The Lab Cafe

Masih beredar di PIK dalam hari yang sama bersama suami dan adik saya. Kali ini kami kongkow di sebuah cafe yang bertemakan laboratorium. Kalau kamu seorang yang berkecimpung atau pernah ber-experience di lab pasti lucu ngeliat tempat ini. Para waitress berpakaian operasi warna hijau kayak dokter / asisten di rumah sakit yang bagian punggungnya bertuliskan AsisTEA hehe. Banyak dipajang labu kimia disini beserta botol-botol yang berisi cairan warna-warni. Gelas minuman kita juga dibuat seperti gelas ukur dengan bahan plastik. Meja-nya dibuat seperti tabel periodik unsur kimia, dan bahkan ada lho gombalan ala chemist disitu: “If you’re chemical elements, you must be awesomemium (Aw)” Ada-ada aja ya, hehe.

Cafe Bertema Laboratorium
         Cafe Bertema Laboratorium

Menu ditempat ini kebanyakan berupa snack untuk kongkow-kongkow, menu makanan beratnya berupa pasta-pasta gitu. Dikarenakan kami datang kesana sudah sore, sekitar jam 3, maka kami hanya memesan minum dan snack saja: Milk Tea dan Fries with cheese sauce. Harga makanan disini cukup terjangkau, berkisar 25 – 50 ribu.

Milk Tea With Fries
               Milk Tea With Fries

Contact:

The Lab

Ruko Crown Golf, Blok D No. 29, Bukit Golf Mediterania, Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Telp. 021-31759487

Kitty Corner Cafe for Hello Kitty Lovers!

Sudah lama banget saya pengen mampir ke cafe ini, tapi baru kesampaian pas sudah pindah ke Tangerang dan punya mobil sendiri. Ya iyalah ya.. PIK jauh begitu, ga kebayang berapa biayanya kalau ke PIK dari Tangerang PP, yang jelas mahal banget karena jauh bo! Akhirnya Minggu ini tgl 26 April 2015, saya, suami dan adik saya mencoba datang berkunjung ke Kitty Corner Cafe ini yang berlokasi di daerah PIK.

Kitty Corner Cafe
Kitty Corner Cafe

Cafe ini beberapa kali masuk liputan acara di TV karena konsepnya yang unik, yaitu all about Hello Kitty. Tau kan Hello Kitty itu apa? Itu lho boneka kucing lucu dan menggemaskan dari brand Sanrio – Jepang. Hampir semua orang kenal dengan Hello Kitty. Nah, pemilik cafe ini juga salah satu pecinta Hello Kitty, makanya dia membuat cafe ini untuk para Hello Kitty Lovers. Cafe ada di lantai 2 dan toko pernak-pernik Hello Kitty-nya ada di lantai 1. Eksterior cafe ini sangat eye-catching karena warna merah menyala dengan totol-totol putih. Begitu masuk ke dalam cafe-nya pun Anda akan terkesima dengan suasananya. Dari hiasan dinding, kursi, menu makanan semua serba pink dan Hello Kitty, hahaha. Lucuuu..

Menu 1
Menu 1
Menu 2
Menu 2

Menu di cafe ini kebanyakan berupa snack, main dishes-nya berupa bento. Bento-nya lucu-lucu banget, sampai ga tega rasanya mau dimakan ;D Saya memesan bento Rillakuma, suami bento Three Panda, dan adik saya bento Hello Kitty. Soal rasa sih ga terlalu istimewa banget, tapi kan kesini buat nyari suasana dan makanan berbentuk lucu, hehe. Tempat ini sering penuh kalau weekend, jadi ada baiknya membuat reservasi terlebih dahulu, apalagi kalau pergi dalam bentuk rombongan.

Our Bento for Lunch
Our Bento for Lunch

Contact:

Kitty Corner cafe

Ruko Metro Broadway, Blok A No. 6, Jl. Pantai Indah Utara 2, Pantai Indah Kapuk, Jakarta 14460

Telp. 021-30010228

Berlibur ke Batu – Malang

Tulisan kali ini adalah late post. Waktu itu saya belum punya blog, jadi memory-nya cuma disimpan sendiri, hehe. Tapi ga papa lah ya sharing disini, siapa tau bisa menginspirasi yang mau liburan ke Malang, mumpung saya masih ingat detailnya ;p

Saya dan suami ke Malang tgl 25 Desember – 28 Desember 2014. Kami kesana dalam rangka menghadiri pernikahan salah satu teman baik saya disana. Udah ke Malang tapi cuma untuk datang ke kawinan doang? kayaknya rugi deh. Mendingan jalan-jalan dong sambil liburan. Apalagi waktu itu lagi high season, tiket pesawatnya mahal banget! JKT – MLG PP 2 orang pakai pesawat Sriwijaya Air harganya 5 juta! Salah kami juga sih karena beli tiketnya mepet. Suami baru bisa confirm ikut pas seminggu sebelumnya, abis itu baru deh kami mulai cari tiket. Sebenarnya lebih murah via JKT – SBY trus sambung naik mobil travel, tapiii menurut orang-orang jalanan SBY-MLG saat itu macet parah karena musim liburan. So, daripada rugi waktu di jalan mending langsung flight ke MLG deh, begitu juga pulangnya dari MLG aja daripada kena macet di jalan pula.

Tgl 25 Desember 2014

Kami sampai di Abdul Rahman Saleh Airport, Malang siang hari. Setelah mengurus bagasi kami pesan taxi bandara di loket resminya untuk menuju kota Malang. Tarif taxi ditentukan berdasarkan jaraknya. Tarif taxi kami saat itu 80 ribu menuju hotel kami di Kota Malang. Taxi disana berupa mobil avanza yang diberi logo taxi. Ga terlihat ada taxi Blue Bird.

Kami check in di hotel Dewarna jl. Letjen Sutoyo, Malang. Saat itu kami dapat tarif 500 ribu semalam. Rate itu berlaku karena lagi high season. Kalau hari biasa sih lebih murah, sekitar 300rb per malam. Saat itu hotel di Malang banyak yang penuh karena musim liburan. Ga disarankan banget go show nyari hotel pas musim liburan ya. Selesai check in di hotel kami janjian ketemu sama temannya teman saya yang punya usaha travel dan rental car di Malang. Saya rent car untuk 3 hari dengan sistem lepas kunci (karena ada jaminan dari teman saya itu, kalau ga sih ga bakal bisa lepas kunci deh, pasti disuruh sama driver). Mobil avanza lepas kunci 250 ribu per hari, kalau pakai driver 350 ribu per hari, belum termasuk BBM semua ya. Saya lebih senang lepas kunci karena lebih murah dan lebih ada privacy gitu. Kan ga bisa ngobrol bebas kalau ada driver. Berbekal modal aplikasi “Waze” di handphone, kami bisa keliling-keliling kota Malang deh.

Our Room at DeWarna Hotel
Our Room at DeWarna Hotel

Setelah urusan mobil selesai, kami pergi ke RM. Inggil (Jl. Gajah Mada no. 4, Malang) untuk lunch. Konsep resto ini agak unik karena menghadirkan aneka pernak-pernik, poster dan nuansa jadul (jaman dulu). Bahkan disebelah resto ada museum-nya lho. Pada hari tertentu biasanya ada pertunjukan tari tradisional di panggungnya, tapi saat kami disana sih pas lagi ga ada pertunjukan apa-apa. Menu resto ini adalah masakan Jawa tradisional dengan harga yang cukup terjangkau.

Suasana di RM. Inggil
Suasana di RM. Inggil
Poster Jadul di RM. Inggil
Poster Jadul di RM. Inggil

Setelah itu kami mampir ke toko OEN, toko legendaris di Malang yang berdiri dari jaman kolonial Belanda. Interior toko pun juga masih dijaga nuansa Belandanya. Speciality dari toko ini adalah es krimnya yang diolah secara home made. Selain es krim juga ada menu sop, cake dan snack lainnya. Harga es krimnya ga terlalu mahal dan rasanya enak.

Malamnya kami berencana ke Taman Indie Restoran, tapi entah kenapa “Waze” kami menunjukkan area yang tertutup di lingkungan perumahan. Bingung bagaimana masuk ke resto itu akhirnya kami makan di tempat makan lain deh. Kami makan di Wellduck (Jl. LA Sucipto, Matos, Malang) dengan speciality bebek goreng dan bebek bakar. Bebeknya empuk dan terasa bumbunya, enak dengan harga yang murah. Selesai makan kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Tgl 26 Desember 2014

Kami hari ini pergi ke Batu untuk mengunjungi Jatim Park 2. Kami berangkat agak pagi dari hotel supaya ga terlalu macet, tapi mendekati Jatim Park sih memang macet karena musim liburan. Nyari parkir aja susah. Dari hotel menuju Jatim Park 2 ini membutuhkan waktu 2 jam. Jatim Park ini adalah tempat rekreasi keluarga di Malang. Ada Jatim Park 1 dan Jatim Park 2. Karena waktu terbatas kami hanya mengunjungi Jatim Park 2. Jatim Park 2 ini terbagi menjadi 3 area: Eco Green Park, Museum Satwa dan Secreet Zoo. Saat itu kami membeli tiket terusan untuk ketiga tempat ini seharga Rp. 120.000 per orang. Jauh lebih murah membeli tiket terusan daripada tiket satuan. Tiket terusan yang kita beli tadi akan diberikan dalam bentuk gelang tangan yang ada sensor barcode-nya. Anda harus pintar membagi waktu supaya bisa mengunjungi ketiga tempat ini dalam satu hari karena area Jatim Park 2 ini luas banget, sekitar 14 hektar! Saat di Batu, cuaca tidak sedang bersahabat, sering turun hujan. Walaupun dari pihak Jatim Park sudah menyediakan ponco plastik tipis tapi tetap saja jadi susah foto-foto (penting ini!). Jadi harap maklum kalau foto yang saya tampilkan disini sedikit ya. Disarankan untuk membawa payung dan jaket sendiri saat ke tempat ini. Start awalnya kami mulai dari Eco Green Park. Di Eco Green Park banyak diajarkan tentang menghargai dan menjaga lingkungan sekitar kita. Misal mendaur ulang sampah kemasan, simulasi efek yang akan terjadi kalau kita tidak menjaga lingkungan kita, dll. Bagus deh untuk sarana pembelajaran anak-anak / generasi muda untuk lebih peduli dengan lingkungan. Oya, ada pembelajaran tentang budaya Indonesia juga. Selesai dari tempat ini kami menuju Secret Zoo. Kebun binatang ini sangat bersih, rapi dan terawat. Hewannya juga sehat-sehat. Disini kita dikenalkan dengan berbagai macam satwa dalam dan luar negeri. Terakhir Kami mengunjungi Museum Satwa. Eksterior museum ini sungguh keren dengan bentuk pilar-pilar kayak di Lincoln Memorial, Washington D.C, dengan patung gajahnya. Museum ini isinya replika-replika satwa yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya dan dipajang di ruangan kaca. Di dekat puntu masuk ada replika fosil dinosaurus lho!  Ada beberapa spot foto 3 dimensi juga di museum ini. Oya, di setiap tempat, Eco Green Park, Secret Zoo, Museum Satwa ada banyak kantin dan stand jualan makanan. Harganya pun masih terjangkau lho.. semuanya dibawah 50 ribu per item, jadi jangan takut kelaparan, hehe.

Gelang Tiket Terusan
Gelang Tiket Terusan
Eco Green Park
Eco Green Park

Batu Secreet Zoo

Museum Satwa Tampak Depan
Museum Satwa Tampak Depan

Museum Satwa

Replika Fosil DInasaurus
Replika Fosil DInasaurus
3D Art di Museum Satwa
3D Art di Museum Satwa

Malamnya Kami pergi ke Batu Night Spectacular (BNS), salah satu taman rekreasi keluarga di Batu, Malang. Tempat ini tidak seluas jatim Park 2 dan baru buka sore – malam hari. Harga tiket masuk ke BNS saat itu adalah 25 ribu per orang. Harga tsb tidak termasuk tiket tiap wahana ya. Jadi kalau mau masuk tiap wahana ya bayar lagi sekitar 10 – 15 ribu per orang. Yang saya suka dari tempat ini adalah taman lampionnya! Cantik-cantik semua lampionnya dengan warna-warna yang menarik. Sayangnya karena pencahayaan yang kurang pas foto sama lampionnya jadi jelek fotonya, terlalu remang-remang, apalagi saat itu hujan terus. Disarankan untuk membawa payung dan jaket sendiri ya untuk melindungi diri dari hujan dan juga udara dingin. Setelah dari taman lampion, kami mampir ke Trick Art Gallery yang isinya lukisan-lukisan 3D yang seakan-akan gambar hidup, cocok lah untuk yang hobi narsis, wkwkwk. Setelah itu kami makan di food court BNS, sekali lagi tempat ini pun harga makanannya murah-murah, ga nyampe 50 ribu per item. Setelah selesai di BNS kami pulang kembali ke hotel.

Love Lampion
Love Lampion
Eiffel Lampion
Eiffel Lampion
Tric Art Gallery
Tric Art Gallery

Tgl 27 Desember 2014

Karena kaki pegel habis muter-muter di Jatim Park 2 dan BNS kemarin, kami hari ini pergi ke tempat refleksi yang terkenal di Malang. Namanya Khayangan Reflexology (Jl. Welirang). Tempatnya kayak rumah jaman Belanda gitu dengan pernak-pernik tradisional. Kami ambil paket massage seluruh badan. Habis massage tubuh kembali rileks, eh dapat bonus kalender dan mug pula disini, hehe. Selesai massage kami makan di resto dekat situ, namanya Prambanan Sari. Makanannya kita pilih terus dipanasin lagi sama dia (kayak warung Ampera gitu lah),. Makanannya murah dan lumayan enak. Habis makan kita lanjut ke toko oleh oleh “Avia” (jl. Basuki Rahmat no. 5, Malang) untuk belanja oleh-oleh. Di toko Avia ini saya menemukan oleh-oleh khas surabaya yang lagi ngetrend yaitu almond crispy berbagai rasa! Langsung borong deh sekalian beli Pie Cap Mangkok khas Malang, dll. Selesai dari sini kita balik ke hotel untuk siap-siap ke resepsi kawinan teman saya di Hotel Harris Malang. Hotel Harris ini tidak terletak di kota Malangnya tapi sekitar 30 menit berkendaraan dari Kota Malang. Hotel Harris Malang ternyata bagus lhoo.. luas dan taman serta pool-nya bagus. Makanannya juga enak-enak disini. Selesai urusan resepsi kami langsung balik ke hotel.

Tanggal 28 Desember 2014

Sebelum ke airport kami menyempatin makan Cwie Mie Malang di Jl. Gajah Mada, rekomendasi dari teman saya. Lumayan enak, tampilannya mirip bakmie kalau di Jakarta atau Yamin kalau di Bandung. Setelah itu kami sempatin jalan-jalan ke Tugu Malang sebagai landmark-nya Kota Malang, kemudian langsung menuju airport untuk pulang ke Jakarta.

Taman di Tugu Malang
Taman di Tugu Malang

Contact:

Vinda – Travel Time (Rental Car): PIN BB 2B26FCB4, telp 08563542000

Memilih AC (Air Conditioner) di Rumah

Untuk emak-emak yang baru ngisi rumah, pasti pernah dong mengalami dilema memilih AC (Air Conditioner), ditambah pula dengan banyaknya merk yang beredar di pasaran dengan teknologi yang diunggulkan oleh masing-masing merk. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi saya, bukan karena disponsori oleh suatu merk atau toko ya. Berikut langkah-langkah memilih AC:

  • Ukur luas (panjang x lebar) dan tinggi ruangan yang akan dipasang AC. Perhatikan juga posisi ruangan apakah di lantai bawah atau atas, menghadap utara atau selatan atau barat atau timur. Hal ini akan berpengaruh terhadap rumus yang digunakan.
  • Tentukan kapasitas AC yang dibutuhkan dalam satuan BTU (British Thermal Unit). Besarnya kapasitas akan ditentukan oleh point 1 diatas. Gunakan rumus berikut:

Kebutuhan BTU = (L x W x H x I x E) / 60

L = Panjang Ruang (dalam feet)
W = Lebar Ruang (dalam feet)
I = Nilai 10 jika ruang berinsulasi (berada di lantai bawah, atau berhimpit dengan ruang lain). Nilai 18 jika ruang tidak berinsulasi (di lantai atas).
H = Tinggi Ruang (dalam feet)
E = Nilai 16 jika dinding terpanjang menghadap utara; nilai 17 jika menghadap timur; Nilai 18 jika menghadap selatan; dan nilai 20 jika menghadap barat ( bila jendela menhadap barat).

1 Meter = 3,28 Feet

Kapasitas AC berdasarkan PK:
AC ½ PK = ± 5.000 BTU/h
AC ¾ PK = ± 7.000 BTU/h
AC 1 PK = ± 9.000 BTU/h
AC 1½ PK = ±12.000 BTU/h
AC 2 PK = ±18.000 BTU/h

Contoh Perhitungan:
Ruang berukuran 5m x 5m atau (16 kaki x 16 kaki), tinggi ruangan 3m (10 kaki) berinsulasi (berhimpit dg ruangan lain), dinding panjang menghadap ke timur. Kebutuhan BTU = (16 x 16 x 10 x 10 x 17) / 60 = 7.253 BTU alias cukup dengan AC ¾ PK.

  • Menentukan jenis AC. Berdasarkan jenisnya AC dibagi menjadi 3 jenis: Inverter, Standar dan Low-Watt. Inverter ini merupakan teknologi baru yang katanya lebih hemat dibandingkan yang lainnya, tapi penghematan ini baru berasa untuk jangka waktu penggunaan yang lama. Cara kerja inverter adalah pada saat suhu yang diinginkan sudah tercapai maka kompresor AC akan beristirahat sehingga tarikan listriknya turun. Nah kalau pintu ruangan kita sering buka-tutup artinya suhu ruangan yang diinginkan sulit tercapai sehingga kompresor akan terus bekerja dan tarikan listrik ga akan turun-turun. Atau bila AC kita penggunaannya hanya sebentar-bentar (misal tidur siang, pas ada tamu aja), maka penggunaan AC inverter ini ga akan berasa hematnya. Jadi ya jatuh-jatuhnya sama aja kayak AC standar. Selain itu AC inverter juga komponennya lebih mahal-mahal dari AC standar, jadi kalau rusak AC inverternya biayanya akan lebih mahal dari AC standar (untuk jenis kerusakan yang sama ya). AC low watt adalah AC standar yang direkayasa kompresornya sehingga tarikan listriknya lebih kecil, efeknya ya jadi lebih lambat / kurang dingin dibanding dengan AC standar (dibandingkan dengan PK yang sama). AC low watt ini banyak digunakan untuk rumah dengan daya listrik terbatas.
  • Menentukan Merk AC. Kalau soal ni memang harus banyak survei dan juga cari informasi. Dari yang saya baca, konon AC dengan fitur teknologi yang macam-macam (misal pakai anti bakteri atau anti virus, sensor, dll) itu lebih cepat bermasalah dibanding dengan AC standar yang cuma untuk mendinginkan udara saja. Logikanya sih semakin kompleks komponen di dalamnya ya kalau rusak semakin ribet benerinnya. Jadi saya lebih pilih yang jenis standar aja, karena kebetulan ga ada kebutuhan macam-macam juga. Kalau butuh fitur anti bakteri atau virus mungkin beli air purifier terpisah akan jauh lebih ngefek ya menurut saya. Di rumah saya menggunakan 2 merk AC: Daikin dan Mitsubishi Heavy Duty. Kenapa memilih kedua merk itu? Karena dari hasil survei kemana-mana 2 merk itu katanya yang bagus dan awet.
  • Toko tempat membeli AC. Saya prefer beli AC di toko AC langsung ya.. bukan di tempat yang menjual elektronik campuran (peralatan rumah tangga berbagai merk, mesin cuci, kulkas, dll). Sebenarnya kalau ga mau ribet ya tinggal beli di mall. Tapi menurut saya harga di mall jauh lebih mahal daripada beli langsung di toko yang menjual grosiran kayak di Glodok. AC juga punya harga grosir lho kaya beli baju aja ya, haha. Harganya (harga unit plus biaya install) memang lebih murah sekitar 500 ribu per unit dibanding di mall. Saya tau toko ini dari kakak ipar saya, katanya ayah suaminya yang kerja sebagai kontraktor langganan beli AC disini. Jadi cukup terpercaya lah. Nama tokonya Dunia Electric, lokasinya di Glodok dekat showroom Auto2000. Toko ini khusus jual AC aja. Ada penjualan secara online, tapi waktu itu saya prefer untuk beli langsung ke toko, apalagi saya langsung beli 3 unit AC buat di rumah. Kalau beli AC lebih dari 1 unit bisa nego untuk free delivery ke rumah. Harga AC di toko itu belum termasuk ongkos install ya. Jadi kalau kita mau pakai tukang lain untuk install-nya juga bisa. Tapi waktu itu sih saya minta tukang tokonya aja yang install-in di rumah, kena ongkos 500 ribu (sudah termasuk pipa AC panjang 5 meter).

Berikut review saya untuk 3 unit AC yang saya beli di Dunia Electric:

  1. AC Mitshubishi Heavy Industries SRK10CJV; 1 PK; 660 watt (tipe low watt); 10.000 BTU/h. Fitur: 3D auto, Natural Enzyme Filter, Natural Solar Filter, dan 24-ION. Fyi, untuk AC standar 1 PK itu biasa wattnya 800-900 watt dengan 9000 BTU/h aja. Nah ini? Mantap kan?! 660 watt tapi 10.000 BTU/h. Saya pakai di ruang tamu saya yang ukurannya 7,6 x 6,9 x 2,8 meter (panjang x lebar x tinggi), ga sampe 5 menit juga udah adem. Unit indoor dan outdoor ga berisik juga. Saya beli di Dunia Electric harga Rp. 3.700.000 per unit + Rp. 500.000 untuk ongkos install. Dari beli bulan Januari 2015 sampai sekarang belum ada masalah sama sekali.
  2. AC Daikin FT20HEV1; 3/4 PK; 540 watt; 6820 BTU/h. Sering disebut sebagai Daikin Cina karena memang dibuatnya dipabrik Cina dengan pengawasan standar Daikin. Daikin menyebut tipe ini sih tipe standar, tapi kalau dilihat dari watt-nya menurut saya ini kategori low watt juga deh. Standar untuk AC 3/4 PK biasanya 600an watt. Saya pakai AC ini untuk kamar tidur saya di lantai atas dengan ukuran 3,8 x 4 x 2,8 meter (panjang x lebar x tinggi). Dari beli bulan Januari 2015 sampai sekarang belum ada masalah sama sekali.dan dinginnya pas. Unit indoor dan outdoor juga hening-hening aja tuh, alias ga berisik. Saya beli di Dunia Electric Rp. 2.700.000 per unit + Rp. 500.000 untuk ongkos install.
  3. AC Daikin FT15HEV1; 1/2 PK; 320 watt; 4610 BTU/h. Disebut juga sebagai AC Daikin Cina seperti diatas. Saya pakai AC ini untuk kamar tidur tamu di lantai bawah dengan ukuran 3,8 x 3,3 x 2,8 meter (panjang x lebar x tinggi) pas aja dinginnya. Selama beli dari Januari 2015, masalah yang ditemukan adalah bocor halus di pipa instalasinya (padahal sama-sama install dari Dunia Electric, 2 bagus tapi 1 ada bocornya) sehingga freon habis dan tidak dingin. Setelah diganti instalasi pipanya dan diisi freon lagi baru deh bener. Saya beli di Dunia Electric Rp. 2.600.000 per unit + Rp. 500.000 untuk ongkos install. Unit indoor dan outdoor juga ga berisik.

Contact Dunia Electric:

Glodok Plaza Blok H / 12 A

Jl. Pinangsia Raya, Jakarta Barat

Telp: 021-6296264, 6280186, 6261323, 6011903

Fax: 021-6012231

Dokter Kulitku

Memiliki kulit yang sensitif memang susah banget perawatannya. Salah dikit bisa jadi merah, bersisik dan tentunya berjerawat. Ga gampang untuk memilih produk umum yang dijual di pasaran. So far malah belum nemu tuh produk pasaran yang bisa memenuhi harapan untuk kulit saya yang bermasalah ini, maksudnya disini seperti mengobati jerawat, menghilangkan bekas jerawat, mengecilkan pori, mencegah keriput, dll. Tipe kulit saya adalah oily, acne prone dan sensitif. Saat memilih produk khusus untuk jerawat maka kulit saya biasanya akan gampang merah, terkelupas, kering dan buntut-buntutnya jadi muncul jerawat. Kalau memilih produk khusus untuk kulit kering buntut-buntutnya kulit saya jadi bersisik dan kering, akhirnya muncul jerawat pula. Amannya memang harus pakai produk untuk kulit sensitif yang ringan di kulit tapi kebanyakan produk untuk kulit sensitif bawaannya melembabkan. Kalau kebanyakan pelembab juga di kulit saya bisa jadi jerawatan. Nah, serba salah kan?! Oleh karena itu daripada trial & error terus-terusan saya memutuskan pergi ke ahlinya aja deh, a.k.a dokter kulit. Ditambah lagi ternyata kata dokter kulit yang sekarang saya ada kecenderungan penyakit kulit Seborrhoic Dermatitis dengan gejala kulit terkelupas, merah-merah dan gatal. Penyebabnya banyak faktor, bisa dari paparan sinar matahari berlebih, minyak berlebihan di kulit, suhu dingin berlebihan, stress, dsb. Jadi makin rumit deh.

Berikut adalah rangkuman perjalanan dokter kulit saya sampai dengan sekarang:

  1. dr. Fattah Madani, SpKK, Erha Clinic, Cimanuk – Bandung (2001 – 2004). Pas pergi kesini jerawat saya agak parah karena faktor jerawat puber (hormonal). Disini dikasih obat minum dan juga krim pagi-malam. Harga produk berkisar 70 – 90 ribu per item. Hasil: jerawat berkurang tapi saya merasa kulit jadi lebih gampang merah dan lebih tipis (karena ada ritual home peeling setiap minggu). Dikarenakan saat itu masih mahasiswa dan harga erha ini lumayan mahal, jadi akhirnya saya stop dulu perawatannya. Stop perawatan ya muncul lagi deh jerawatnya.
  2. dr. Eva Mulia, Grogol (2004). Kesini karena direkomendasikan tante saya yang tinggal di Jakarta. Begitu datang langsung disuruh facial. Facialnya itu sakittt bangettt saudara-saudara! Karena alasan penyiksaan seperti itu saya ogah datang lagi kesini. Muka saya merah banget keluar dari sini.
  3. dr. Antonny Handoko, SpKK, Erha Clinic, Kemanggisan – Jakarta Barat (2005). Disini cuma bentar aja, 2 – 3 kali datang, karena berasa malas bolak-balik kos (Grogol) ke Kemanggisan untuk kontrol. Dokternya juga rada jutek kalau banyak tanya.
  4. dr. Inneke Meredith Susito, SpKK (2006 – 2007). Ibu dokter ini praktek juga di RS Sumber Waras, tapi saya lebih sering datang kontrol ke rumahnya di kawasan Greenvile. Dokternya baik, ga ngasih banyak obat dan ga mahal-mahal juga. Obat jerawatnya dalam bentuk racikan. Dia kasih resep racikan terus kita tebus obatnya di apotek. Jerawat membaik tapi ga kinclong gitu mukanya. Karena sibuk dengan kerjaan, lama-lama jadi malas kontrol lagi ke dokter ini.
  5. dr. Budi H. Widjaja, SpKK, Apotek Pecenongan (2007). Datang kesini karena direkomendasikan teman kos. Dokter ini produknya pake merk “Bless” yang juga dijual di pasaran. Entah karena ga cocok dengan “Bless” atau karena pas waktu itu air di kos / kantor buat cuci muka saya agak kotor, malah muncul jerawat gede-gede. Kata dokternya harus disuntik. Dengar kata suntik saya langsung kabur deh, selain karena alasan bolak-balik Grogol – Pecenongan itu jauh dan macet bikin malas kontrol. Kesini cuma 2 – 3 kali datang aja deh rasanya.
  6. dr. Freddy S. Hardjoko, SpKK (2010 – 2012). Dokter ini praktek di rumahnya jl.Kartini dan di RS Siloam Kebon Jeruk, yang keduanya jauh dari kos saya, baik waktu itu masih kos di Grogol dan apalagi saat sudah pindah kos ke Bintaro. Obat dan biaya dokternya mahal. Obatnya sekitar 80 – 100 ribu per item. Biaya dokter lebih murah kalau praktek di rumah dibanding dengan di RS. Jerawat membaik tapi kulit muka lebih berminyak rasanya kalau pake krim-krimnya.
  7. dr. Supijati, SpKK, Kreo – Ciledug (2012 – 2013). Kesini karena direkomendasikan teman dan ga gitu jauh dari kos saya di Bintaro (ada jalan pintasnya gitu menuju ke kliniknya). Kliniknya dari luar kurang meyakinkan (bukan bangunan mewah) tapi di dalamnya banyak yang ngantri. Biaya dokter dan obatnya murah-murah. Obat berkisar 30 – 60 ribu per item. Saya berhenti kontrol karena pindah ke Sorowako habis menikah. Di Sorowako ya paling cuma pakai cleanser dan obat jerawatnya aja. Ga pake krim-krim lagi.
  8. dr. Muljani Enggalhardjo, SpKK, Marbly Skin Care – Serpong, Tangerang (Feb 2015 – now). Mulai ke dokter kulit lagi setelah pindah ke kota lagi. Dokter ini juga praktek di RS Siloam Karawaci. Waktu itu saya kesini karena penyakit Seborrhoic saya yang sudah mengganggu (terkelupas, gatal dan merah, kadang suka saya garuk sampai berdarah / luka kulit mukanya). Sekalian deh perawatan jerawatnya. Ternyata dokter ini juga praktek di Marbly Skin Care (terletak di dalam bangunan Mom & Child Clinic di Gading Serpong). Obatnya hanya dijual di Marbly Skin Care, jadi lebih enak konsul kesini daripada di RS karena ujung-ujungnya kita disuruh tebus resep obat disini juga. Harga obat berkisar 50 – 115 ribu per item. Saat ini saya masih baru perawatan disini, jadi belum bisa review banyak, tapi yang saya rasakan selama perawatan disana adalah dokternya baik dan sabar, pengertian dengan pasien kalau lagi program hamil (ga dikasih obat yang keras dan ga dikasi obat minum), ga maksain kita harus treatment disana (facial, mikrodermabrasi, laser) tapi hanya merekomendasikan saja, kulit muka saya ga jadi merah dan terkelupas gitu, jerawat yang mendem bisa keluar dan kempes total. Jadi mungkin akan saya terusin deh perawatan disini. Mudah-mudahan hasilnya sesuai harapan.

Ternyata banyak juga ya daftarnya, hehe. Saya ke dokter kulit sih bukan untuk gaya-gayaan tapi karena kulit saya memang bermasalah. Kalau kulit saya ga bermasalah mungkin saya lebih pilih produk pasaran aja.. lebih hemat pastinya!

Bistik / Semur Daging Sapi

Resep Bistik / Semur adalah favoritnya orang indonesia. Bistik / Semur ini hanya bisa dijumpai di rumah, jarang ada yang jualan menu ini diluar. Makanya menu ini adalah salah satu menu rumahan andalan para ibu, hehe. Bikinnya gampang, ga pake ribet, rasanya enak pula! Kalau di rumah saya di Samarinda, menu ini disebut bistik, tapi kalau di Tangerang, daerah suami saya, disebutnya semur. Mungkin di daerah lain bisa jadi ada penamaan yang lain. Berikut resepnya:

Bahan:

  • 300 gram daging sapi (saya suka pakai daging has dalam atau daging buat rendang), potong sesuai selera
  • 1 buah kentang, potong dadu besar, goreng sampai berkulit
  • 5 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 1/2 biji pala
  • 2 butir telur, rebus sampai matang, kupas kulitnya
  • 1/2 – 1 sdt kaldu sapi bubuk
  • 400 ml air atau secukupnya untuk merebus daging sampai empuk
  • garam secukupnya (kalau sudah pakai kaldu bubuk, garamnya tidak usah terlalu banyak)
  • merica secukupnya
  • 4-5 sdm kecap manis

Cara Membuat:

  1. Tumis bawang merah dan putih dengan sedikit minyak sampai harum dan berubah warna jadi transparan.
  2. Masukkan daging sapi, tumis sampai berubah warna menjadi pucat.
  3. Tambahkan air. Masukkan pala, merica, garam, Rebus daging selama 15 menit.
  4. Masukkan kecap manis, aduk rata.
  5. Rebus daging kembali sampai empuk (+- 60 menit). Icipi rasanya, kalau ada yang kurang bisa disesuaikan bumbunya.
  6. Masukkan telur dan kentang, rebus lagi sebentar sekitar 10 menit. Airnya jangan sampai kering ya sisain sedikit untuk kuahnya. Angkat dan siap disajikan.

Lady Finger Untuk Layer Tiramisu

Niat untuk bikin tiramisu sebetulnya sudah lama ada, bahan-bahannya pun sudah dibeli, tapi belum ada nyali buatnya, hahaha. Alhasil kepikiran bikin Lady Finger-nya dulu deh untuk layer tiramisunya. Biar kalau sudah ada nyali dalam waktu dekat ini bisa coba bikin. Sebenarnya untuk tiramisu, selain Lady Finger bisa menggunakan Sponge Cake untuk layer-nya. Tapi saya sih merasa lebih original dan autentik kalau tiramisu pakai Lady Finger. Lady Finger ini kalau malas bikin bisa beli jadi di TBK, tapi bentuknya kayak kue lidah kucing gitu. Biasa kalau buat tiramisu cake, Lady Finger yang bentuk seperti itu dipakai untuk pagar sekeliling cake-nya dan disusun di loyang untuk layer tiramisunya. Nah kalau yang mau bikin tiramisu dalam bentuk cup, sepertinya harus berjuang sendiri ya karena harus custom ukuran Lady Finger-nya sesuai dengan ukuran cup-nya. Berikut resep Lady Finger yang saya ambil dari blog Hesti’s Kitchen. Tekstur adonan dengan resep ini cukup kental sehingga bisa di-spuit sesuai selera. Kalau saya sengaja membuat bentuk bundar karena menyesuaikan dengan bentuk cup.

Lady Finger

Bahan:

  • 3 butir kuning telur, kocok lepas.
  • 90 gram tepung terigu protein sedang, ayak.
  • 3 butir putih telur.
  • 75 gram gula pasir halus / gula castor, ayak.
  • 1 sdm tepung maizena, ayak.
  • 50 gram gula halus untuk taburan (kalau saya pakai secukupnya saja).

Cara Membuat:

  1. Kocok putih telur sampai berbusa. Masukkan sedikit demi sedikit gula pasir halus dan maizena sampai habis sambil terus dikocok. Kocok sampai adonan putih telur jadi kaku mengkilat.
  2. Masukkan kuning telur, aduk asal rata secara perlahan.
  3. Tambahkan tepung terigu, aduk balik asal rata. Jangan overmix karena adonan bisa turun kembali.
  4. Masukkan adonan ke dalam piping bag. Spuit sesuai selera diatas loyang yang sudah diolesi margarin dan tepung / dialasi silpat (lebih baik oles margarinnya agak tebal karena hasil kuenya akan cenderung lengket di loyang). Beri jarak satu sama lain (sekitar 2 cm) karena adonan akan sedikit mengembang.
  5. Masukkan tepung terigu sedikit demi sedikit, aduk rata.
  6. Panggang dalam oven dengan suhu 180 derajat celcius selama 10-15 menit, sampai tepi kue-nya berwarna kecoklatan. Angkat dan dinginkan.

Hasil jadi lady finger ini cukup banyak, bisa untuk 2-3 kali resep tiramisu NCC (1 resep menggunakan 250 keju mascarpone). Lady finger yang tidak langsung digunakan bisa disimpan terlebih dahulu di wadah kedap udara. Tekstur lady finger tidak sama seperti biskuit pada umumnya yang kering dan renyah lho ya. Kalau menurut saya sih lady finger ini teksturnya seperti perpaduan antara cake dan biskuit.

 

Puding Mentega

Saya awalnya mencari resep puding busa lapis kuning-coklat di internet seperti yang dibuat tante saya dulu ketika saya masih kecil. Ketemu gambar yang mirip penampakkannya, tapi bukan berupa puding busa karena ada campuran terigunya. Resep yang saya lihat itu adalah Puding Mentega, dan ternyata sempat populer dikalangan food blogger lainnya. Jadi memang saya aja ya yang ketinggalan, hehe. Better late than never lah ya. Review yang bagus membuat saya berniat mencoba resep ini. Dengan alasan pengiritan saya mengganti bahan menteganya dengan margarin, ternyata tetap enak lhoo! Harum dan lembut margarin gitu, tapi lebih padat karena ada kandungan terigunya. Dari segi rasa mirip dengan puding tante saya itu, hanya saja beda tekstur. Bagi yang penasaran bagaimana teksur puding mentega, silakan coba resep puding berikut ini yang saya ambil dari blog Dapur Bunda Dhafian

Bahan Puding Mentega:

  • 100 gram mentega (saya pakai margarin serbaguna blue band)
  • 1 butir telur
  • 1 sachet skm putih (40 gram, saya pakai merk indomilk)
  • 100 gram terigu (saya pakai tepung segitiga biru)
  • 1 bungkus agar-agar plain (saya pakai merk swallow globe)
  • 150 gram gula pasir (saya pakai 130 gram saja)
  • 1 sdt pasta vanili
  • 700 ml air

Cara Membuat:

  1. Mixer mentega sampai lembut kemudian masukan telur, skm,vanili, mixer sebentar lagi
  2. Masukkan terigu, aduk sampai rata, sisihkan.
  3. Masukkan dalam panci agar-agar, air dan gula masak sampai mendidih, matikan api
  4. Masukkan adonan mentega, kocok dengan mixer sampai rata
  5. Masak lagi sampai mengental,
  6. Tuang ke dalam loyang.

Bahan Puding Coklat:

  • 1 bungkus agar-agar plain (saya pakai merk swallow globe)
  • 150 gram gula pasir
  • 50 gram coklat bubuk (saya pakai merk bendico)
  • 700 ml air
  • 1 sdt garam
  • 1 sachet skm coklat (40 gram, saya pakai merk indomilk)

Cara Membuat:

  1. Campur semua bahan, masak sampai mendidih.
  2. Tuang di atas puding mentega, biarkan dingin. Sajikan.

Baru kali ini saya berhasil membuat puding lapis lho. Layernya menempel sempurna satu sama lainnya. Kalau dulu saya selalu aja gagal, entah jadinya lapisannya tercampur atau malah lepas satu sama lain, hiks. Sekarang saya sudah tau tekniknya. Semua tentang masalah timing, kapan mulai memasak lapisan kedua dan juga kapan boleh menuangkan lapisan berikutnya.

Mulailah masak lapisan agar-agar kedua setelah muncul lapisan tipis diatas permukaan agar-agar pertama. Agar-agar kedua baru boleh dituang saat lapisan agar-agar pertama sudah tidak lengket di jari tangan saat dipegang, walaupun saat itu agar-agarnya masih lembek dalamnya. Tuang perlahan dengan sendok, jangan sekaligus diguyur semua itu agar-agarnya, hehe. Kalau sudah terlanjur beku agar-agar pertamanya (alias telat nuangnya), diakalin dengan ditusuk-tusuk pakai tusuk gigi diseluruh permukaan agar-agar pertamanya (tusuknya jangan dalam-dalam ya, cuma sekedar untuk membuat lubang perekat untuk lapisan agar-agar berikutnya). Menunggu lapisan pertama dingin dan siap dituang lapisan berikutnya tidak perlu harus dimasukkan kulkas, diamkan suhu ruang aja. Ga lama pasti muncul lapisannya koq.

Brownies Pisang Kukus

Suami senang banget beli pisang kalau lagi groceries shopping, tapi sering kali pisangnya suka nyisa 2-3 buah, ga dihabiskan. Mau dibuang tapi sayang.. Eh pas browsing resep ketemu resep Brownies Pisang Kukus di blog JTT. Pisang yang nyisa di rumah (tapi masih bagus kualitasnya) langsung saya haluskan dengan garpu, sesuai resep. Eh ternyata hari itu ga keburu mau bikin brownies karena sibuk masak buat menu dinner. Alhasil pisang yang sudah dihaluskan tersebut saya simpan di freezer dulu. Besoknya mood untuk baking belum muncul juga, jadi pisangnya belum diapa-apain di freezer deh. Sampai seminggu kemudian saya mengumpulkan niat untuk membuat brownies pisang kukus ini. Awalnya sempat ragu juga, bakalan jadi sesuai ekspektasi ga ya hasil akhirnya dengan kondisi pisang yang sudah masuk freezer ini. Ternyata oh ternyata, hasil browniesnya tetap oke lho! Ah, saya senang banget. Browniesnya lembut dan nyoklat banget. Aroma rasa pisang juga terasa di tiap gigitan. Mirip kayak bolu pisang dengan rasa nyoklat banget sih kata saya. Brownies ini saya sajikan ketika adek saya datang ke rumah. Dia juga suka dengan rasanya. Sekali comot langsung 2 slice pula! hahaha. Bagi yang tidak punya mixer di rumah, tidak perlu khawatir karena kita cuma butuh whisker (spatula balon), spatula dan dandang / klakat untuk mengukus.

Berikut resepnya yang saya ambil dari blog JTT:

Bahan:
– 150 gram dark cooking chocolate / coklat hitam masak (saya pakai merk Collata)
– 125 gram gula pasir atau sesuai selera (jumlah gula akan bergantung dengan jenis & tingkat kematangan pisang yang digunakan)
– 3 sdm mentega/margarine suhu ruang
– 2 sdt vanilla extract atau 1/2 sdt vanili bubuk (jika menggunakan vanili bubuk, ayak bersama tepung terigu)
– 300 gram pisang ambon/cavendish/raja (kira-kira 2 1/2 – 3 buah), haluskan dengan garpu (saya pakai pisang cavendish Sunpride 3 buah)
– 2 butir telur ayam ukuran besar, kocok lepas
– 100 gram tepung terigu serba guna (saya pakai Segitiga Biru)
– 1/2 sdt baking powder, pastikan fresh, cek masa kedaluarsanya. Saya sarankan gunakan yang double acting. (saya pakai Hercules BPDA)
– 20 gram coklat bubuk, gunakan yang berkualitas baik (saya pakai merk Bendico)
– 1/2 sdt garam

Cara membuat:

  1. Siapkan loyang (saya pakai loyang bulat diameter 22 cm) olesi dengan mentega dan alasi bagian dasarnya dengan kertas minyak. Sisihkan.
  2. Siapkan mangkuk, masukkan tepung terigu, coklat bubuk, baking powder dan garam, aduk rata. Sisihkan.
  3. Siapkan mangkuk tahan panas (kaca atau alumunium), letakkan mangkuk diatas panci berisi air mendidih. Masukkan coklat blok ke mangkuk, dan panaskan dengan api kecil menggunakan teknik double-boiler (tim) hingga coklat meleleh. Angkat dari api.
  4. Aduk coklat dengan spatula balon hingga smooth, tambahkan gula pasir, mentega/margarine, dan vanilla ekstrak, aduk hingga semua bahan larut dan menjadi halus. Jika terlalu kental panaskan sebentar di panci berisi air mendidih hingga menjadi agak lumer.
  5. Tuangkan coklat leleh ke dalam mangkuk yang agak besar, masukkan puree pisang ke dalamnya, aduk rata. Tambahkan telur kocok, pastikan coklat tidak panas saat menambahkan telur agar telur tidak matang. Aduk hingga adonan halus.
  6. Masukkan tepung dalam tiga tahapan, aduk perlahan dengan spatula hingga rata.
  7. Tuangkan adonan ke dalam loyang, ratakan permukaannya.
  8. Masukkan ke dalam dandang kukusan yang airnya telah mendidih, tutup permukaan dandang dengan kain bersih yang menyerap air, tutup rapat dengan penutup kukusan.
  9. Kukus kue selama 45 – 50 menit atau hingga brownies matang dan tidak lengket saat di tusuk dengan lidi. Keluarkan dari dalam dandang.

Note: Gunakan api sedang saat mengukus, kondisi dandang air terisi banyak sehingga cukup untuk mengukus selama 50 menit. Jangan membuka penutup kukusan selama kue dimasak.

32 Years Old

Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang ke-32 tahun. Yup, ga nyangka deh uda tua begini.. Perasaan baru kemarin lulus kuliah trus gawe di Jakarta. Eh sekarang uda 32 tahun aja, ckck. Perubahan fisik menjadi 32 tahun yang saya rasakan adalah

  1. Mulai keliatan grey hair (uban) 1 helai yang langsung buru-buru saya cabut dengan shock-nya.
  2. Garis senyum bibir lebih kelihatan.
  3. Lebih gampang capek kalau beraktivitas (read: encok)
  4. Metabolisme badan sudah tidak seprima dulu. Dulu makan porsi kuli tetap kurus-kurus aja, tapi sekarang semua yang dimakan bisa jadi lemak, fiuh.

Memang usia ga bisa bohong deh.. Untung aja keriput belum keliatan ya ;p Tapi itulah tahapan yang harus kita lalui.. menjadi tua dan kemudian mati meninggalkan dunia ini. Saya beberapa kali membayangkan seperti apa saya saat tua nanti dengan keriput dimana-mana, rambut putih dan badan yang sudah renta. Trus ketika saya meninggal kelak, apa yang akan dikatakan orang-orang mengenai saya? Makanya saya selalu berusaha berbuat baik kapanpun ada kesempatan, karena kita tidak akan pernah tau sampai kapan usia kita di dunia ini.

Back to the topic, hari ini saya merayakan ultah hanya berdua saja dengan adek saya. Sang suami lagi ada kerjaan di luar kota, hiks. Ini kali ke-2 saya merayakan ultah tanpa didampingi suami karena suami sibuk dengan kerjaan di site. Walaupun suami di hutan Kal-Sel sana, tapi dia tetap bisa ngasih surprise buat istrinya ini lho. Ah saya jadi terharu. Tiba-tiba di siang bolong saya dapat kiriman Strawberry Cheese Cake dari Clairmont yang ternyata adalah dari sang suami. Tambah cintaaa dehh.. Cuma ukuran kue-nya terlalu besar deh ini, uk. 20 x 30 cm. Secara saya kan cuma sendirian di rumah, kapan habisnya tuh kue?! ckck. So, saya berniat untuk bagi-bagi kue ke saudara ipar saya yang tinggal dekat sini deh, hehe.

My Birthday Cake
                    My Birthday Cake

Me and My 'Lil Sis

Hari ini saya lalui dengan agenda nge-mall di Sumarecon Serpong bersama sang adek. Diawali dengan birthday lunch di The Duck King Restaurant (tentu saja harus pesan Mie Ulang Tahun, hihi), dilanjutkan shopping-shopping dan nyalon. Berhubung adek saya tinggalnya di Jakarta Barat jadi jam 6 sore kami udah bubar deh dari mall, biar ga kemalaman sampai rumah.

Special thanks untuk sang suami yang begitu perhatian, adek saya yang sudah setia mendampingi saya seharian, keluarga dan teman-teman semua yang sudah mengingat hari ini. Perhatian kalian sangat berarti untuk saya 🙂 Harapan yang belum terwujud di usia 32 tahun ini adalah memiliki seorang anak. Semoga saja umur 32 tahun ini membawa berkah untuk bisa memiliki anak. Amiin!