Kursus Mengemudi Mobil (Day 3 – 6)

Update lagi hasil kursus mengemudi mobil saya dengan Pak Jamal (Kursus “PURNAMA) di Tangerang. Kemarin-kemarin mau nulis updatenya tapi koq kayak ga gitu banyak yang bisa dishare, jadi ya sekalian aja deh updatenya nanti. Ga kerasa sekarang saya sudah memasuki day 6 kursus mengemudi mobil, artinya tinggal 2x pertemuan lagi sebelum kursus berakhir.

So far sih sudah lumayan lancar kalau jalan lurus, tapi perkiraan jarak kiri-kanan-depannya masih belum terlalu mantap, butuh banyak latihan dan jam terbang sih, hehe. Hari ini (Day 6) hampir keserempet tiang listrik di sudut kiri jalan pas ada belokan tajam karena belum bisa perkirain jarak depan mobilnya ;p Pak Jamal sudah ngelatih saya untuk survive di jalan-jalan perumahan kecil tadi (Daerah Bugel dan Sangiang, Tangerang). Bener-bener sport jantung deh jalannya saking kecilnya, ckck, jauh lebih kecil dari jalanan komplek perumahan saya. Kayaknya kalau sudah bisa nyetir sendiri saya juga ga mau deh bawa mobil di jalan sempit kayak gitu, biarlah pak suami aja yang lebih jago yang melalui medan jalanan sempit kayak gitu.. saya mainnya di jalan gede aja deh, wkwk. Soal ngangkat pedal kopling juga saya masih suka terlalu cepat, jadinya mesin mobil mati deh dan harus starter ulang. Susah juga ya kopling-koplingan ini, harus pakai perasaan juga kapan harus lepasnya dengan perlahan dan smooth. Untung saja tar mobil saya bukan yang manual tapi matic jadi bebas deh tuh dengan kopling-koplingan, hehe.

Rencananya selesai kursus saya mau latihan sama pak suami buat bawa mobil matic. Penyesuaian lagi lah dari mobil kursus yang manual ke mobil pribadi yang matic. Mudahan bisa segera lancar nyetirnya jadi kalau mau jalan-jalan kan ga perlu nunggu pak suami lagi. Tentu saja jalan-jalan yang dimaksud ini adalah yang jarak dekat aja ya, ga lebih dari 1 jam perjalanan mobil. Saya baru menyadari betapa pegelnya kaki nangkring di pedal gas selama 1 jam kursus tiap harinya. Habis turun mobil kayaknya pergelangan kaki jadi kencang, hahaha.

Berbelanja di IKEA Alam Sutera

IKEA Alam Sutera

Emak-emak tentu sudah tidak asing lagi dong dengan yang namanya IKEA. Mulai dari IKEA dibangun di Alam Sutera, orang-orang udah heboh aja dan ga sabar untuk bisa belanja disana. Hingga pada akhirnya 15 Oktober 2014 lalu IKEA Indonesia soft opening, semua berbondong-bondong ke Tangerang dalam rangka berbelanja di IKEA. Bagi orang yang pernah bilang “Saya belum pernah ke Tangerang” tapi sudah pernah mampir di IKEA, melalui ini saya beritakan bahwa Alam Sutera itu adalah bagian dari Tangerang lho saudara-saudara sekalian! Tepatnya di daerah Serpong, Tangerang Selatan.

Dikutip dari Wikipedia, IKEA adalah sebuah peritel perabot untuk rumah tangga dari Swedia. IKEA didirikan oleh Ingvar Kamprad tahun 1943.  IKEA adalah singkatan dari namanya, Ingvar Kamprad; tempat ia dilahirkan, Elmtaryd; dan desanya, Agunnaryd. Awalnya, IKEA menjual berbagai barang, dari pulpen, dompet, bingkai foto, hingga jam tangan. Perabotan mulai masuk ke dalam daftar pada 1947 dan IKEA mulai merancang sendiri pada 1955.  IKEA Alam Sutera merupakan toko ke-364 dan yang paling baru dari 46 negara di dunia. IKEA Alam Sutera ini berdiri diatas lahan seluas 35.000 meter persegi, termasuk sebuah restoran dengan 700 kursi dan lebih dari 1.000 ruang parkir

Saya dan suami berkesempatan untuk mampir ke IKEA ini pertama kalinya pas bulan November 2014. Pada waktu itu Kami memang lagi hunting furniture dan pernak pernik untuk rumah baru Kami. Saat kami berkunjung waktu itu, show room IKEA padat banget dengan pengunjung. Saking ramainya, parkir mobil sampai banyak yang diluar area toko. Bangunan toko memiliki 2 lantai, show room di lantai atas dan market hall (tempat belanja pernak-pernik), warehouse dan kasir ada di lantai bawah. Show room didesain sedemikian rupa seperti labirin sehingga customer akan berjalan sesuai arah yang ditentukan. Hal ini dimaksudkan supaya customer menjelajah ke seluruh bagian toko.

Showroom

IKEA menerapkan sistem belanja yang mandiri, suatu hal yang sangat tidak umum di Indonesia, dimana saat berbelanja di suatu tempat kita akan menerima pelayanan penuh. Semboyan “Pembeli adalah raja” sepertinya tidak berlaku di IKEA. Dari awal masuk kita diharapkan untuk bisa mandiri dengan mencatat nama dan kode lokasi dari barang yang kita inginkan. IKEA menyediakan kertas, pensil dan meteran kertas di beberapa titik toko untuk keperluan tersebut. Pelayan toko juga tidak terlalu banyak, jadi kita tidak bisa banyak bertanya tentang produk yang kita inginkan, tapi hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena IKEA memberikan keterangan yang jelas pada tiap tag produknya. Setelah berbelanja pun kita juga wajib untuk mengambil barang yang kita inginkan tersebut di warehouse berdasarkan kode lokasi yang telah kita catat. Selanjutnya kita membawa barang tersebut untuk antri bayar di kasir. Kasir tidak menyediakan kantong plastik selayaknya di swalayan lho ya, jadi sebaiknya kita bisa bawa tas belanjaan sendiri dari rumah. IKEA menyediakan tas belanjaan besar berwarna biru untuk dijual apabila kita membutuhkannya, tas ini dijual seharga Rp. 9.900 per buah. Untuk pernak pernik yang perlu diwrap, kita bisa wrap sendiri di meja yang telah disediakan. Hanya perabot / furniture yang sudah disediakan dalam bentuk packingan dus sehingga tidak perlu kita wrap lagi.

Perlu diketahui bahwa harga yang tercantum di IKEA belum termasuk ongkos kirim dan perakitan. Ongkos kirim ditentukan berdasarkan area pengiriman, ongkosnya mulai dari Rp. 280.000 per pengiriman. Untuk request pengiriman kita bisa mengurusnya di loket yang telah disediakan. Barang di IKEA didesain sesimpel mungkin supaya kita bisa merakitnya sendiri di rumah. Akan tetapi jika kita membutuhkan jasa perakitan IKEA, kita akan dikenakan charge 8,5% dari harga item yang ingin dirakit. Selengkapnya bisa dilihat di website IKEA http://www.ikea.com/id. Di website itu pula kita bisa melihat katalog barang dan ketersediaan stoknya yang diupdate setiap 4 jam sekali.

Capek berbelanja di IKEA? Silakan nongkrong di restorannya. Lagi-lagi di restoran ini kita diwajibkan untuk mandiri. Kita mengambil makanan yang kita inginkan dengan trolley nampan kemudian membayarnya di kasir. Kalau perlu memanaskan makanannya, disediakan microwave. Teh dan kopi silakan seduh sendiri, soft drink juga ambil sendiri. Setelah makanpun kita wajib membersihkan meja kita sendiri dan membawa trolley nampan kita ke tempat yang disediakan. Namun tidak jarang saya menemukan meja yang ditinggalkan dalam keadaan berantakan, mungkin karena culture di Indonesia kalau makan di restoran nanti mejanya dibersihkan oleh pelayannya.

Restoran IKEA menyediakan berbagai macam makanan, kebanyakan adalah makanan Swedia. Satu-satunya menu nusantara disana adalah Ayam Taliwang yang disajikan dengan nasi putih, sepertinya sih menu baru ya. Waktu itu saya memesan menu “Bola Daging Swedia dengan Saus Krim” dan suami memesan “Paha Ayam Panggang dengan Saus Dill”. Keduanya disajikan dengan mashed potato. Saya dan suami memang tidak terlalu suka western food jadi menurut kami ya rasanya biasa aja, ga istimewa gimana gitu, hehe. Mungkin kalau yang suka western food sih bisa jadi bilang enak ;p

Meja Restoran 2015321181946

Fasilitas lain di IKEA adalah loker dan penitipan anak. Loker dipinjamkan ke kita dengan jaminan KTP. Untuk meminjam loker bisa mendatangi meja informasi di lantai 1. Penitipan anak juga disediakan dengan time limit tertentu. Saat waktu penitipan sudah habis, nama kita akan dipanggil via operator untuk menjemput anak kita. Penitipan anak ini hanya untuk anak dengan tinggi badan 100 – 130 cm.

So, sudahkah kamu mengujungi IKEA? Perabotannya unik-unik lho konsepnya. Kalau udah kesana kalau ga inget budget sih udah borong sana-sini deh, wkwk. Makanya pak suami tuh selalu setia menggandeng istrinya, bukan sok romantis tapi takut istrinya kalap belanja, hahaha. Tulisan ini bukan tulisan berbayar ya, murni hasil review saya selama beberapa kali mengunjungi IKEA, secara orang Tangerang gitu lho.. ke IKEA mah ga gitu jauh ;p

Resep Ayam Taliwang & Plecing Kangkung

Pada saat di site suami mengeluhkan soal makanan yang disediakan di kantin cenderung berasa tawar, jadi saya pikir tidak ada salahnya memanjakan suami dengan masakan kesukaannya, yaitu masakan nusantara (masakan dengan cita rasa rempah-rempah). Saat mencari ide menu apa, tiba-tiba saya kepikiran dengan Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung. Ketika liburan di Lombok tahun 2014 lalu, kami sempat mencicipi hidangan Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung di salah satu restoran yang terkenal di Lombok, yaitu Lesehan Taliwang Irama. Rasa pedas yang dicampur dengan sedikit aroma khas kencur membuat makan menjadi tambah lahap ;p

Pada saat di Tangerang dan sedang jalan-jalan di mall, kami melihat salah satu counter di food court yang menjual Ayam Taliwang. Karena ingin mencoba mengulangi kenikmatan makan Ayam Taliwang di Lombok dulu, kami akhirnya mencoba makan di food court tersebut dan ternyata rasanya sangat mengecewakan, tidak terlalu pedas dan cenderung tawar. Ga mau lagi deh makan disana…

Akhirnya Jumat kemarin setelah mengumpulkan niat dan browsing resep sana-sini, saya memasak Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung dalam rangka menyambut kedatangan sang suami dari site dan mengobati rasa kangen dengan masakan khas Lombok ini. Resep saya ambil dari blog Diah Didi’s Kitchen. Kenapa harus dari resepnya Mba Diah? Karena pengalaman saya mencoba resep Mba Diah sih enak-enak ya, cocok dengan selera saya 😉 Berikut resepnya yang sudah saya modifikasi sedikit:

Ayam Taliwang

AYAM TALIWANG

Bahan:

  • 1 ekor ayam kampung muda
  • 250 ml air (kalau masih kurang bisa ditambahkan lagi)
  • 1/2 sdm gula merah
  • Garam secukupnya
  • Minyak Goreng secukupnya untuk menumis

Bumbu Halus:

  • 5 buah cabe merah besar
  • 6 buah cabe rawit (kalau tidak suka terlalu pedas bisa dikurangi)
  • 6 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 3 butir kemiri, sangrai
  • 1 cm kencur
  • 1 sdt terasi goreng
  • 1 buah tomat

Cara Membuat:

  1. Tumis bumbu halus sampai harum
  2. Masukkan ayam dan air, aduk rata, ungkep sampai air habis dan bumbu mengental (atau sampai ayam jadi empuk). Angkat dan dinginkan.
  3. Panggang / Bakar ayam (karena tidak ada bakaran arang, saya pake wajan anti lengket aja). Oles sisa bumbu ungkepan ke ayam sebelum dibakar

Plecing Kangkung

PLECING KANGKUNG

Bahan:

  • 1 ikat kangkung
  • Tauge panjang, kalau suka, boleh dipakai atau tidak
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya
  • 1 buah jeruk limau, belah dua (karena ga punya jadinya saya ganti jeruk nipis aja)
  • Minyak goreng secukupnya untuk menumis
  • 50 ml air

Bumbu Halus:

  • 6 buah cabe merah keriting
  • 5 buah cabe rawit
  • 1 sdt terasi, bakar
  • 6 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 2 cm kencur
  • 1 buah tomat

Cara Membuat:

  1. Didihkan air dan garam, masukkan kangkung. Masak sampai kangkung layu. Angkat dan tiriskan. Siram dengan air es (supaya warna kangkung tidak menghitam)
  2. Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan garam, gula dan air jeruk limau. Aduk rata. Tuang air. Masak sampai meresap.
  3. Sajikan kangkung beserta sambalnya

Dikarenakan saya tidak terlalu menguasai teknik memanggang diatas teflon, alhasil ayamnya tidak rata bakarannya, ada yang hitam ada yang pucat, wkwk. Tapi soal rasa jangan ditanya.. enakkk! Suami dan saya makan dengan lahap dengan cucuran keringat dan air mata saking pedasnya.. tapi pedasnya ini yang bikin nagih lho 😉

Ada tips dari saya untuk orang yang pemalesan kayak saya ini. Saat bikin plecing kangkungnya, saya ga halusin bumbu lagi, tapi pakai sisa bumbu sambal ungkepan Ayam Taliwang yang sudah mengental itu. Kalau dilihat kan memang bumbu halusnya mirip-mirip aja satu sama lain. Justru lebih enak dari sisa bumbu ungkepan ayam itu karena kan sudah mengandung gurihnya kaldu ayam 🙂 (padahal aslinya karena males aja ngehalusin bumbu lagi, hahaha). Makanya ga heran kalau orang bilang temannya makan Ayam Taliwang adalah Plecing Kangkung, karena buat saya ya bumbunya bisa disharing pas masaknya, hihihi.