel saja saudara-saudara! Bumbu pecel instan dilarutkan dengan air panas, bikin agak encer dan diberi perasan jeruk limau. Hasilnya? Pak Suami bilang enak lho 🙂 Memang harus kreatif ya untuk pemalas kayak saya, hahahaha.

Berikut resepnya yang diambil dari blog JTT “Siomay Ala Si Abang”

Bahan Siomay:
– 350 gram daging ayam tanpa tulang (atau gunakan ayam cincang) –> anda bisa skip ayam dan ganti dengan daging ikan. Haluskan
– 250 gram daging ikan cincang (tuna, tengiri atau ikan dengan daging putih) –>anda bisa skip ikan dan ganti dengan ayam. Haluskan
– 250 gram labu siam (1 buah labu ukuran sedang) kukus, parut atau haluskan dengan food processor
– 80 ml santan kental instan (saya pakai Kara)
– 500 gram tepung tapioka/tepung kanji (saya pakai tepung sagu)
– 1 butir telur, kocok lepas (optional)
– 1 batang daun bawang, rajang dan cincang halus jika anda tidak mempunyai food processor

Bumbu Halus:
– 7 butir bawang merah
– 5 butir bawang putih
– 1 sendok teh merica butiran

Bumbu Lainnya:
– 2 sendok teh garam
– 2 sendok makan gula pasir
– 1 sendok teh kaldu bubuk (optional)

Bahan & Bumbu Saus Kacang:
– 300 gram kacang tanah, bisa pakai yang kupas atau yang masih memiliki kulit, goreng matang
– 5 siung bawang putih
– 5 buah cabai merah keriting
– 3 butir cabai rawit
– 3 sendok makan gula Jawa, sisir
– 2 sendok makan air asam Jawa
– 2 sendok teh garam
– 500 ml air matang

Pelengkap:
– irisan jeruk limau
– saus sambal botolan
– kecap manis

Cara Membuat:

Siomay

  1. Campur daging ayam dan ikan yang telah dihaluskan dalam mangkuk besar, aduk rata.
  2. Tuang santan kental, aduk rata.
  3. Masukkan daun bawang dan labu siam yang sudah dihaluskan.
  4. Tambahkan telur kocok, bumbu halus, garam, gula dan kaldu bubuk. Aduk rata
  5. Masukkan Tepung bertahap, aduk rata. Uleni sampai mendapat kekentalan yang diinginkan. (Saya pakai tepung sagu dan saat 400 gr tepung masuk adonannya sudah cukup kental jadi saya stop tepungnya). Adonan yang terbentuk tidak padat dan masih agak lembek
  6. Panaskan dandang untuk mengukus. Olesi sengan sedikit minyak. Lapisi penutup dandang dengan kain supaya air kukusannya tidak kena siomay.
  7. Bentuk siomay dengan bantuan 2 sendok makan dan masukkan ke dandang panas. Kukus dengan api sedang selama 30 menit. Angkat dan dinginkan. Siap disajikan

Saus Kacang

  1. Goreng bawang putih sebentar hingga layu dan sedikit kecoklatan, angkat.
  2. Siapkan blender, masukkan kacang tanah goreng, bawang putih, dan cabai, tambahkan air. Proses hingga halus. Jika adonan terlalu kental, tambahkan air hingga tercapai kekentalan yang diinginkan.
  3. Tuangkan saus ke dalam panci, masukkan garam, gula dan air asam Jawa. Masak hingga mendidih dan matang. Cicipi rasanya. Angkat.

HRD Meminta Slip Gaji Perusahaan Lama?

“HRD meminta slip gaji (payment slip) perusahaan lama? Buat apaan?” Adalah pertanyaan yang terlintas di pikiran saya saat kerabat saya, sebut saja namanya si A, bercerita tentang pengalaman pribadinya saat pindah perusahaan baru di Jakarta. A sudah bekerja di perusahaan lama 1 tahun lebih sampai suatu saat ada head hunter yang melihat profile-nya di linkedin dan menawarkan dia pekerjaan di perusahaan baru. Test dan interview pun berlangsung dengan perusahaan klien head hunter tersebut. Terakhir A pun ditanya tentang expected salary apabila jadi join ke perusahaan itu, dan A menyebutkan angka Rp. X juta.

Setelah beberapa hari, head hunter yang menawari pekerjaan tersebut menelpon si A dan meminta fotokopi slip gaji perusahaan tempat A bekerja sekarang dengan alasan supaya dia bisa mendapatkan best price buat A di perusahaan baru. Menurut head hunter ini maximum salary yang bisa didapat adalah 15% dari salary di tempat bekerja sekarang. Pada saat A berkonsultasi dengan saya, saya mengatakan ke A untuk tidak memberikan slip gajinya dengan alasan privacy dan takut disalahgunakan untuk mendapatkan info standar gaji karyawan di tempat dia bekerja sekarang. A bersikeras untuk tidak memberikan slip gajinya ke head hunter dan mengatakan bahwa dia sudah menetapkan expected salary dengan perusahaan baru pada saat interview. Head hunter pun pada akhirnya tidak memaksa lagi tentang slip gaji.

Seminggu kemudian A mendapatkan offering letter dari perusahaan baru tersebut. Salary dan allowance yang tertera disana sesuai dengan apa yang diharapkan A sehingga A pun mengajukan resignation letter ke HRD perusahaan tempat dia bekerja saat itu. Dikarenakan one month notice, A meminta waktu 1 bulan untuk bisa masuk kerja di tempat yang baru.

Setelah mendekati hari terakhir di kantor lama, A ditelpon oleh HRD perusahaan baru untuk menyerahkan beberapa fotokopi dokumen saat hari pertama dia bekerja nanti, termasuk diantaranya adalah slip gaji dan kalau memungkinkan fotokopi mutasi buku tabungan. Saat A bertanya ke HRD tersebut untuk keperluan apa, karena kan sudah ada offering letter yang menyebutkan tentang salary yang akan diterima oleh A saat bekerja di perusahaan baru, HRD berkata untuk persyaratan kerja. Tentu saja A panik karena gaji yang disebutkan pada saat interview kemarin sudah dimark-up dan A sudah tidak ada pilihan untuk menolak permintaan tsb karena A sudah terlanjur mengajukan resign. Kalau A menolak bisa-bisa dia jadi jobless. Akhirnya A nego dengan HRD perusahaan lama untuk me-mark up nilai salary-nya yang tercantum di slip gaji.

Cerita dari A tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah memang peraturan kerja sekarang memang begitu? Dulu pada saat saya bekerja kantoran dan pindah perusahaan (memang hanya 1 kali pindah sih sebelum akhirnya resign dan jadi IRT) saya tidak pernah diminta menyerahkan slip gaji perusahaan lama. Suami saya juga begitu, saat pindah perusahaan tidak pernah diminta slip gaji yang lama. Menurut saya, slip gaji itu adalah suatu hal yang private bagi kita dan juga perusahaan. Dari data slip gaji dapat dlihat standar kesejahteraan karyawan di suatu perusahaan. Data ini kadang dijual ke konsultan atau lembaga survey untuk keperluan tertentu. Walaupun kita sudah tidak bekerja di perusahaan lama, sudah semestinya kita bisa tetap menjaga nama baiknya kan? jadi sangat tidak etis menurut saya permintaan slip gaji begini. Kalau untuk membuktikan bahwa kita pernah kerja di perusahaan lama kan bisa dari surat rekomendasi yang kita dapat saat resign dari suatu perusahaan. Trus menentukan salary yang baru based on salary lama juga sangat aneh menurut saya. Salary ditentukan dari job description kita dan kemapanan perusahaan. Perusahaan besar dan perusahaan kecil tentu beda standar gajinya kan? Kalau sekiranya job desc kita di perusahaan baru akan lebih berat dibanding sebelumnya ya wajar dong kita meminta lebih. Kalau dibatas-batasin max 15% ya ga bisa juga kan tergantung porsi kerjanya. Salah satu alasan orang pindah kerja ke tempat baru juga untuk mendapatkan standar salary dan kehidupan yang lebih baik. Lagipula kalau salary lama kita lebih besar dari yang sekarang, apa perusahaan baru mau menyesuaikan? belum tentu juga saya rasa. Terakhir adalah tentang masalah kepercayaan. Saat kita menyebutkan existing salary berapa pada waktu interview dan perusahaan tidak percaya dan bersikeras kita menunjukkan bukti slip gaji, menurut saya buat apa kerja dengan orang yang tidak mempercayai kita sedari awal? Yah, tapi sekali lagi ini semua kembali ke opini masing-masing orang sih.

Bagaimana pendapat kalian mengenai hal seperti ini? Mungkin yang kerja sebagai HRD bisa sharing point of view-nya..

Kursus Mengemudi Mobil (Day 7 – 8)

Ga Kerasa sudah 8 x 1 jam saya kursus mengemudi dengan Pak Jamal (Kursus “PURNAMA”), yang artinya kursus sudah berakhir. Day 7 – 8 ini saya berkutat dengan parkir, suatu hal yang cukup memusingkan untuk orang yang punya kemampuan terbatas dengan spasial ruangan, hehe. Saya baru diajarkan parkir “moncong” sih ya, ga diajarkan parkir “buntut”, apalagi paralel. Konon parkir paralel itu hanya untuk orang dengan jam terbang yang tinggi, dan tentu saja newbie kayak saya ini belum ada keberanian untuk hal seperti itu. Bisa parkir biasa dengan mulus aja sudah sesuatu yang hebat menurut saya ;p Hari terakhir ini juga diajarin tentang putar balik (u-turn) dan parkir di gang sempit.

Menurut saya setelah kursus ini pencapaian saya adalah sudah bisa mengemudi di jalan lurus (tapi ga berani ngebut-ngebutan dan selap-selip kendaraan lain), sudah tahu caranya membelokkan mobil di tikungan jalan, sudah lumayan lancar gonta-ganti gigi (karena mobil kursus yang dipakai bertransmisi manual). Akan tetapi saya masih merasa butuh belajar lagi untuk hal berikut ini:

  • Menyebrangkan mobil
  • Putar balik (U-Turn)
  • Parkir
  • Memperkirakan jarak sekitar mobil (depan, samping kanan-kiri)

Oleh karena itu, saya berencana untuk melanjutkan kursus saya di purnama, nambah 2 x pertemuan lagi lah sembari belajar sama pak suami untuk mobil matic-nya.. Semoga setelah itu nyalinya bisa lebih besar ya, hihihi.